Close

Atlet Cricket PON “Lapeh Ayam”, Berangkat ke Papua Mengenakan Kostum Bekas

FOTO BERSAMA--Atlet Cricket PON Sumbar foto bersama usai pelepasan untuk menuju Bumi Cenderawasih Papua mengikuti PON XX tahun 2021.

PADANG, METRO–Tidak maksimalnya pem­berian pelayanan kepada para atlet cabang olahraga (Cabor) di Sumbar pada saat persiapan dan menuju PON XX P­a­­pua 2021 menimbulkan banyak kekecewaan. Salah satunya adalah yang dialami atlet Cricket Sumbar, mereka yang akan mengibarkan Bendera Tuah Sakato ba­gaikan “lapeh ayam” saja.

Kenyataan ini terbukti,  Selasa siang (21/9) Tim Cricket Sumbar menuju PON XX di Tanah Cendrawasih Papua 2021, di salah satu venue lapangan tenis di Padang, para patriot olahraga Sumbar itu dilepas bagaikan lapeh ayam. Bahkan, celakanya  mereka tanpa diberi kostum kontingen berlambang Tu­ah Sakato Sumbar, cuma pakai baju bekas PON Jawa Barat tahun 2018 lalu. Bahkan konfirmasi media ini kepada pelatih Tim Cricket Sumbar, Heru, tim besutannya tanpa dibekali uang saku, hanya tiket saja yang diberikan KONI Sumbar.

“Inilah pengurus KONI terburuk sepanjang sejarah mengikuti PON. Kasihan atlet tidak memiliki bekal menuju Papua,” ujar Ketua Pengprov Cricket Sumbar, Prof DR Syahrial Bhaktiar saat melepas Ro­mie dkk di lapangan tenis Sekora, Selasa (21/9).

Pelepasan tersebut tan­pa dihadiri pengurus KONI Sumbar dan unsur pemerintah. Padahal, me­reka adalah pejuang yang membawa nama baik Ra­nah Minang pada PON XX Papua. “Saya melihat tidak ada tanggungjawab gubernur selaku kepala daerah. Mana kepedulian gubernur sebagai kepala daerah terhadap olahraga. Apapun hasilnya dia harus bertanggungjawab terhadap rak­yat Sumbar,” ucap pendiri Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga (Disdikpora) Sum­bar itu.

Kondisi yang cukup mem­prihatinkan tersebut begitu terasa ketika pelepasan. Romie dkk tidak banyak berkata-kata, hati mereka perih dengan di­perlakukan pengurus KONI Sumbar. Sudahlah uang saku tak dapat, para bos yang duduk di KONI tutup mata pula melihat pende­rita atlet yang akan mengi­barkan panji-panji Tuah Sakto Sumbar di Bumi Cendrawasih Papua.

”Kami cuma diberi ti­ket saja, tanpa uang sa­ku. Pe­ngurus KONI seakan tak mau tahu dengan kondisi ini,” ujar Romie atlet andalan Cricket Sum­bar.

Menurut Syahrial Bhaktiar, perlakuan pengurus KONI Sumbar secara tidak langsung membunuh motivasi atlet untuk berpres­tasi. Kalau tidak sanggup mengelola organisasi le­­­­bih baik mundur saja.”Saya menilai Agus Suardi memang tidak layak sebagai ketua KONI. Dia tidak me­ngerti dengan organisasi olahraga. Padahal, sudah punya pengalaman me­mimpin KONI Padang,” ucap ketua Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia (ISO­RI). (boy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top