Menu

Bamsoet: Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Merupakan Vaksinasi Ideologi Pancasila Kepada Masyarakat

  Dibaca : 95 kali
Bamsoet: Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Merupakan Vaksinasi Ideologi Pancasila Kepada Masyarakat
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo ketika menyampaikan sambutannya di acara Peringatan Hari Konstitusi dan HUT Ke-76 MPR RI, di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 8 Agustus 2021. Foto: Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR RI.

“Jika kita ingin belajar kesahajaan dan kesederhanaan, cukuplah kita belajar dari H. Agus Salim. Dia adalah seorang diplomat ulung yang tidak malu mengenakan jas lusuh dan bertambal, seorang menteri, dan pendiri bangsa yang sering kekurangan uang belanja. Itulah H. Agus Salim yang mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, bahwa memimpin itu adalah ibadah.

 Jika ingin meneladani persahabatan, Bung Karno dan Bung Hatta dapat dijadikan contoh. Meski sudah tidak bisa bersama lagi, keduanya tetap hangat dan akrab. Padahal mereka berbeda pandangan yang tak ada titik temunya tentang demokrasi. Pak Kasimo dan Pak Natsir pun demikian, keduanya bisa berboncengan naik sepeda setelah debat sengit di parlemen”, Senayan, Jakarta, 18 Agustus 2021. Bambang Soesatyo, S.E., M.B.A.(Ketua MPR RI)

Ketua Majelis Per­mu­sya­waratan Rakyat Re­publik Indonesia (MPR RI), Bambang Soesatyo me­ne­kankan MPR RI yang me­ngemban visi sebagai ru­mah kebangsaan, pe­nga­wal idelogi Pan­casila dan ke­dau­latan rakyat men­da­pat mandat untuk meng­internalisasikan em­pat kon­sepsi kenegaraan, yang ke­mudian dikenal dengan sebutan Empat Pilar MPR RI.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo bersama para Wakil Ketua DPR RI Rahmat Gobel, Sufmi Dasco Ahmad dan Azis Syamsuddin, di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 8 Agustus 2021. Foto: Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR RI.

 Empat Pilar MPR RI di­mak­sud kata Bamsoet, pang­gi­lan beken Bam­bang ­Soe­­s­atyo, terdiri dari Pan­casila, Un­dang-Un­dang Dasar Ne­gara Re­publik Indonesia Tahun 1945, Ne­gara Kesatuan Re­publik Indo­nesia, dan Bhinneka Tung­gal Ika.

 MPR RI menurutnya, akan terus melakukan vaksinasi ideologi Pancasila melalui internalisasi Empat Pilar MPR RI kepada seluruh lapisan masyarakat, untuk me­ning­katkan ketangguhan agar tidak mudah terinfeksi oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

 “Keberhasilan menjadi individu yang ber-Pancasila tidak sekadar diukur dari ha­falnya masing-masing atas isi kelima sila Pancasila. Melainkan terwujud dalam perilaku ke­seharian. Ketika setiap individu bisa mengalokasikan waktu untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, untuk selalu bersikap memanusiakan manusia lain­nya dengan adil dan beradab, untuk selalu berusaha menya­tu­kan saudara sebangsa-se­tanah air kita yang berbeda, untuk selalu mengedepankan sikap permusyawaratan dalam menyelesaikan perbedaan dan untuk terus menerus meng­ikhtiarkan tegaknya keadilan sosial, maka kita sedang me­wujud­kan Pancasila dalam kehidupan nyata kita,” ujar Bamsoet, dalam peringatan Hari Konstitusi dan Hari Lahir MPR RI, di Kompleks Majelis, Jakarta, Rabu (18/8/21).

Turut hadir secara fisik dan virtual, antara lain Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Ketua DPD RI AA LaNyalla Mattalitti, Ketua MK An­war Us­man, Ke­tua BPK Agung Firman Sampurna, Panglima TNI Mar­sekal Hadi Tjahjanto, Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono, para Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah, Ahmad Mu­zani, Lestari Moerdijat, Jazilul Fawaid, Syarifuddin Hasan, Zulkifli Hasan, Arsul Sani, Fadel Muhammad dan Hidayat Nur Wahid serta para Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin, Sufmi Dasco Ahmad, dan Rach­mat Gobel.

 Mantan Ketua Komisi III DPR RI dan Ketua DPR RI ke-20 ini menyampaikan beberapa kisah kehidupan para pendiri bangsa yang kental dengan nilai-nilai Pancasila, sehingga patut diteladani. Seluruh elemen bangsa bisa belajar kesahajaan dan kesederhanaan dari H. Agus Salim, seorang diplomat ulung yang tidak malu menge­nakan jas lusuh dan bertambal, seorang menteri, dan pendiri bangsa yang sering keku­rangan uang belanja.

 Dalam kehidupan kese­hariannya ujar Bamsoet, H. Agus Salim, adalah seorang kontraktor, karena tempat ting­galnya selalu berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya.

 “Salah satu kontrakannya adalah sebuah rumah mungil dengan satu ruangan besar, yang berada di gang sempit dan padat penduduk di bilangan Jatinegara. Begitu pintu dibuka akan ada koper-koper ter­kumpul di sudut rumah, dan kasur-kasur di­gulung di sudut lainnya. Di situlah H. Agus Salim menerima tamu, makan, dan tidur bersama isteri dan anak-anaknya. Kon­trakan yang paling dikenangnya adalah di Gang Listrik, yang justru harus hidup tanpa listrik gara-gara ia tidak mampu membayar tagihan listrik,” ungkap Bamsoet.

 Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menjelaskan, ketika salah satu anaknya meninggal dunia, H. Agus Salim tidak punya uang untuk membeli kain kafan. Jenazah anaknya dibungkus dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata H. Agus Salim. “Untuk yang sudah wafat cukup­lah kain itu”. Itulah H. Agus Salim yang mewakafkan diri­nya untuk me­ngab­di ke­­pada Sang Pen­cipta, bahwa memimpin itu adalah iba­dah.

 “Jika in­gin mene­la­dani per­sa­habatan, Bung Karno dan Bung Hatta dapat dijadikan contoh. Meski su­dah tidak bisa ber­sama lagi, keduanya tetap hangat dan akrab. Padahal mereka ber­beda pandangan yang tidak ada titik temunya tentang de­mokrasi. Pak Kasimo dan Pak Natsir pun demikian, keduanya bisa berboncengan naik sepeda setelah debat sengit di parle­men,” ungkap Bamsoet. (**)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional