Menu

Asap Menebal, Sekolah Mulai Liburkan Siswa

  Dibaca : 1003 kali
Asap Menebal, Sekolah Mulai Liburkan Siswa
Perubahan APBD 2020 Ditetapkan, Dana Kunker Anggota DPRD Dharmasraya Rp 23,2 Miliar 
Siswa pakai masker - web

Seluruh siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) Semen Padang, Kamis (01/10/2015) pagi memakai masker saat belajar di dalam kelas. Kabut yang makin pekat juga menyebabkan pihak yayasan sekolah untuk meliburkan siswa karena dikhawatirkan mengganggu kesehatan anak-anak.

INDARUNG, METRO–Kabut asap makin pekat menggantung di langit Kota Padang. Warga terutama orang tua murid sekolah pun mulai khawatir kabut akan mengganggu kesehatan anak-anak mereka. Belum ada instruksi tegas dari wali kota dan juga Dinas Pendidikan (Disdik) apakah meliburkan siswa atau tidak.

Namun, kabut asap yang makin mengkhawatirkan, Kamis (1/10), menyebabkan seluruh murid TK Semen Padang terpaksa dipulangkan. Selain itu, murid Sekolah Dasar (SD) juga diliburkan hingga pelaksanaan mid semester, pada Senin (5/10) mendatang. Keputusan memutuskan meliburkan seluruh murid dilakukan pihak Yayasan Igasar Semen Padang sebagai bentuk penyelamatan untuk anak-anak yang rentan terkena penyakit.

”Kualitas udara akibat kabut asap Kamis pagi sudah mengkhawatirkan. Karena itu, kami dari pihak yayasan mengusulkan agar anak-anak TK dan SD diliburkan. Kami juga sudah mendapat izin dari Dinas Pendidikan untuk meliburkan seluruh murid TK dan SD. Kami juga  meminta izin kepada UPTD kecamatan,” jelas Wakil Ketua Yayasan Igasar Semen Padang  Endang Persitarini, kepada POSMETRO, Kamis (1/10).

Meski membuat kebijakan meliburkan murid TK dan SD, menurut Endang, karena para murid TK dan SD sudah terlanjur datang diantar orang tua, Kamis pagi, khusus murid SD— tetap melanjutkan belajar mengajar di kelas. Murid tak diperbolehkan bermain di luar kelas.

”Murid TK bisa langsung pulang karena ditunggu orang tua. Anak-anak kami monitor, tidak diizinkan bermain di halaman sekolah. Kami concern dengan kesehatan anak. Mudah-mudahan kabut asapnya tak makin parah, sehingga anak-anak bisa kembali belajar dengan baik di sekolah,” ulas Endang.

Sementara, Hernes (40), salah seorang orang tua siswa SD Semen Padang mengaku, jika Kamis pagi kabut asap di Indarung sudah pekat. Jarak pandang hanya sekitar 200 meter. Orang tua dan Syaza— murid kelas III dan Rania— murid kelas V ini menyebut, jika ia tetap mengantarkan anaknya ke sekolah. Untuk keselamatan, kedua putrinya memakai masker sejak dari rumah.
”Ketika mengantar anak-anak ke sekolah. Memang, kabut asap sudah pekat sekali Kamis pagi. Anak-anak harus memakai masker untuk menghindari terkena ISPA,” kata Hernes.

Belum Ada Instruksi

Sementara Kepala Disdik Padang Habibul Fuadi menjelaskan, jika belum ada instruksi untuk meliburkan anak-anak sekolah. Pemko menilai, kondisi kabut asap sekarang masih bisa diakali dengan memakai masker agar anak sekolah tak terhirup asap terlalu banyak.

”Sampai sekarang belum ada rekomendasi dari Bapedalda yang menyatakan bahwa udara Kota Padang berbahaya. Makanya belum kesepakatan untuk meliburkan. Semua ada protapnya,”sebut Habibul Fuadi.

Untuk menyaring kadar debu dalam udara, dia mengimbau agar semua kepala sekolah dan guru tetap mengintruksian  kepada semua murid murid untuk memakai masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Kepala Bapedalda Padang Edy Hasymi mengatakan, kadar debu dalam udara, Kamis (1/10) adalah 281 Ug/M3 dan masuk kategori  tidak sehat. Angka ini, meningkat signifikan jika dibandingkan dengan kondisii Rabu (30/9) yang berada pada angka 130 Ug/M3.

Ia menilai, kondisi udara saat ini masih bisa disiasati dengan memakai masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Hingga kini Bapedalda masih melakukan pemantauan kondisi udara di Padang. Biasanya, pada pagi hari, menurut Edy, kabut asap turun ke bawah karena udara lembab, sehingga terkesan pekat.

Namun ketika siang hari dan diterpa panas, debu asap akan naik ke atas. Sehingga kadarnya juga menjadi berkurang.

”Sekarang, kami masih melihat dan menganalisa. Karena kondisinya masih berstatus tidak sehat. Tapi, jika nanti angkanya sampai 300 Ug/M3, mungkin kita akan keluar rekomendasi untuk meliburkan anak sekolah. Karena sudah masuk pada tahap berbahaya,” terang Edi.

Di sisi lain, membuat keputusan untuk meliburkan anak sekolah harus mempertimbangkan banyak hal. Apalagi saat ini anak sekolah sedang dalam ujian. ”Keputusan meliburkan anak sekolah itu tidak gampang. Butuh mekanisme yang rumit pula, kadang mereka sedang ujian,” ujar Edi.

Dijelaskan, untuk ukuran kadar debu memiliki batas status tertentu. Untuk kadar debu 45-50 Ug/M3 berada pada posisi aman, angka 51-150 Ug/M3 berada pada posisi sedang, angka 150-350 Ug/M3 berada pada posisi sangat tidak sehat. Sementara dari 351-240 Ug/M3 berada pada posisi berbahaya.
Kepung Warga Lubeg

Sementara itu, pembangunan jalur dua Bypass yang berlarut-larut membuat warga sekitar harus menanggung akibatnya. Hingga saat ini banyaknya abu yang harus dihirup oleh warga mulai mengkhawatirkan. Ditambah lagi kabut asap yang semakin memeperparah kondisi udara dilokasi tersebut.

Pantauan POSMETRO di sepanjang jalan Bypass dari Pisang menuju Lubukbegalung terlihat ratusan kendaraan berukuran besar melintas. Kepulan debu terlihat berterbangan ditambah lagi adanya kabut asap kiriman yang semakin membuat jalanan tersebut terlihat gersang.

Hanimar (53), warga Kampung Tanjung, Kelurahan Pisang mengaku, jika sepanjang hidupnya sudah tinggal di Bypass. Namun, sejak pembangunan jalan ini, udara yang selalu dihirup tidak lagi sehat. ”Kok hujan, abu nyo lai indak ado. Tapi kalau mode iko abu manjadi-jadi. Pandangan jadi agak kabua, nafas agak barek,” ucapnya kepada POSMETRO, Kamis (1/10).

Hanimar hanya bisa pasrah menjalani hidup dengan kepungan asap. ”Kalau jalan rancak awak jadi sanang, tapi kok dapek jan sampai lamo bana mangarojoannyo. Tolong kana juo nasib kami nan tingga ditapi jalan Bypass iko,” tukasnya.

Sementara, Nuraida (52), warga Kampung Tanjung mengharapkan, ada perhatian dari pemko untuk keselamatan warga. ”Yang terkena imbas dari pengerjaan jalan ini adalah warga. Kalau orang yang melintas di jalan hanya sekadar melintas. Kalau kami setiap hari harus mengonsumsi abu,” jelasnya. (ren/tin/o)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional