Menu

Bendi Tetap Eksis di Era Industri 4.0, Diminati Anak-anak hingga Pengantin

  Dibaca : 663 kali
Bendi Tetap Eksis di Era Industri 4.0, Diminati Anak-anak hingga Pengantin
FAVORIT ANAK-ANAK— Seorang kusir bendi bersiap untuk mengantar seorang anak dan ibunya untuk berkeliling Kota Padang, Sabtu (7/12), di depan kantor Balaikota Padang lama. Meski sudah tergerus dengan kemajuan zaman, namun para kusir bendi tetap eksis dan bertahan di tengah gempuran moda transportasi.

DI tengah gempuran alat transportasi modern, keberadaan bendi di Kota Padang masih tetap eksis. Bertahannya bendi ini patut disyukuri. Sebab keberadaannya sekarang masih bisa dinikmati generasi masa kini yang mau merasakan sensasi naik transportasi tradisional yang pernah jaya dimasanya itu.

Payin (58), kusir bendi yang masih tetap menggeluti profesinya sejak tahun 1980-an silam. Ini berarti, bapak empat anak sudah menjadi kusir bendi hampir 40 tahun.

Dulu, menurut Payin, bendi jadi transportasi yang diminati bagi masyarakat untuk pergi kemana saja di Kota Padang. Namun saat ini, ia lebih banyak melayani para ibu-ibu yang membawa anak-anaknya merasakan naik kuda dan berkeliling Kota Padang. Anak-anak, terutama yang masih balita, bahagia dan senang naik bendi yang ditarik oleh kuda ini.

Tidak itu saja, cerita Payin, ia juga melayani para wisatawan yang berkunjung ke Padang.

“Biasanya penumpang yang ramai itu cuma Sabtu dan Minggu,” ujar Payin yang sudah jadi kusir bendi sejak bujangan ini kepada POSMETRO, Sabtu (8/12).

Dengan kondisi saat ini ungkap Payin, sehari ia bisa mendapatkan penghasilan antara Rp50 ribu hingga Rp200 ribu. Itu semua tergantung dari ramai atau sepinya penumpang. Malahan seharian, ia tak bawa uang sepersenpun ke rumah.

Untung saja, rezekinya masih tetap mengalir dari orang-orang yang melangsungkan pesta pernikahan (baralek). Biasanya pihak pengantin akan menghubungi pimpinan para kusir bendi. Kemudian, ia dan kusir bendi lainnya akan dihubungi untuk ikut membawa rombongan keluarga pengantin secara beriringan.

“Bendi-bendi yang ikut dalam iringan pengantin ini, tidak semuanya masih aktif sebagai kusir bendi seperti saya. Mereka ada yang hanya aktif saat dipanggil untuk pesta pernikahan saja,” tandas Payin.

Payin mengungkapkan, dari acara baralek ini, ia mendapatkan uang sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu sekali sewa, tergantung lokasi yang dilalui. Bila masih seputaran pusat kota, ia bisa dapat uang Rp200 ribu. Namun bila agak jauh rutenya, ia bisa bawa pulang uang Rp250 ribu.

Di hari biasa, kata Payin, ia mangkal di Pasar Raya, dekat kantor Balai Kota lama. Terkadang ia mangkal di depan Museum Adityawarman, Pantai Padang atau di depan Plaza Andalas. Semuanya sangat tergantung, dimana terdapat masyarakat yang lagi ramai.

Payin mengungkapkan, dulu profesi sebagai kusir bendi ini, sangat membantunya dan keluarganya. Semua biaya pendidikan keempat anaknya dan kebutuhan rumah tangga adalah hasil dari menarik bendi .

Namun, saat ini pendapatannya sudah sangat jauh berkurang, tepatnya pascagempa 2009. Malahan warga Banuaran ini terpaksa menjual sepasang kudanya untuk biaya pernikahannya dua anaknya. Padahal, kedua kuda itu sangat berjasa terhadap dirinya dan keluarga selama ini.

Kudanya yang menemaninya saat ini, merupakan anak dari sepasang kuda yang dijualnya dulu.

“Sekarang anak saya sudah besar-besar. Saat ini masih ada dua anak saya yang belum menikah. Anak-anak saya tidak ada satupun yang mau jadi kusir bendi,” tukasnya.

Payin mulai beraktivitas mulai pukul 12.00 WIB hingga 19.00 WIB. Dulu saat masih ramai, ia bekerja pukul 08.00-14.00 WIB. Kemudian ia istirahat dan ganti kuda kedua dan kembali beraktifitas dari pukul 16.00 WIB hingga malam.

Kawan-kawan satu perjuangan dan seprofesinya dulu sebut Prayin, sudah banyak yang beralih profesi. Ada yang menjadi tukang ojek, menjual ikan dengan sepeda motor dan lainnya.

Ia sebenarnya ada keinginan juga untuk beralih profesi seperti rekan-rekannya. Namun hal itu belum terwujud karena ia sangat mencintai pekerjaannya saat ini.

Salah satu penumpang bendi, Ita sangat senang dengan masih bertahannya transportasi tersebut saat ini.

“Alhamdulillah, dengan adanya bendi saat ini, kita bisa memperkenal ke anak-anak kita. Anak-anak pun terlihat senang saat naik bendi ini,” sebutnya.

Ita berharap, bendi ini bisa tetap terus eksis di jalanan Kota Padang hingga dinikmati oleh generasi-generasi selanjutnya. Ia berharap, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap bendi-bendi tersebut dan mengelolanya secara profesional seperti di Yogyakarta. (**)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional