Close

Belasan Siswa dan Guru SLB A Payakumbuh, Belajar Bersama Bawaslu

PENJELASAN— Komisioner Bawaslu Suci Waldanis saat memberikan penjelasan terkait demokrasi, pemilu dan Pilkada kepada siswa dan guru SLB A Payakumbuh di kantor Bawaslu Kota Payakumbuh.

KUBUGDANG, METRO–Pemilu dan Pilkada serentak 2024 harus memberikan ruang yang sama kepada penyandang di­sabilitas. Tidak hanya proses mendapatkan informasi tentang tahapan pemilu dan calon peserta pemilu, tetapi lebih jauh juga akses di TPS saat memberikan hak suara. Karena Satu suara menentukan dalam sistim de­mokrasi.

“Kemarin KPU RI su­dah menetapkan dan melaunching hari pertama tahapan pemilu dan ini hari kedua. Saya bangga sekali kawan kawan datang kesini (Bawaslu.red) untuk mencari informasi tepat pada hari kedua pe­laksanaan tahapan pemilu. Dan dalam UU No 7 tahun 2017 tentang Pemilu, kawan -kawan mendapatkan akses yang sama,” ungkap Ketua Bawaslu Kota Payakumbuh, Muhammad Khadafi, di­dam­pingi Komisioner Bawaslu Koordinator Devisi Pengawasan Hubungan Masya­rakat dan Hubungan An­tar Lembaga, Suci Wildanis, saat menyambut kedatangan belasan siswa dan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) A Payakumbuh di Aula Pertemuan Kantor Bawaslu Kota Payakumbuh, Rabu (15/7).

Kedatangan Belasan siswa dan Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) A Payakumbuh kekantor Bawas­lu Kota Payakumbuh yang dipimpin langsung Kepala sekolah SLB A Payakumbuh, Rima Bur, S.TP, untuk belajar bersama Bawaslu tentang de­mo­krasi, serta akses bagi penyandang disabilitas pada tahapan dan pro­ses pemilu dan pilkada serentak 2024.

Pada kesempatan itu M.Khadafi, mengajak ka­wan-kawan penyandang disabilitas untuk bersama-sama mensukseskan pe­laksaan Pemilu dan Pilkada serentak tahun 2024. Selain itu, kawan-kawan disabilitas juga bisa me­lakukan pengawasan partisipatif terhadap proses pemilu dilingkungan sekitar dan sekolah masing-masing.

“Kehidupan berbangsa kita semakin baik, tentu dengan cara ikut berpartisipasi dalam memberikan hak suara untuk Pemilu dan Pilkada. Salah satu keunggulan pemilu kita kali ini adalah memberikan akses seluas luasnya kepada semua pihak termasuk Disabilitas. Ha­rapan kita keterpilihan pemimpin secara demo­krasi memenuhi aspektasi kita semuanya,” harap Khadafi.

Suci Wildani, dalam pemaparannya juga sempat berdiskusi dengan siswa penyandang disabi­litas terkait pengalamannya selama proses pemilu dan pilkada sebelum­nya. Pada kesempatan itu, masih banyak dikeluhkan terkait akses mendapatkan informasi dan kedatangan petugas pemilu untuk menyampaikan sosialisasi kerumah-rumah penyandang disabilitas yang hampir tidak ada.

“Teman teman adalah kelompok yang sangat istimewa yang mau datang untuk belajar dan berdiskusi terkait pemilu. UU No 7 tahun 2017 sudah ada pasalnya terkait Disabilitas. Aksesnya seperti di TPS sudah harus ramah dengan kawan kawan di­sabilitas,” ucap Suci Wil­danis.

Dia juga menyebut bah­wa Bawaslu adalah rumah bagi kita semua da­lam proses pengawasan pemilu. Seluruh warga negara Indonesia itu ha­rus dimasukkan dalam peserta pemilu. Dan petugas Pemilu harus datang ke rumah dan menyampaikan informasi tahapan pemilu kepada seluruh warga Indonesia tanpa terkecuali.

Dia juga mengingatkan agar kawan-kawan Disabilitas bisa berperan untuk mengawasi proses pelaksanaan Pemilu khu­sus terkait pelanggaran yang dialami kawan-ka­wan Disabilitas, seperti kampanye yang memaksa memilih salah satu calon tertentu.

“Bila ada yang datang kerumah atau sekolah untuk melakukan pemaksaan guna memilih salah satu calon, maka silakan laporkan. Poto, dan laporkan kepada Bawaslu. Ma­ka kami wajib menindak, bila nanti terpenuhi unsur pidananya maka ada gak kumdu yang akan melakukan proses hukumnya,” sebutnya. (uus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top