Close

Bank Nagari dan Pemko Sawahlunto Perangi Rentenir

LUNCURKAN PROGRAM ”MARANDANG”— Bank Nagari Cabang Sawahlunto bersama Pemko Sawahlunto meluncurkan program ”Marandang” dalam memerangi rentenir di tengah-tengah masyarakat.

SAWAHLUNTO, METRO–Bank Nagari Cabang Kota Sawahlunto bekerjasama dengan Pemko Sawahlunto dengan meluncurkan program Melawan Rentenir di Ranah Minang (Marandang) atau Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir (KPMR). Peluncuran program ‘Marandang’ di Sawahlunto tersebut dilaksanakan pa­da Senin (13/9) tadi di GPK  Dalam upaya meningkatkan kemudahan bagi ma­syarakat dalam melakukan pinjaman modal usaha sekaligus memberi solusi agar masyarakat tidak lagi meminjam pada ren­tenir.

Kepala Cabang Bank Nagari Sawahlunto, Rusdi menyampaikan, bahwa di awal pengenalan program ‘Marandang’ ini, sudah mendaftar puluhan orang masyarakat. Setelah pihak Bank Nagari memproses pendaftaran tersebut sesuai dengan syarat/ketentuan yang berlaku, telah disetujui untuk dicairkan pinjaman program ‘Marandang’ ini untuk 4 orang debitur (peminjam).

“Ini yang kita serahkan secara simbolis pada peluncuran Marandang di Sawahlunto hari ini, ada 4 orang debitur, itu dengan plafon Rp10 juta/orang. Jadi ini baru tahap pertama, kita baru mulai mengenalkan program ini pa­da masyarakat. Silahkan jika ada lagi masyarakat yang mendaftar, akan lang­sung kami proses,” kata Rusdi.

Dijelaskan Rusdi, dokumen permohonan untuk masyarakat yang akan mengikuti program ‘Marandang’ ini cukup mudah, yaitu fotocopy KTP, pas foto 3 x 4 suami dan istri, fotocopy Buku Nikah dan Kartu Keluarga, serta Surat Keterangan Usaha/NIB dari Desa atau Kelurahan.  “Untuk kendala paling banyak yang membuat para calon peminjam kita tidak lolos menjadi peserta Marandang ini, adalah permasalahan BI Checking. Artinya BI Chec­king ini ; ada riwayat kredit yang tidak bagus karena permasalahan da­lam pembayaran kredit dengan bank yang terjadi pada waktu mengajukan permohonan atau pada waktu sebelum mengajukan permohonan untuk mengikuti program Marandang ini,” ungkap Rusdi.

Ditambahkan Rusdi, program Marandang me­rupakan kredit pembiayaan kepada usaha mikro dengan proses mudah (tanpa agunan tambahan), murah (berbiaya ren­dah) dan cepat, sebagai salah satu solusi membantu dan mendorong kebangkitan usaha mikro dalam upaya pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid – 19.  “Program Marandang ini, kami ha­nya menerapkan bunga 6 persen setahun, artinya hanya 0,5 persen sebulan. Ini kan sangat jauh di bawah bunga yang biasa dibayar masyarakat jika meminjam pada rentenir,” kata Rusdi.

Dicontohkan Rusdi, ji­ka masyarakat meminjam Rp 5 juta, maka angsuran yang harus dibayar cukup Rp 441.000/bulan. Ini sama dengan membayar pinjaman tersebut sejumlah Rp 103.000/minggu, atau Rp 14.700/hari.  “Untuk me­nunjang kecepatan dan kemudahan dalam pengurusan peminjaman, kami menggunakan teknologi informasi. Sehingga lebih dari separuh prosesnya bisa dilaksanakan secara online, jadi lebih efektif dan efisien sistem kerja kita,” sebut Rusdi.

MWalikota Sawahlunto Deri Asta mengatakan, sangat mendukung dan program itu sangat sinkron dengan upaya Pemko Sawahlunto dalam mempermudah masyarakat meminjam modal usaha dan menekan jumlah ma­syarakat yang terjerat rentenir. “Pemko Sawah­lunto dalam hal ini melaksanakan dengan program antara lain bantuan mo­dal usaha dari BAZNas dan pinjaman modal usaha dari UPTD Dana Bergulir. Kemudian program Pemko bekerjasama dengan Bank, itu adalah dengan Bank Nagari melalui Marandang, kalau dengan bank – bank lain itu ada Kredit Usa­ha Rakyat (KU­R),” kata Walikota Deri Asta.

Untuk UPTD Dana Bergulir ini, dari data yang didapatkan Humas Pemko Sawahlunto dari Dinas Perindustrian, Perdaga­ngan dan Koperasi (Perindagkop), telah mencairkan pinjaman kepada 131 orang penerima pinjaman.  “Kami telah aktif sejak Juni 2019. Nah sampai pada September 2021 ini, kami telah mencairkan dana pinjaman ini sebesar Rp 2,76 miliar kepada 131 orang penerima pinjaman. Angka pengembalian pinjaman kita itu sangat tinggi, mencapai angka 90 persen,” kata Kepala Disperindagkop, Mukhsis, melalui Kepala UPTD Da­na Bergulir, Gusri Maizurni.

UPTD Dana Bergulir ini hanya mematok bunga (untuk biaya operasional) sebesar 3 persen pada penerima pinjaman. Deng­an plafon yang disediakan adalah Rp 100 juta untuk koperasi dan Rp 50 juta untuk perorangan.  “Untuk jaminannya, itu boleh di­pilih antara kendaraan roda 2 maksimal usia 7 tahun, atau roda 4 maksimal usia 20 tahun. Atau boleh juga sertifikat tanah, syaratnya tanah itu lokasi harus di Sawahlunto,” je­las Gusri Maizurni.

Salah seorang ma­sya­rakat itu yakni Tuminem, pedagang gorengan di Lapangan Segitiga. “Saya memang sangat terbantu dengan bisa meminjam di Marandang ini, dengan bunga hanya 6 persen. Jauh berbeda dengan biasanya saya meminjam di rentenir itu bunganya sa­ng­at mencekik, jadinya setiap hari jika ada untung itu habis untuk membayar rentenir saja,” kata Tu­minem. (pin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top