Menu

Bencong “Bunian” Meresahkan

  Dibaca : 2255 kali
Bencong “Bunian” Meresahkan
DIPERIKSA— Pol PP memeriksa waria dan dua perempuan yang berkeliaran hingga larut malam serta beberapa remaja yang masih berstatus pelajar di Kota Payakumbuh, Minggu (21/10) dini hari.

PAYAKUMBUH, METRO – Dua wanita pria (waria) dan dua perempuan yang berkeliaran hingga larut malam serta beberapa remaja yang masih berstatus pelajar tengah asyik main game di warnet, diamankan Tim 7 penegak peraturan daerah Kota Payakumbuh, Minggu (21/10) dini hari.

Tim memulai penertiban pada pukul 01.30 WIB. Sejumlah petugas berpakaian preman sempat mengejar dua waria yang biasa mangkal di kawasan Bunian dan Parak Batuang, Kecamatan Payakumbuh Utara. Satu orang ditangkap di kawasan Bunian beriniaial AA dan satu lagi diamankan di depan Apotik Medika Farma, Koto Baru berinisial MD.

Selanjutnya, sekitar jam 02.30 WIB, tim meluncur ke kawasan Pasar Ibuh. Di sana tim mengamankan dua pasang muda-mudi di dua lokasi yang berbeda. Satu pasang diamankan dalam kedai tuak yang sudah tutup dan sepasang lagi di tempat karaoke yang juga menjual tuak berjarak 50 meter dari lokasi pertama di kawasan Ibuh Timur.

Tidak puas dengan hal itu, tim menggerebek sebuah warnet dan game online di Simpang Benteng yang sebelumnya sudah diberi peringatan sebanyak tiga kali. Warnet ini, di samping tidak punya izin juga beroperasi 24 jam.

Saat digerebek, sebanyak 21 orang pemuda dan remaja lagi asyik bermain game online di tempat yang memiliki 35 unit komputer PC ini. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB dini hari.

“Khusus remaja yang masih berstatus pelajar SLTP dan SLTA kami bawa ke kantor Satpol PP, Bukit Sibaluik untuk didata dan diproses lebih lanjut,” ujar Kasatpol PP dan Damkar Kota Payakumbuh, Devitra.

Dikatakan Devitra, saat digerebek, pemilik Warnet tersebut tidak berada di tempat. Petugas kemudian berinisiatif mengontak pemilik. “Kita terpaksa membawa 1 unit komputer PC untuk dijadikan barang bukti pelanggaran pada proses penegakan hukum. Kita juga akan berkoordinasi dengan Badan Penanaman Modal & PTSP Kota Payakumbuh terkait rencana penyegelan Warnet sampai pemilik mengurus izin dan mematuhi jam operasional,” ujar Devitra.

Kepada waria alias bencong serta muda-mudi yang berkeliaran malam tersebut dipanggil keluarganya dan dilakukan pendataan serta membuat surat perjanjian. Apabila kembali melakukan hal yang sama, mereka akan direhabilitasi di bawah binaan Dinas Sosial. Sedangkan untuk pelajar yang bermain di Warnet sampai malam diserahkan oleh petugas Satpol PP ke orang tua masing masing setelah menandatangani surat perjanjian.

Ada yang menarik dari pengakuan sang ibu kandung bencong Bunian berinisial AA. Sang ibu yang juga beralamat di Bunian ini tidak menyalahkan anaknya, tetapi menyalahkan dirinya sendiri.

Sambil bersedih dan menyesali diri, dia menguraikan bahwa prilaku AA demikian dimulai ketika sang ibu hamil dan sangat berharap sekali melahirkan anak perempuan. Pakaian bayi yang disiapkan semuanya untuk menanti kedatangan anak perempuan.

Seperti tidak menerima takdir Allah yang lahir justru anak laki-laki. Namun ibu dari AA tetap memperlakukan anaknya sebagai seorang perempuan. Sang anak dipasangkan pakaian perempuan. Dari kecil rambutnya dipanjangkan dan biasa dikepang dua, sehingga tumbuhlah dia sampai sekarang berperilaku sebagai perempuan.

Berbeda dengan AA, MD mengaku untuk menghidupi ibunya yang sudah tua dan sering sakit-sakitan. Dia mengaku juga punya utang yang harus diangsurnya setiap hari. MD mengaku dari kecil sudah punya sifat keperempuanan.

“Bencong-bencong ini sudah meresahkan warga Payakumbuh. Kepada semua orang tua kami menyampaikan agar jangan salah dalam mendidik anak. Bimbinglah anggota keluarga kita dengan nilai-nilai agama yang benar, agar kita tidak menyesal di kemudian hari,” ajak Devitra. (us)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional