Menu

Antisipasi dengan Prokes jadi Keharusan, Sembuh dari Covid-19 jadi Kebahagiaan

  Dibaca : 180 kali
Antisipasi dengan Prokes jadi Keharusan, Sembuh dari Covid-19 jadi Kebahagiaan
Antisipasi dengan Prokes jadi Keharusan, Sembuh dari Covid-19 jadi Kebahagiaan

BUKITTINGGI, METRO
Sembuh dari Covid-19 merupakan kebahagiaan tiada terkira bagi pasien yang mengidap virus itu. Setelah berjuang melawan virus yang berbahaya dan bertaruh nyawa, akhirnya si pasien tersebut berhasil melawan ujian dan hidup normal seperti biasa. Kisah perjuangan melawan Covid-19 juga dirasakan Hendra dan Ayu, sepasang suami istri yang dinyatakan sembuh dari penyakit yang disebabkan virus yang penyebarannya cukup cepat itu.

Secara garis besar, Hendra menjelaskan, sejak 6 Maret lalu, kondisi badannya kurang enak usai gotong rotong di masjid. Kemudian, sekitar tanggal 10 atau 11 Maret, ia berobat ke Poskeskel dan hanya bisa mencek suhu badan. Setelah itu, ia berobat ke Puskesmas Guguak Panjang dan dikatakan vertigo.

“Setelah menjalani beberapa layanan kesehatan dan pemeriksaan, tanggal 26 Maret, Hendra dihubungi Pemko Bukittinggi dan dinyatakan positif Covid-19. Keluarga dibawa ke RSAM untuk dirontgen. Selama dinyatakan positif, saya menjalani isolasi mandiri. Selama isolasi mandiri, Hendra hanya di rumah saja dan tidak boleh keluar rumah,” ujar Hendra.

Ia mengungkapkan pada awalnya, warga lingkungan sekitar agak takut apalagi mendengar berita tentang Ciovid-19 itu. Namun, sebanyak 4 kepala keluarga yang dekat rumah Hendra bisa menerima seiring berjalan waktu. Namun, ada juga beberapa warga masih waspada atau jaga jarak. Hendra adalah pasien positif Covid-19 tapi menjalani isolasi mandiri.

Di samping itu, istri Hendra, Ayu, juga dinyatakan positif. Ayu dirawat di ruang isolasi sampai sembuh. Bahkan, Ayu merupakan pasien pertama warga Bukittinggi yang sembuh dari Covid-19 di RSAM. Selama mereka menjalani perawatan, kebutuhan sehari-hari diurus saudaranya.

“Tekanan ada dalam diri sendiri. Sebelum dinyatakan sembuh, kami sempat mengalami down mental. Pasca dinyatakan sembuh, kembali seperti semula. Pola makanan dijaga. Kami juga diminta menjaga kesehatan serta menjaga makanan dan kebersihan. Saya dan istri positif dan jaraknya berjauhan. Namun secara kesehatan oke,” ujar Hendra.

Hendra dan Ayu merupakan pasien positif Covid-19, awal virus itu merebak di Bukittinggi pada Maret lalu. Hendra merupakan pasien keempat dinyatakan sembuh. Selama isolasi mandiri, ia memang dirumah saja dan tidak boleh keluar rumah.

Kini, Hendra dan Ayu memulai hidup normal kembali seperti sediakala. Selama ini, mereka bekerja sebagai pedagang. Hendra dan Ayu sangat bersyukur kepada Allah karena bisa memulai hidup seperti normal lagi.“Saat dinyatakan sembuh, kami masih di rumah saja. Kami sangat bersyukur atas kesembuhan ini. Ini adalah anugerah pertolongan Allah SWT. Kedepan, kami akan memulai lagi (usaha) dan saat ini rasanya seperti merdeka dan bebas,” kata Hendra.

Hendra dan Ayu merupakan diantara pasien positif Covid-19 yang merupakan warga Bukittinggi, sudah dinyatakan sembuh. Bagi mereka, hidup tetap terus berjalan. Mereka ingin semuanya kembali seperti biasa.

Cerita tak jauh beda, dialami Icha Atmadi beserta suami dan ayahnya yang dinyatakan positif Covid-19. Ayahnya mengalami gejala Covid-19 yang terbilang berat sehingga harus dirawat di rumah sakit. Sementara Icha dan suaminya disarankan untuk melakukan isolasi mandiri.

“Sampai dinyatakan sembuh, perlu waktu hampir satu bulan buat saya dan suami melakukan isolasi mandiri. Sedangkan ayah harus menjalani perawatan di rumah sakit selama satu bulan dan total 45 hari sampai dinyatakan sembuh,” tutur Icha dalam Dialog Produktif dengan tema ‘Memaksimalkan Pengelolaan Kesehatan Lewat Vaksinasi’ Kamis (26/11) yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

Icha tidak menyangka akan terkena Covid-19 karena dia dan keluarganya termasuk yang protektif dan disiplin melakukan protokol kesehatan. “Namun kami pun masih bisa kena. Pengalaman ini membawa kami pada titik terendah yang membuat kami jadi intropeksi diri dalam menjaga hati dan fisik, yang ringan saja mengerikan apalagi sampai gejala berat,” kata Icha. Kini, protokol kesehatan lebih ketat dilakukan di keluarga Icha dan telah menjadi gaya hidup. Icha berharap pengalaman ini tidak dialami oleh orang lain. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional