Close

Batagak Kudo-Kudo Membangun Tradisi Adat di Padangpariaman

HADIRI BATAGAK KUDO-KUDO— Gubernur Sumbar H Mahyeldi ikut menghadiri acara batagak kudo-kudo didampingi Bupati Padangpariaman Suhatri Bur.

PDG.PARIAMAN, METRO–Batagak kudo-kudo a­dalah tradisi membangun yang dilengkapi dengan acara adat. Batagak kudo-kudo merupakan upacara ritual adat yang dilaksanakan dengan semangat kebersamaan, saat akan mem­bangun rumah pribadi, sarana umum dan tempat ibadah.

Berkaitan dengan itu, jemaah bersama pengurus dan panitia pembangunan Surau Lubuak Tajun Korong Sarang Gagak Nagari Pakandangan Kecamatan Anam Lingkuang, kemarin, menggelar Alek batagak kudo-kudo.

Acara Alek Batagak kudo-kudo Surau milik ka­um Sikumbang dibawah payuang sakaki dan karih nan sabilah Suhatri Bur Datuak Putiah ini, dihadiri Gubernur Suma­tera Barat Mahyeldi dan rombongan, Wakil Bupati Drs. Rahmang, MM., Sek­dakab. Rudi Repenaldi Rilis, SSTP. MM, Ketua ASITA Sumbar Darmawi, Kepala Cabang Bank Nagari Lubuk Alung Zulhelmi, Tokoh U­lama Sumatera Barat Buya H. Bagindo M. Leter, Niniak Mamak Ulakan MZ. Datuak Bungsu Rangkayo Rajo Mangkuto, Kepala Perangkat Daerah Kabupaten, Camat dan Wali Nagari serta tokoh ma­syarakat Nagari Pakandangan dan warga sekitar.

Bupati Padangpariaman Suhatri Bur Dt. Putiah selaku Sipangka Alek me­ng­ucapkan selamat datang kepada para undangan khususnya Bapak Gubernur Mahyeldi dan rombo­ngan di Surau kaum Sikumbang.

Suhatri Bur juga me­nyampaikan apresiasinya, terhadap rasa kekeluargaan yang terus dipertahankan oleh masyarakat sekitar surau. “Dengan batagak kudo-kudo ini, pem­bangu­nan rumah i­badah atau surau maupun rumah pribadi jadi lebih cepat selesai. Rasa kekeluargaan mem­buat masya­rakat sekitar bergotong-royong, mulai dalam hal dana, atap seng hingga pengerjaannya,” ujarnya.

Sementara Gubernur Mahyeldi juga menyambut baik pelaksanaan Alek ba­tagak kudo-kudo Surau ini. Karena bagi orang Minangkabau masa lalu, su­rau tak hanya digunakan untuk shalat dan belajar mengaji saja. Tetapi juga berfungsi sebagai tempat belajar ilmu beladiri silat bagi anak nagari berbagai suku. Bahkan dari surau banyak lahir generasi mu­da Minang yang sukses sebagai pemimpin bangsa.

“Dalam setiap Nagari, peranan Surau untuk mencetak kader ulama dan pemimpin di Sumatera Ba­rat memang sudah terbukti. Contohnya kebetulan hadir bersama kita, Buya H. Bagindo M. Leter. Umur beliau sudah lebih 90 tahun, tapi cara berfikir dan kemampuan menulisnya ma­sih stabil dan sehat. Ini fakta dari pendidikan surau yang beliau ikuti dahulu. Kita berharap, dari surau Lubuak Tajun ini akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan mengikuti jejak Bupati Suhatri Bur,” ujarnya.

Menurut Panitia Pembangunan, Arjon, Surau kaum Sikumbang ini mulai dibangun sejak tahun 2017. Dengan dana awal untuk pembangunan, dihimpun secara badoncek dari karib kerabat dan dunsanak suku Sikumbang dibawah pa­yuang Datuak Putiah ini.

“Saat ini kami telah menyelesaikan pembangunan Surau yang berukuran 12×12 meter ini, hingga tiang dan dinding. Untuk lanjutan pengerjaan atap, rangka menggunakan baja ringan dan atap memakai pola gotong royong secara adat yang dikenal dengan Alek batagak kudo-kudo,” jelas Arjon.

Sebagaimana diketa­hui, Surau merupakan sa­lah satu bangunan yang cukup penting bagi ma­syarakat Minangkabau. Keberadaan Surau bahkan sudah ada sejak Islam masuk ke wilayah Minangkabau, yaitu pada zaman Hindu-Budha. Surau digu­na­kan sebagai bangunan kebudayaan  dan adat, yang juga  dimanfaatkan sebagai  tempat ritual agama Hindu-Budha. Surau menjadi tempat untuk mempelajari adat, musyawarah,  dan membahas hal-hal yang dapat memberikan  solusi ideal terhadap problem sosial yang terjadi  dalam masyarakat.

Sebelum datangnya Islam, surau telah  menempati struktur sosial yang sangat penting  dalam masyarakat Minangkabau sehingga bangunan surau tidak diganti dengan bangunan simbol Islam, yaitu masjid. Surau ternyata tidak hanya ada di Minang, surau kemudian dibawa oleh perantau-perantau Minang ke tempat tinggal mereka yang baru. Ini di­karenakan surau merupakan institusi yang berfungsi untuk mengembangkan ni­lai-nilai moral agama dan bu­daya di Minangkabau. (efa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top