Close

Bahas Cara Atasi Jeratan Rentenir, Wako Diskusi Daring Bersama Ketua BMT Beringharjo

KOPERASI SYARIAH— Wako Mahyeldi Ansharullah diskusi secara daring membahas tentang perkoperasian syariah, Kamis (16/7).

AIAPACAH, METRO
Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah yang juga selaku Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumatera Barat (Sumbar), menyambut baik digelarnya diskusi bersama membahas tentang perkoperasian syariah. Diskusi yang dilakukan daring itu dilakukan Mahyeldi bersama Ny. Mursida Rambe, Ketua Baitul Maal Wattamwil (BMT) Beringharjo, Yogyakarta.

Seperti diketahui, Mursida Rambe yang juga Ketua MES Yogyakarta itu, merupakan perempuan yang sukses mengarungi rentenir khususnya di Pasar Beringharjo dan Provinsi Yogyakarta pada umumnya. Sehingga, BMT Beringharjo yang diketuai olehnya pun bisa menjadi salah satu model untuk pembiayaan modal usaha di Tanah Air.

“Atas nama Pemko Padang dan juga MES Sumbar, kita tentu sangat menyambut baik diskusi daring kali ini. Banyak hal penting tentunya kita dapatkan lewat pemaparan, pengalaman dan perjalanan dari Ibu Mursida Rambe dalam merintis dan mengembangkan BMT Beringharjo yang terbukti sukses sejauh ini,” ujar Mahyeldi saat diskusi daring dari Ruangan Padang Command Center (PCC) Balai Kota Padang, Kamis (16/7/).

Mahyeldi menyebutkan, terkait dalam upaya pengembangan ekonomi syariah, Pemko Padang sudah mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Syariah. Saat ini sedang dalam proses penguatan untuk proses lebih lanjut di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Alhamdulillah, kita di Kota Padang juga sudah memiliki sebanyak 104 KSPPS (Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah) di setiap kelurahan. Maka itu, penguatan atau ‘sharing’ informasi dari ibu Mursida kali ini, semoga dapat kita implementasikan untuk pengembangan ekonomi syariah di Kota Padang ke depan dan Sumbar pada umumnya. Hal ini juga salah satu upaya kita dalam memberantas jasa rentenir yang sangat mencekik dan juga tidak sesuai dalam syariat Islam,” harap Mahyeldi.

Sementara itu, Mursida Rambe dalam penyampaiannya memaparkan koperasi syariah yang didirikan sejak 31 Desember 1994 ini lahir dari kegelisahan pengaruh rentenir yang sangat mencekik pedagang kecil saat itu. “Saya tergerak dengan keadaan tersebut dan bertekad hanya untuk membantu masyarakat kecil,” ujarnya.

Mursida bercerita, dengan bermodalkan Rp1 juta dari Dompet Dhuafa kala itu, ia mulai membangun pondasi pemberdayaan pedagang kecil non riba. Pasalnya ia paham bahwa riba adalah perbuatan yang sangat tidak disukai Allah dan mendatangkan banyak kerugian.

“Usaha ini saya mulai dengan memberikan pinjaman dari 25 ribu kepada anggota. Kini BMT Beringharjo telah memiliki 18 kantor cabang di berbagai pulau di Indonesia dengan aset sekitar Rp 182 miliar. Adapun jumlah anggotanya mencapai 19.436 dengan jumlah karyawan 172 orang. Semuanya diawali dengan susah payah, namun sekarang alhamdulillah sudah menuai hasil positif,” tukasnya.

Perempuan berdarah Batak itu melanjutkan, adapun terkait konsep yang dibangunnya dalam mengembangkan BMT yaitu dengan cepat mengeluarkan uang pinjaman kepada pedagang kecil sekaligus mengumpulkan uangnya kembali. (tin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top