Menu

BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Capai 5,2 Persen, Kenaikan Didominasi Komponen Ekspor

  Dibaca : 115 kali
BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Capai 5,2 Persen, Kenaikan Didominasi Komponen Ekspor
PELATIHAN— Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Sumbar Endy Dwi Tjahjono, berfoto bersama dengan belasan wartawan asal Sumbar dalam rangka pelatihan wartawan ekonomi bisnis.

YOGYAKARTA, METRO – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatra Barat mencatat pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) di tahun 2018 lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi secara nasional. Namun, pertumbuhan di tahun ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi Sumbar di tahun 2016 dan 2017.

Selain itu, BI Sumbar memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat secara kumulatif 2018 akan bertengger di rentang 4,8 persen hingga 5,2 persen. Meskipun angka proyeksi BI tersebut sedikit lebih rendah dibanding realisasi pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat pada 2017 lalu sebesar 5,29 persen. Sementara khusus untuk kuartal IV, ekonomi Sumbar diyakini bisa tumbuh 5,0 persen – 5,4 persen.

Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Sumbar, Bimo Epyanto menyebutkan, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar masih didominasi oleh komponen ekspor. Sumatera Barat merupakan provinsi yang bergantung pada komoditas ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan karet.

“Pada kuartal III 2018, komponen ekspor mampu tumbuh paling tinggi sebesar 8,41 persen setelah sempat mengalami kontraksi pada kuartal sebelumnya. Faktor yang mendongkrak pertumbuhan Sumbar, perbaikan ekonomi India dan AS. Ya itu tadi, CPO sebagian besar diekspor ke India, AS, dan Eropa,” jelas Bimo di sela pelatihan wartawan di Yogyakarta, Kamis (15/11).

Bimo berharap Pemprov Sumbar mampu menumbuhkan sektor produktif yang mampu menggerakkan perekonomian di luar ekspor dua komoditas tadi. Menurutnya, dibangunnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mentawai dan Mandeh merupakan terobosan bagi pemeritah untuk menumbuhkan sentra ekonomi baru. Dari sana, lanjutnya, ekonomi bisa tumbuh dari sisi investasi dan menggerakkan daya beli masyarakat.

“Saat ini, ekonomi Sumbar sejauh ini masih bertumpu pada sektor yang konsumtif, sehingga kecenderungan pertumbuhannya tidak berkelanjutan. Sektor konsumtif, seperti pertanian, perdagangan dan siaanya manufaktur. Seharusnya kedepan ditingkatkan sektor produktif agar kecenderungan ekonomi lebih baik,” ungkapnya.

Bimo menjelaskan selain itu, UMKM yang ada di Sumbar sudah seharusnya terus didorong agar tidak memiliki pasar yang hanya di wilayah Sumbar. Sehingga UMKM tidak terjebak lagi dalam sektor konaumtif. Jika memiliki pasar keluar Sumbar, tentunya akan menciptakan nilai tambah untuk menjadi produktif.

“Dari hasil survey, peringkat daya saing investasi Sumbar mersot tajam, dari peringkat ke 15 di tahun 2017, ke peringkat 24 di tahun 2018. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian dan kajian lebih mendalam. Selain itu, 80 persen komoditas ekspor Sumbar hanya bergantung pada komoditas CPO dan karet. Untuk itu perlu dilakukan peningakatan diversifikasi dan hilirisasi produk, agar menambah value added produk komoditas ekspor agar petumbuhan ekonomi terus meningkat,” jelas Bimo.

Pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat mulai menunjukkan pemulihan di kuartal III 2018, setelah menunjukkan perlambatan sejak 2016. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, angka pertumbuhan Sumbar di kuartal III 2018 sebesar 5,24 persen (tahun ke tahun / yoy). Angka ini lebih tinggi dibading capaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,17 persen di kuartal ini.

Laju pertumbuhan Sumbar kali ini juga masih lebih tinggi dibanding raihan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I dan II tahun 2018 masing-masing sebesar 4,69 persen dan 5,09 persen (yoy). Meski begitu, pertumbuhan ekonomi kuartal ini masih lebih rendah dibanding capaian kuartal yang sama tahun 2017 lalu, sebesar 5,37 persen (yoy).

“Ini didukung konsumsi sapi potong yang tinggi saat kurban, produksi CPO yang naik, produksi semen yang tumbuh, serta permintaan transportasi yang masih tinggi selepas Lebaran hingga Idul Adha,” jelas Kepala BPS Sumbar Sukardi.

Secara umum, sumber pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan porsi 52,25 persen atau lebih dari separuh struktur PDRB. Dari angka pertumbuhan 5,25 persen pada kuartal III 2018, konsumsi rumah tangga menyumbang 2,41 persen. Sisanya diisi oleh investasi, konsumsi pemerintah, ekspor, impor, dan konsumsi LNPRT. (rgr)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional