BERITA UTAMA

Ramadhan dan Pendidikan Kepemimpinan

0
×

Ramadhan dan Pendidikan Kepemimpinan

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si (Rektor UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi)

OLEH: Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si (Rektor UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi)

RAMADHAN bukan sekadar bulan untuk me­nahan lapar dan haus, tetapi juga penuh dengan edukasi yang sangat menentukan kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Salah satu edukasi terpenting yang dapat dipetik dari Ramadhan ada­lah tentang kepe­mim­pinan.

Ramadhan me­ngajarkan manusia untuk membangun dirinya dengan ke­kuatan yang me­ngan­tarkan pada ting­kat ketakwaan. Oleh karena itu, ma­nusia harus menjadi pengendali bagi diri­nya sendiri agar da­pat mencapai ke­sem­purnaan sebagai makhluk. Ia harus mampu memimpin dirinya menjadi insan kamil. Ramadhan mengarahkan dan menertibkan manusia agar me­miliki daya kualitas yang menentukan kehidupannya menuju kesejahteraan.

Bulan suci ini juga me­latih disiplin dalam tata laku dan waktu, misalnya me­lalui pengaturan jadwal yang ketat dalam menjaga aktivitas serta menjauhi hal-hal yang tidak me­ning­katkan kualitas hidup. Pe­ngendalian ini menjadi mo­dal berharga dalam mem­bangun kepemim­pi­nan se­seorang yang di­tem­pa se­lama bulan Ra­madhan.

Saat ini, kita meng­ha­dapi krisis kepemimpinan, baik dalam lingkup pribadi maupun dalam skala ke­bangsaan. Akibatnya, bang­sa ini sulit dikelola dengan baik, bahkan individu pun sering kali tidak memiliki visi yang kuat untuk memba­ngun kehebatan dan kebai­kan. Dalam konteks ke­bang­saan, kita membu­tuhkan pemimpin yang memiliki jiwa kepemim­pinan yang mampu me­ngelola bangsa ini dengan baik. Terlebih lagi, Indonesia adalah negara yang besar, luas, dan memiliki penduduk yang beragam serta berjumlah besar.

Baca Juga  Polda Sumbar Gelar Operasi Mantap Praja, Ribuan Personel Dikerahkan untuk Pengamanan Pilkada Serentak 2024

Selain itu, puasa juga melatih jiwa kepemim­pi­nan yang empati, simpati, dan solidaritas. Hal ini ter­gambar dari bagaimana kita menjalankan ibadah puasa, menahan lapar dan haus, sehingga kita dapat merasakan penderitaan ke­lompok masyarakat yang terbiasa hidup dalam kon­disi kekurangan. Kesada­ran ini menuntut kepedu­lian kita untuk berbagi, memberi, dan bersama-sama menanggulangi kesu­litan yang ada.

Empati, simpati, dan solidaritas adalah bagian dari kehidupan manusia sebagai bukti kesempur­naannya sebagai makhluk sosial. Dengan nilai-nilai tersebut, manusia dapat membangun kehidupan yang lebih layak, adil, dan sejahtera. Jika seorang pemimpin memiliki rasa empati dan simpati, tentu ia tidak akan berani mela­ku­kan korupsi demi mem­perkaya diri dan kelompok­nya. Ia akan memahami bahwa empati dan simpati diperuntukkan bagi mere­ka yang benar-benar mem­butuhkan. Pemimpin yang memiliki kepedulian tidak akan tega melihat masya­rakatnya larut dalam keti­da­kadilan dan kemiskinan.

Baca Juga  Tuai Polemik, Jokowi Perintahkan Menaker Revisi Aturan soal JHT

Ramadhan juga men­disiplinkan manusia untuk menjadi pribadi yang pari­purna, memiliki jiwa hu­manis, serta memiliki dedi­kasi spiritual dan kebang­saan yang tinggi. Hal ini tercermin dalam cara kita menjalankan ibadah sela­ma Ramadhan. Sejak su­buh, kita berusaha mena­han diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Men­jelang petang, kita menja­lankan berbagai tradisi, seperti ngabuburit untuk mengisi waktu sebelum berbuka puasa. Tradisi ini menghadirkan banyak akti­vitas, mulai dari mencari hidangan berbuka hingga merencanakan salat tara­wih pada malam harinya.

Seluruh rangkaian ke­giatan tersebut menun­jukkan nilai-nilai humanis dan penghargaan terha­dap manusia sebagai makh­luk sosial. Kehumanisan inilah yang harus kita pegang teguh dan jadikan sebagai landasan dalam kepemim­pinan. Mustahil sebuah masyarakat atau bangsa menjadi baik jika pemim­pinnya tidak memiliki jiwa humanis. Pemimpin yang tidak humanis hanya akan melahirkan kediktatoran.

Oleh karena itu, mari kita belajar dari setiap mo­men di bulan Rama­dhan ini. Jika kita mampu me­maknainya dengan baik, kita akan menemukan lau­tan hikmah yang luar biasa, termasuk dalam hal ke­pemimpinan, baik dalam lingkup diri sendiri, keluar­ga, masyarakat, maupun bangsa dan negara. Sela­mat menjalankan ibadah puasa. (*)