Menu

Asap Menyerang, Udara Sumbar tak Sehat

  Dibaca : 1272 kali
Asap Menyerang, Udara Sumbar tak Sehat
Seorang warga di Pasaman yang tidak mematuhi protokol kesehatan disaksi push up.
Foto Bukittinggi Berasap Lagi

Pengendara motor di kawasan Jam Gadang, Bukittinggi memakai masker agar tak menghirup langsung udara tak sehat. Data BMKG, pada Rabu (02/09/2015), udara Sumbar tak sehat, karena tingkat konsentrasi partikel debu mencapai 310 mikrogram per meter kubik.

PAYAKUMBUH, METRO–Kualitas udara Sumbar kian memburuk karena kiriman asap sisa pembakaran hutan dari Jambi dan Sumatera Selayan. Stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, tingkat konsentrasi aerosol atau partikel debu (PM10) di beberapa daerah mencapai 310 mikrogram per meter kubik. Angka itu menunjukkan udara Sumbar sudah tidak sehat.

Staf Observasi dan Informasi Stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Albert mengatakan, daerah yang paling terdampak adalah Solok, Dharmasraya, Tanahdatar, Payakumbuh, Sijunjung, Solok Selatan, Sawahlunto, Agam dan Limapuluh Kota. ”Udara di daerah tersebut kian mengkhawatirkan,” ujar Albert.

Pantauan satelit Terra-Aqua menunjukkan 406 titik panas di Sumatera. Kebanyakan terjadi di Jambi, yakni 131 titik, dan Sumatera Selatan 157 titik. Sementara itu, di Sumatera Barat ada 4 titik, yaitu 3 di Dharmasraya dan 1 di Solok Selatan.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Padang Budi Iman Samiaji mengatakan potensi hujan dalam dua hari ini masih kecil. Ini akan membuat jarak pandang menurun. “Jarak pandang di Bandara Internasional Minangkabau mulai menurun, hanya berkisar 2.500 meter. Padahal idealnya 10 ribu meter,” ungkap Budi

Warga Mulai Derita ISPA

Kabut asap kian hari makin pekat saja di Pasaman. Selain mencemari udara dan dapat mengakibatkan gangguang infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), kabut asap juga dapat mengurangi jarak pandang. Bahkan akibat kabut asap, jarak pandang mengalami penurunan setiap harinya.

Jelas, kondisi ini tak bisa dianggap sepele. Jika terus dibiarkan tanpa ada penanganan serius dapat menimbulkan bencana. Untuk itu, pengendara kendaraan harus berhati-hati guna menghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas. Jarak pandang semakin menurun. Diperkirakan kini hanya berkisar pada range 350-400 meter. Selain itu, sejumlah Polindes juga mulai ramai dikunjungi warga,
dengan keluhan mata perih, tenggorokan gatal dan batuk.

”Saya dalam beberapa hari terakhir sudah berobat ke Puskesmas. Tenggorokan saya kering, sesak dan gatal itu setelah asap mulai menyelimuti daerah ini,” ungkap Rasiman (30) salah seorang warga Rao Selatan.

Ia mengatakan, keluhan serupa bukan dialami dirinya saja. Melainkan banyak warga lainnya juga mengalami hal serupa. Inpeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mengancam warga. “Tenggorokan kering, mata perih juga saya alami. Tapi masih bisa dibawa beraktivitas, apalagi kejar setoran namanya,” kata Hambali, tukang ojek di Pasar Tapus, Padanggelugur.

Pekatnya asap juga menyebabkan beberapa sekolah di Pasaman terpaksa menyalakan lampu disiang hari, disaat proses belajar mengajar berlangsung. “Yah, harus menghidupkan lampu. Jika tak begini ruangan gelap gulita, meski sudah siang begini,” kata salah seorang tenaga pengajar di Panti.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman Desrizal mengatakan, pihaknya akan bertindak jika sudah menerima laporan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) terkait kualitas udara di daerah itu. “Kita belum bertindak sebelum ada pemberitahuan dari dinas terkait perihal kualitas udara di Pasaman sudah menurun,” kata Desrizal.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Silvia Eva Yanti mengatakan, pihaknya masih menunggu informasi dari pihak BMG  Koto Tabang di Palupuh, sebagai pemegang hak paten. “Informasi belum kita terima ini sedang berkoordinasi dengan pihak Koto Tabang, apakah kualitas udara kita berstatus siaga, waspada. Kami harap masyarakat bersabar,” kata Eva.

Pihaknya, kata dia, memiliki pengukuran alat sederhana, jenis Ambien udara tapi belum dapat dijadikan rujukan. Pasalnya, kata dia, alat itu hanya bisa menguji pada satu variabel saja. “Belum berfungsi. Alat ini hanya dapat menguji satu variabel, sementara ada lima variabel yang menjadi penentu kualitas udara itu aman atau tidak,” katanya.

Pemko Uji SPU

Di Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, sejak dua hari terakhir, ketebalan kabut asap telah membuat masyarakat Luak Limopuluah (Kota Payakumbuh dan Limapuluh Kota) resah. Walau hingga kini belum banyak aktivitas di lapangan terganggu akibat tebalnya kabut asap, tetapi bila hal itu terus berlanjut bisa dipastikan kesehatan warga dan jarak pandang pengendera di jalan raya terganggu.

Salah seorang pengendera motor di Jalan Sukarno Hatta, Kota Payakumbuh Ed, menyebut sudah terganggu dengan tebalnya kabut asap. Dua hari terakhir disampaikannya ketebalan kabut asap telah memperpendek jarak pandang hingga 500 meter.

”Sudah tebal. Jarak pandang hanya berkisar 500 meter. Jelas ini mengganggu, terutama  dengan semakin pekatnya kabut asap bisa menyebabkan terjadinya kecelakangan lalu lintas di Jalan raya. Kemudian juga kesehatan masyarakat pasti akan berdampak,” jelas pria beristeri itu meminta agar pemerintah dan semua pihak terlibat dalam mengatasi persoalan tahunan itu.

Hal senada juga disampaikan Anton, menurut pria lajang ini ulah tebalnya kabut asap membuat kecepatan laju kenderaannya harus dikurangi. “Saya terpaksa lambat-lambat untuk menghindari agar tidak terjadi kecelakaan. Kemudian saya juga harus menghidupkan lampu kenderaan agar lawan bisa melihat  dan itu setidaiknya bisa mencegah terjadinya kecelakaan,” sebutnya ketika melintasi jalan  Sudirman pusat Kota Payakumbuh Rabu (2/9) siang.

Tidak saja pengendara, tetapi masyarakat petani Mardius, menyebut kabut asap bisa membuat aktivitas masyarakat terganggu. Mengingat tebalnya kabut asap masyarakat lebih memilih berada di dalam ruangan.

“Ya, mengganggu napas jadi sesak, kemudian bisa influenza bahkan mata jadi peri. Kalau sudah begini tentu agar terhindar dari berbagai bahaya kabut asap masyarakat lebih memilih dirumah dan tentu merugikan karena aktivitas terganggu,” sebutnya.

Asisten I Sekda Payakumbuh Yoherman menyampaikan jika saat ini Badan Lingkungan Hidup (BLH) sudah melakukan uji terhadap Indek Standar Pencemaran Udara (ISPU) untuk mengetahui apakah udara Payakumbuh masih sehat atau tidak.

“Kita sudah datangkan  alat untuk uji ISPU. Dari hasil uji itu nantinya baru kita ketahui apakah udara masih sehat atau tidak. Bila tidak sehat lagi tentu kita akan melakukan langkah-langkah kongkrit, dan meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh Elzadaswarman, juga menunggu hasil uji udara. Namun begitu Diskes juga sudah mempersipkan langkah-langkah untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat yang sakit akibat kabut asap.

”Sampai kini belum ada masyarakat yang sakit akibat kabut asap. Kemudian kita juga siagakan setiap puskesmas untuk membantu jika ada masyarakat yang terkena penyakit akibat kabut asap,” sebutnya.

Kepala Dinas Pendidikan Payakumbuh Hasanbasri juga mengaku bahwa kabut asap belum mengganggu ativitas belajar mengajar siswa dimasing-masing sekolah. “Saat ini belum menganggu aktivitas siswa. Namun begitu jika semakin tebal dan dinyatakan berbahaya kita akan koordinasikan dengan pimpinan apakah siswa diliburkan atau bagaimana, kita tunggu hasil uji udara,” sebutnya. (ben/cr5/us)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional