Menu

Bekas Tambang Emas Belanda Longsor, 9 Orang Tewas Tertimbun

  Dibaca : 587 kali
Bekas Tambang Emas Belanda Longsor, 9 Orang Tewas Tertimbun
MELAYAT— Plt Bupati Solsel H Abdul Rahman saat melayat ke rumah salah satu korban penambang emas yang tewas tertimbun di Jorong Talakiak Nagari RPC Kecamatan Sangir Batang Hari.

SOLSEL, METRO
Sembilan orang penambang tradisional di Jorong Talakiak, Nagari Ranah Pantai Cermin (RPC), Kecamatan Sangir Batang Hari (SBH) Kabupaten Solok Selatan tewas tertimbun di dalam lubang bekas tambang emas peninggalan zaman Belanda, Sabtu (18/4) sekitar pukul 17.00 WIB. Sementara, tiga orang berhasil menyelamatkan diri dari insiden maut tersebut.

Tertimbunnya sembilan penambang dadakan yang kesehariannya merupakan sebagai petani ini, membuat warga setempat menjadi buncah. Mendapat informasi itu, warga langsung berbondong-bondong mendatangi Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) untuk melakukan pertolongan.

Lokasinya yang jauh dari permukiman dan alat yang tidak memadai, warga beramai-ramai melakukan penggalian sehingga proses pencarian memakan waktu cukup lama. Hingga pukul 22.00 WIB, dua orang penambang Minan (61), Iril (40), berhasil ditemukan.

Kemudian, selang beberapa jam, jasad korban Husin (50), Jaja (26), Abu (45), Andi Abak (43), Dedi (32). Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari ditemukan lagi dua korban bernama Ipit (38) dan adiknya Buyung (36). Setelah ditemukan, seluruh korban kemudian dievakuasi dari lokasi tambang ke rumahnya masing-masing untuk disemayamkan.

Tokoh masyarakat setempat, Wilson, mengatakan, para penambang ini datang ke lokasi sebanyak 12 orang untuk mengambil material yang akan didulang pada sebuah lubang bekas tambang Belanda yang kedalamannya diperkirakan mencapai delapan meter.

“Dari 12 penambang itu, sembilan orang dinyatakan tertimbun, dan tiga lagi berhasil selamat dari tragedi naas yang mengakibatkan delapan laki dan satu perempuan meninggal tertimbun material longsor di lubang tambang emas,” kata Wilson kepada wartawan, Minggu (19/4).

Wilson menambahkan, mendapat informasi ada penambang yang tertimbun, warga langsung mendatangi lokasi untuk memberikan bantuan, namun karena dalamnya lobang dan terbatasnya alat, yang hanya berupa satu mesin dompeng, sehingga evakuasi berjalan lambat.

“Lokasi tambang itu jaraknya sekitar empat sampai lima kilometer dari dari pemukiman. Namun karena minimnya alat untuk proses penggalian, ditambah suasana gelap dan hujan, membuat evakuasi berjalan lambat. Baru sekitar pukul 22.00 WIB korban pertama berhasil ditemukan. Korban terkahir ditemukan sudah dinihari pukul 02.00 WIB,” ujar nya.

Wilson menjelaskan, mereka semua berasal dari dua Jorong di Nagari RPC. Korban Iril merupakan warga Jorong Talakiak. Sedangkan delapan korban lainnya yaitu, Menan, Dedi, Husin, Jaja, Buyuang, Abu, Yandi, dan Ipit, berasal dari Jorong Rawang, RPC.

“Kesembilan korban dikubur sendiri-sendiri dan tidak ada penguburan missal. Ada yang dikubur berdampingan karena ada ikatan keluarga. Ipit, Buyung dan Jaja 3 Kuburan berdekatan mereka adik kakak dan Jaja menantu. Sama dengan Minan dan Dedi kuburan berdampingan karena Anak dan Ayah,” ujar Wilson.

Sementara itu, Camat Sangir Batang Hari, Gurhanadi mengatakan, tim evakuasi menemukan seluruh jenazah korban tertimbun di lubang dengan kedalaman sekitar delapan meter.

Jenazah sembilan penambang itu sudah berada di rumah duka masing-masing saat ini. Banyak dari mereka yang merupakan sanak saudara.

“Mereka menambang secara tradisional di lokasi tambang emas peninggalan Belanda. Profesi mereka kesehariannya adalah petani, yang kemudian saat ini beralih mendulang emas. Hal itu mereka lakukan karena dampak pandemi corona yang membuat mereka mengalami kesulitan mencari uang,” sebut Camat.

Sementara itu, Kapolres Solsel AKBP Imam Yulisdianto juga mengungkapkan turut berduka atas musibah yang menimpa warga Nagari RPC, yang tewas akibat tertimbun longsor di lokasi tambang tradisional.

“Kami dari kepolisian, telah melakukan Olah TKP dimana sudah mengirim personel dipimpin Kasat Reskrim dan menjadikan lokasi itu status quo. Para penambang itu merupakan penambang tardisional memakai dulang karena tidak ditemukan alat berat di lokasi,” kata AKBP Imam.

Dijelaskan AKBP Imam, sulitnya ekonomi dan murahnya harga karet membuat mereka beralih dari petani menjadi menambang dengan tradisional memakai dulang. Sedangkan untuk jarak lokasi kejadian dari pemukiman sangat jauh dengan medan berbukit.

“Ke lokasi tidak bisa menggunakan sepeda motor dan berjalan kaki sekitar dua jam. Aktifitas penambangan emas di sana memang dipastikan ilegal. Yang jelas, kasus ini akan terus kita selidiki,” tegasnya.

Terpisah, Plt Bupati Solsel H Abdul Rahman mengatakan, pemerintah daerah mengucapkan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban yang meninggal akibat tertimbun material longsor di bekas tambang belanda. Dimana, sembilan orang warga meninggal di tambang tradisional peninggalan Belanda itu memiliki kekeluargaan.

“Itu tambang tradisional peninggalan Belanda, warga yang menambang secara tradisional menggunakan dulang tidak menggunakan alat berat. Dan di daerah ini memang sangat bekas lokasi tambang zaman Belanda,” kata Abdul Rahman

Dia mengatakan warga tersebut bukan penambang profesional, tetapi masyarakat yang sumber mata pencahariannya sebagai petani seperti karet, pinang dan kelapa sawit. Akibat dampak dari virus corona dan rendahnya harga hasil pertanian tersebut, membuat warganya mencoba peruntungan di lokasi tambang emas untuk memenuhi kebutuhan.

“Saat situasi sulit seperti saat ini, harga karet, pinang dan sawit turun, itulah yang membuat mereka melakukan penambangan emas untuk memenuhi kebutuhan mereka,”jelasnya.

Abdul Rahman menjelaskan, kejadian sembulan warga tewas tertimbun ini diduga akibat minimnya pengalaman dalam menambang emas, sehingga warga ini abai akan keselamatan mereka. “Bekerja secara tradisional tanpa pengalaman, bukti tradisional ada perempuan yang ikut, karena tidak berpengalaman sehingga musibah ini terjadi,” katanya.

Terhadap korban imbuhnya, secara pribadi pihaknya juga telah memberikan santunan dan akan diupayakan santunan berikutnya.

“Tadi sudah diberikan santunan, kami akan upayakan santunan berikutnya, kasihan banyak anak-anak menjadi yatim karena peristiwa ini,” katanya

Ke depannya, Abdul Rahman menegaskan, pihaknya akan melakukan pengawasan lokasi penambangan ini. Karena, meski menambang tradisional, tentunya hal yang membahayakan akan dilarang.

“Mereka tidak tahu, bahwa seperti ada retakan atau kedalaman galian yang aman untuk dimasuki. Pengawasan harus perlu, mengingat ini berbahaya, mereka tidak tahu akan ancaman karena mereka hanya penambang tradisional,” sebutnya. (afr)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional