Menu

Asap Menyerbu, BIM Buka-Tutup

  Dibaca : 891 kali
Asap Menyerbu, BIM Buka-Tutup
M Ali Ramdhani
BIM - web

Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

PADANG, METRO–Kabut asap hasil pembakaran hutan sudah benar-benar menyiksa masyarakat Sumbar. Situasi berbahaya. Anak-anak tak bersekolah, sebab khawatir, udara yang mengandung racun merusak mereka. Teriakan-teriakan protes di media sosial telah terlalu lantang terdengar. Dari sudut-sudut negeri orang berteriak, lebih tepatnya menyayangkan sikap pemerintah yang seperti tak serius mengurusi asap.

Seakan-akan, kondisi yang membuat terenggutnya nyawa anak-anak, ditangani sekadarnya saja. Padahal, asap sudah serupa tali yang dikalungkan ke leher. Kian lama mengikat erat. ”Bunuh saja kami pak presiden. Turunkan saja bom, biar mati cepat. Jangan dibunuh perlahan seperti ini,” begitu seratusan status di media sosial.

Rasa sabar masyarakat rasanya telah sampai di titik akhir. Orang-orang tak lagi bicara tentang siapa dalang pembakaran saja, tapi juga terkait sikap pemerintah. Dimana negara yang dilahirkan untuk melindungi dan mengayomi rakyat, ketika asap menyerang sedemikian hebat? Pertanyaan itu menggelinding sedemikian kencang di ruang-ruang diskusi dan lorong-lorong kampus. Eksistensi bernegara mulai digugat.

Teriakan-teriakan protes di media sosial telah terlalu lantang terdengar. Dari sudut-sudut negeri orang berteriak, lebih tepatnya menyayangkan sikap pemerintah yang seperti tak serius mengurusi asap ini. Seakan-akan, kondisi yang membuat terenggutnya nyawa anak-anak, ditangani sekadarnya saja.

Padahal, asap sudah serupa tali yang dikalungkan ke leher. Kian lama mengikat erat. ”Bunuh saja kami pak presiden. Turunkan saja bom, biar mati cepat. Jangan dibunuh perlahan seperti ini,” begitu seratusan status di media sosial.

Rasa sabar masyarakat rasanya telah sampai di titik akhir. Orang-orang tak lagi bicara tentang siapa dalang pembakaran saja, tapi juga terkait sikap pemerintah. Dimana negara yang dilahirkan untuk melindungi dan mengayomi rakyat, ketika asap menyerang sedemikian hebat? Pertanyaan itu menggelinding sedemikian kencang di ruang-ruang diskusi dan lorong-lorong kampus. Eksistensi bernegara mulai digugat.

Ketebalan asap juga sudah memedihkan mata, menghambat pemandangan. Bahkan, Senin (26/10) pagi, Bandara International Minangkabau (BIM), lumpuh. Sejumlah penerbangan dibatalkan. Tak ada pesawat yang mendarat di BIM hingga pukul 10.00 WIB. Ini tak bisa dibiarkan. Masyarakat Sumbar mesti bereaksi keras.
Pendaratan sejumlah pesawat terpaksa dibatalkan karena jarak pandang yang tersisa hanya 700 meter. Salah satu akibatnya, Pj Gubernur Sumbar Reydonnyzar Moenek batal mendarat di BIM, ratusan lainnya juga demikian. Terpaksa balik arah. Ini sungguh merugikan.

General Manager PT Angkasa Pura II BIM, Yayan Hendrayani mengatakan, aktivitas penerbangan di BIM sejak pagi sempat lumpuh total akibat jarak pandang yang terbatas. Setidaknya ada tiga penerbangan yang terpaksa kembali ke bandara asal karena gagal mendarat di BIM. “Kita tidak pernah menutup bandara akibat asap tersebut. Kita hanya men-declare kepada maskapai apakah mereka mampu mendarat dengan kondisi tersebut. Kalau tidak kita menyarankan apakah mereka akan kembali ke bandara asal atau ke bandara lain,” ujar Yayan, saat dihubungi Senin (26/10).

Dikatakannya, tiga penerbangan yang sempat gagal mendarat di BIM dan harus kembali ke bandara asal yaitu dari maskapai Lion Air dari Bandara Kualanamu, Sumut. Kemudian, Pesawat Air Asia penerbangan dari Kualalumpur, dan Garuda dari Jakarta.

Yayan menjelaskan, pesawat baru diizinkan beroperasi kembali pada pukul 10.00 WIB, setelah jarak pandang mulai berangsur membaik. “Sriwijaya Air sudah mendarat pukul 10.00 WIB. Jarak pandang sudah naik 1.000 meter. Kabut asap ini fluktuatif, semakin siang kecenderungannya berkurang,” sebutnya.

Menurut Yayan, tidak ada langkah untuk mengantisipasi secara permanen agar kabut asap tidak menganggu penerbangan. Otoritas bandara hanya bisa menyesuaikan dengan situasi yang terjadi, terlebih kabut asap di Sumbar merupakan kiriman dari Provinsi tetangga.

“Kalau besok pagi asap pekat lagi, jarak pandang turun, terpaksa kita tidak mengizinkan penerbangan. Kalau merubah jadwal tidak mungkin,” pungkasnya. (da)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional