Close

Bertahan dan Bangkit di Tengah Pandemi Covid-19, UMKM Rumah Dagang, Padang Besi Sukses Budidayakan Puyuh Petelur

DIBANGUN sejak Agustus 2019 lalu, UMKM Rumah Dagang yang membudidayakan puyuh petelur sukses bertahan di tengah pandemi Covid-19. Telur puyuh yang dihasilkan setiap hari dijual secara door to door ke warung-warung warga di Lubukkilangan.

TAHUN ini, seluruh ke­giatan usaha masih bergerak dalam suasana pandemi Covid-19. Semua sektor usaha dipak­sa untuk bertahan di tengah pendemi yang sudah berlang­sung sejak akhir Maret 2020 lalu. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha, karena dituntut untuk berinovasi dalam usaha agar dapat ber­tahan dan ber­adaptasi di masa pandemi.

Tidak banyak bidang usa­ha yang berhasil survive di tengah pandemi saat ini. Strategi jitu diperlukan pelaku UMKM dalam menghadapi persaingan ketat dari para kompetitor dalam penjualan produknya. Seluruh proses produksi dan mana­jemen usaha perlu diperkuat.

Telur puyuh yang diambil setiap pagi. Telur ini dijual dalam kotak yang berisi 20 butir ke warung-warung di Kecamatan Lubukkilangan.

Dan, di tengah pandemi ini, UMKM Rumah Dagang yang dikelola Forum Nagari Kelu­rahan Padang Besi, Kecamatan Lubukkilangan, Kota Padang, sukses untuk survive. UMKM di bidang budidaya puyuh petelur yang berlokasi di RT07/ RW03 Padang Be­si itu di awal pan­de­mi, sempat me­nga­lami ke­­sulitan men­jual telur ke pasar.

Selain har­ga mu­rah dan da­ya beli ma­syarakat me­nurun, pe­ngun­­jung pasar pun ber­ku­rang se­jak wa­bah Co­vid-19 melanda Kota Pa­dang, khu­susnya. Se­lama pan­demi, ba­nyak pengusaha yang gulung tikar akibat daya beli konsumen yang rendah. Namun tidak bagi UMKM Ru­mah Dagang. Mereka punya moto dan prinsip, setiap bisnis yang dijalankan pasti punya kendalanya masing-masing dan pasti ada jalan keluarnya.

Apalagi, prospek bisnis burung puyuh ini sangat men­janjikan. Untuk keluar dari pandemi ini, UMKM Rumah Dagang menjajakan telur pu­yuh dari warung ke warung di Kecamatan Lubukkilangan. “Saat ingin memulai suatu bisnis jangan pernah ragu akan kemampuan diri sendiri, terus kembangkan diri dan jangan kalah dari sebuah proses, karena tidak ada orang sukses tanpa melewati proses. Ter­puruk itu biasa. Namun, kita ha­rus bisa bangkit kembali dari keterpurukan itu,” sebut Ketua Forum Nagari Kelurahan Pa­dang Besi Armaigus, kepada POSMETRO.

Diceritakan Armaigus, awal berdirinya UMKM Rumah Da­gang yang bergerak di bidang budi­daya puyuh petelur ini, karena ada lahan kosong dan letak­nya jauh dari pemukiman war­ga. Agus­tus 2019, akhirnya Ru­mah Dagang didirikan. Dan, ada lima orang yang mengelola langsung pe­ter­nak puyuh ini.

“Beternak puyuh ini prospeknya bagus. Meski ada kendala, seperti da­lam mendapatkan pakan. Saat ini, harga pakan pu­yuh cukup mahal, Rp330.000/karung. Al­ham­­dulilllah, kita punya solusi saat pakan mahal. Kita membuat sen­diri, dan ternyata cukup untuk menjadi penyeimbang saat harga pa­kan mahal di pasaran,” ungkap Ar­maigus.

Saat ini, jumlah puyuh yang mereka miliki berjumlah sekitar 1.000 ekor. Setiap hari puyuh akan bertelur rata-rata men­capai 1.300 butir. Mereka mengambil telur setiap pagi, kemudian membersihkannya. Selanjutnya, telur akan dipa­c­king dalam kotak-kotak untuk dijual. “Sekarang, kami menjual telur perkotak. Isinya 20 butir. Alhamdulillah, dalam satu hari bisa terjual antara 50-60 kotak,” katanya.

“Jika sebelum pandemi, kami menjual telur puyuh ke Pasar Bandabuek. Namun, cara itu ditukar. Sekarang, jemput bola, atau langsung menjajakan dan mena­warkan puyuh ke sejum­lah warung. Namun, ma­sih ada juga yang dijual ke pasar,” ulas Armaigus.

Setelah 1,5 tahun mem­budidayakan puyuh petelur, di tahun pertama mereka bisa men­dapatkan laba mencapai Rp8 juta. Dan hasil laba sesuai kesepakatan dibuat kan­dang ayam. Langkah ini diambil agar UMKM Ru­mah Dagang bisa ber­kembang.

“Kami ingin betul-betul bisa mengembangkan usaha ekonomi kreatif ini. Warga sekitar ikut terlibat, bisa meng­hasilkan uang. Awalnya, puyuh petelur, lalu dikem­bangkan dengan peternakan ayam kampung dan juga lele. Saat ini, menurut Armaigus, mereka sudah berhasil memiliki 200 ekor ayam kampung dan setiap hari bisa bertelur.

“Awalnya kami dibantu dari dana murni CSR PT Semen Padang. Alhamdulillah, 1,5 tahun bisa ber­kembang. Ada lima penge­lola­nya, yakni Dar­ni (Bendahara Forum), Vivi (Pok­ja), Rah­ma (warga), Ya­ni (warga), Ujang (warga yang mem­ban­tu pema­saran telur). Progres­nya baik. Kami ingin jangka panjangnya, selain mengembangkan puyuh pete­lur juga ada ternak ayam kam­pung dan lele.

Harapannya, warga sekitar yang hidup dalam kemiskinan bisa bangkit dan mandiri. Itu impiannya,” tutur Armaigus.

Dari UMKM Rumah Da­gang ini, tidak hanya mencari untung. UMKM ini juga ikut membantu anak-anak tidak mampu untuk biaya sekolah, pemberian zakat untuk warga miskin. “Kami senang dana CSR Semen Padang yang awalnya diberikan Rp45 juta bisa dikembangkan menjadi usaha produktif seperti ini. Apalagi, sekarang tengah pandemi. Dengan usaha ini kami bisa terbantu dan ber­dikari,” ulasnya.

Terakhir, untuk program jangan menengah dan pan­jang, UMKM ini berharap bisa membuat kan­dang puyuh yang lebih be­sar, berukuran 10×4 meter. Nan­ti di dalam kan­dang besar itu, ada lagi kan­dang-kandang kecil berjumlah 8. Jika semua terwujud, diha­rapkan masya­rakat di ring I PT Semen Padang mandiri dan tak tergantung lagi dengan peru­sahaan semen tersebut.

“Kami akui dana CSR Semen Padang sa­ngat mem­bantu. Dan, ka­mi ingin bantuan itu betul-betul bisa di­ra­sakan man­faat­nya oleh ma­syarakat sekitar. Karena itu, ha­ra­pannya, UMKM Rumah Dagang ini bisa menjadi usaha ekonomi produktif bidang peter­nakan, perikanan dan pertanian, pung­kasnya. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top