Menu

Asap Renggut Nyawa Bayi 3 Bulan di Sumbar

  Dibaca : 1387 kali
Asap Renggut Nyawa Bayi 3 Bulan di Sumbar
Relawan Pemenangan Pilkada Sayap Pemuda (Persada) Partai Keadilan Sejahtera Sumatra Barat Kamis (29/10) melakukan konsolidasi relawan millenial di Kabupaten Sijunjung
IMG_14307357 web

Asmarani, menggendong anaknya di lorong RSUD Lubuksikapiang. Tangisnya beriringan dengan langkah kaki di Kamis (22/10/2015) sore itu. Hatinya tercabik, menyaksikan tubuh tak bernyawa sang anak yang ada di gendongannya.

PASAMAN, METRO–Tangis Asmarani (23) memilu. Dia kepayahan menahan tangis saat melangkah di lorong RSUD Lubuksikaping, Pasaman, Sumbar, Kamis (22/10) sore. Di gendongannya, sang anak, Salsabila Nadifa tak bergerak. Tak juga bernafas.

Sekujur tubuhnya membiru. Salsa – panggilan Salsabila –, yang masih berusia 3 bulan rupanya sudah tiada. Kata dokter, meninggal karena terpapar kabut asap. Tubuh mungilnya tak kuasa menahan paparan hasil pembakaran hutan itu. ”Nak, bangun,” ucap Asmarani lirih. Namun terlambat, Salsa sudah pergi selamanya.

Asmarani seakan tak percaya kalau buah hatinya yang ditutup dengan kain batik, telah tiada. Berkali-kali dia memanggil nama anaknya. Mencoba menggoyang jasad di gendongan. Barangkali, harapannya, sang anak hanya kritis, atau tertidur, sehingga bisa bangun kalau diguncang atau dipanggil namanya. Tapi, semua itu sia-sia. Salsa tak bangun, sesuai harapan Asmarani.

Dokter RSUD Lubuksikaping sebenarnya sudah berusaha menyelamatkan. Mencoba segala cara agar sang anak bisa bertahan dan hidup normal. Tapi, harapan tim medis tak sesuai kenyataan. Salsa dipanggil Sang Kuasa. Dia pergi, meninggalkan orang-orang yang mencintainya. Diyakini, Salsa yang tinggal bersama orangtuanya di daerah Hutanauli, Nagari Tarung-tarung, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman meninggal karena terlalu banyak menghirup kabut asap hasil pembakaran hutan.

Hal itu diperkuat keterangan dr Khairunnisa, dokter yang menangani Salsa. Katanya, ada masalah di paru-paru bayi itu. Dari ciri-ciri ditemukan ada indikasi korban tewas akibat terpapar asap.

“Begitu tiba di RSUD, badan anak sudah membiru, mengindikasikan ada gejala paru-paru dan badan lemas. Denyut jantung empat puluh per menit. Kondisi bayi sudah kritis. Kita menangani bayi sekitar 10 menit, dan nyawanya tak tertolong lagi pada pukul 16.00 WIB,” terang dr Khairunnisa yang ikut serta meneteskan air mata. Sedihnya dalam juga.

Mendengar ucapan dokter, isak tangis orangtua dan kerabat korban membuncah. Ayah Salsa, Gusrizal (29), hanya bisa tercenung di depan inkubator, dimana jasad Salsa diletakkan di sana. Perlahan, lututnya goyah. Dia berlutut, di depan jasad anaknya. Tangannya menggapai-gapai. Mencoba meraih tubuh buah hatinya itu. “Salsa,” tuturnya pilu. Orang-orang yang ada di ruangan tak kuasa melihat Gusrizal di depan mayat anaknya. Begitu haru.

Duka Asmarani begitu dalam. Sedalam penyesalannya karena pernah membawa sang anak keluar rumah ketika asap pekat menyerang. Sebagai ibu, rasa pedih ketika melahirkan, rasanya belum terbayar. Salsa pergi kala kedua orang tuanya, sedang di puncak bahagia. Maklum, Salsa merupakan anak pertama Asmarani dengan suaminya Gusrizal (29). Itu pun setelah menunggu dua tahun.

“Sejak lahir kondisi anak saya sehat-sehat saja. Namun, pagi sebelum ia meninggal dia saya bawa bermain ke luar rumah, di saat kabut asap begitu pekat,” ujar Asmarani.

Setelah itu, kata Asmarini, anaknya mulai mengalami gejala aneh. Kejang dan kesulitan bernafas. Melihat kondisi anaknya, ia dan suaminya langsung melarikan anaknya ke Puskesmas terdekat. ”Setelah dibawa ke Puskesmas sekitar pukul 15.00 WIB, mereka menyarankan Salsabila dirujuk ke RSUD Lubuksikaping,” ujarnya sembari terisak menahan air mata.

Ia menyebutkan, dari keterangan dokter yang menangani, anaknya itu mengalami penyempitan saluran pernapasan. Namun, tidak jelaskan secara rinci apa penyebabnya. “Anak saya sejak lahir normal, dia sehat tak pernah sakit. Dia anak pertama kami setelah menikah dua tahun lalu,” katanya.

Zuraidah (63), nenek korban menduga cucunya tewas akibat terpapar asap, setelah sang ibu membawa cucu kesayangannya itu bermain di luar rumah di pagi itu. Padahal, asap sedang pekat, membuat mata perih, batuk dan sulit bernafas. Jarak pandang juga hanya 300 meter. ”Cucu saya mengalami sesak nafas. Sebelumnya tak ada gejala sakit, tapi tiba-tiba saja dia mengalami kejang, setelah dibawa main,” katanya.

Setelah diobservasi, pukul 18.30 WIB, jasad Salsa diantarkan ke Rao dengan ambulans oleh pihak rumah sakit. Sepanjang jalan ke rumah, Asmarani dan suami, Gusrizal tidak henti menahan tangis. Keduanya dilanda sedih yang begitu hebat. ”Tak sedikit jua saya menyangka,” tutur Gusrizal.

Kepergian Salsa merupakan duka Indonesia, juga mencerminkan, betapa pemerintah tak becus mengurusi pembakaran hutan yang menimbulkan kabut asap. Seakan, negara ini mengalah dengan bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia itu. Salsa, selamat jalan nak. Semoga kelak, engkau jadi pembuka pintu surga bagi kedua orangtua dan orang-orang yang mencintaimu! (y)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional