Close

Berusia 58 Tahun, Laksma TNI Hargianto Rayakan dengan Sopir dan Pedagang, ”Stokar Angkot itu kini jadi Komandan Lantamal”

MAKAN BERSAMA SOPIR DAN PEDAGANG— Danlantamal II Laksma TNI Hargianto SE, MM, Msi, (Han) bersama mantan Wali Kota Padang Fauzi Bahar merayakan HUT ke-58 dengan makan-makan dengan para pedagang, sopir angkot dan pengunjung pasar, di kawasan kuliner Air Mancur Pasar Raya Padang, Jumat (22/10).

PASAR RAYA, METRO–Jumat (22/10), Komandan Pangka­lan Utama Angkatan Laut (Danlan­tamal II) Laksma TNI Hargianto SE, MM, Msi, (Han) genap berusia 58 tahun. Untuk merayakannya, pria asal Cingkariang, Banuhampu, Agam, kelahiran 22 Okto­ber 1963 ini, mengajak so­pir angkot di Kota Padang, pedagang dan bahkan pe­ngunjung Pasar Raya yang saat itu berada di kompleks kuliner Air Mancur,  untuk makan bersama di pe­da­gang kaki lima.

Keakraban tiba-tiba berlangsung datang secara mendadak. Berbaur dengan para sopir, karnet, pedagang kaki lima dan pengunjung di kuliner Minang Soto milik Thamrin (70), dan Soto Padang milik Sari (24). Bahkan para seniman jalannya ikut nimbrung memeriahkan perayaan yang berlangsung sederhana itu.

“Alhamdulillah, saya bisa berbaur dengan warga Kota Padang untuk merayakan haru kelahiran saya yang ke-58 tahun ini,” ujar Hargianto, didampingi mantan Wako Padang Fauzi Bahar.

Dikatakan orang nomor satu di TNI AL yang memiliki wilayah kerja Beng­kulu, Padang dan Sibolga itu, masa kecil dirinya tidaklah mulus. Anak purnawirawan TNI Angkatan Darat (AD) yang memiliki tujuh bersaudara ini, Hargianto merupakan anak kelima tersebut, bercerita panjang lebar kepada para sopir angkot, PKL, seniman jalanan dan pengunjung.

Bahkan, saat SD kelas IV ia menjadi kernet angkot di Jambi dengan nama PO Agam.

Dari ketek ambo lah mera­sa­kan pahitnya hidup. Namun tak patah arang. Hidup bagi saya adalah indah dan harus dilalui dengan bekerja keras,” katanya.

“Pulang sekolah, saya sudah menjalankan aktivitas bersama ayah saya dulu. Dari usaha itu, saya mendapatkan duit sedikit demi sedikit untuk dita­bung. Namun profesi itu saya lalui dengan senang hati,” imbuhnya.

Sejak sang ayah, Kopral Bahar St Baheram si sopir PO Agam di Jambi . Lahir di Jambi, dan mengisi ma­sa kecil dengan kehidupan berat, sampai menjadi sto­kar (kernet) angkutan kota sambil tetap sekolah dari SD hingga SMP.

Ikhwal lahir di Jambi ini, tidak lepas dari perjalanan sejarah Sumbar. Ayahnya seorang tentara berpang­kat Kopral, saat PRRI tiba, harus keluar kesatuan dan merantau di Jambi.

Tetapi setelah SMA, Hargianto pulang ke Sumbar dan menamatkan se­kolah menengah atasnya di SMA 3 Bukittinggi dan kemudian masuk Akabri, tamat 18 Juli 1987 dan kemudian menghantarkan dirinya menjadi seorang Jenderal bintang satu.

Setelah sukses melalang buana, Hargianto pun dipercaya pimpinan TNI Angkatan Laut sebagai Komandan Lantamal, sudah dapat dipastikan bahwa perjalanan karir Hargianto di TNI AL sudah dimulai sejak dirinya menjalani pendidikan militer di Akabri dan tamat pada tahun 1987.

“Kenapa saya ceritakan pengalaman hidup sa­ya ini?. Ini adalah untuk memotivasi generasi millennial Sumbar untuk ber­karya. Jangan patang arang, tunjukan identitas kita, kelak akan berhasil,” sebutnya.

Sementara itu mantan Wali Kota Padang Purnawiran Letkol Laut (P) Fauzi Bahar mengaku, dirinya sangat menghargai Hargianto. “Yang menarik bagi saya dari seorang Hargianto bukanlah perjalanan karirnya, namun pola pikir, pola tindak dan sikap akhir­nya terhadap satu masa­lah,” ulas Fauzi Bahar.

“Pertama, saya tertarik dengan cara berkomunikasinya yang enak dan mengalir. Apapun yang dibahas mengalir dengan cepat. Dan, ini yang saya kagumi, setiap memfinalisasi satu pembicaraan pasti endingnya tepat”.

“Saya mengagumi cara Hargianto mengurai ma­salah dan kemudian mengambil kesimpulan,” lugas Fauzi Bahar. (ped)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top