Menu

Antisipasi Degradasi Lahan di Pasaman

  Dibaca : 60 kali
Antisipasi Degradasi Lahan di Pasaman
MONITORING—Tim monitoring kegiatan RHL dihadiri Tenaga Ahli Menteri LHK, Komunikasi dan Media Sosial turun lapangan.

PASAMAN, METRO
Penanaman RHL (Rehabilitasi Hutan Lindung) P-0 di Panti Selatan Kecamatan Panti, Pasaman Sumatera Barat telah dimulai. Masyarakat cukup terbantu dalam pemulihan ekonomi dimasa pandemi maupun pasca pandemi covid-19. Pada akhir pekan lalu, tepatnya Jumat hingga Sabtu (26-27/3/2021), monitoring kegiatan RHL di Pasaman Sumatera Barat dihadiri Tenaga Ahli Menteri LHK Bidang Komunikasi Digital dan Media Sosial Dr. Afni Zulkifli.

Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Yozarwardi, Senin (29/3) kepada media ini mengatakan salah satu masalah yang masih dihadapi di Indonesia saat ini adalah degradasi lahan. Pemerintah memberlakukan program rehabilitasi hutan dan lahan sebagai upaya untuk memperbaiki dan mengembalikan fungsi dan produktivitas lahan yang mengalami kerusakan.

Sementara itu, jajaran Kementerian LHK termasuk Dinas Kehutanan serta lembaga lainnya harus menelan pil pahit. Meski sudah banyak yang diperbuat, namun tidak terpublikasikan, sehingga masyarakat menganggap tidak bekerja.

‘Itulah sekelumit kalimat yang saya tangkap ketika berbincang dengan Tenaga Ahli Menteri LHK Bidang Komunikasi Digital dan Media Sosial Dr. Afni Zulkifli saat monitoring kegiatan RHL di Pasaman Sumatera Barat, beberapa hari yang lalu,” papar Yozarwardi sembari mengatakan dirinya saat ke lokasi penanaman RHL P-0 di Panti Selatan Kecamatan Panti, juga bersama Kepala KPHL Pasaman Raya dan Plt. Kepala BPDASHL Indragiri Rokan.

Berdasarkan kondis lokasi RHL, Yozarwardi mengungkapkan, dari kampung dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ke lokasi penanaman, dengan menggunakan sepeda motor. Rute yang dilalui cukup berat, mendaki, jalan licin karena hujan tadi malam, jurang dikanan dan tebing dikiri. Lebar jalan tak lebih dari satu meter, sebahagian jalan tanah kuning, sebahagian lainnya jalan semen. Sangat beresiko.

Tak jarang pengendara sepeda motor terjatuh saat mengangkut bibit dari persemaian ke lokasi tanam. Ada juga yg terpeleset dan hampir masuk jurang. Rantai motor putus, ban bocor. Namun tantangan itu tak menyurutkan semangat untuk terus menanam pohon di lokasi RHL. Meski sistem pengerjaan RHL melalui kontraktual, tetapi pekerja diprioritaskan masyarakat sekitar hutan.

“Masyarakat memperoleh upah harian kerja (HOK), sesuai target harian atau mingguan. Daya beli masyarakat sekitar hutan agak lebih baik. Warung mulai banyak transaksi jual beli. Kegiatan ini cukup membantu dalam pemulihan ekonomi dimasa pandemi maupun pasca pandemi covid,” ujarnya.

Jenis bibit yang ditanam merupakan pilihan dari kelompok tani hutan dan masyarakat, tentu mempertimbangkan kesesuaian tanah dan iklim setempat.

Seluas 125 hektar kawasan hutan lindung ditanami tanaman penghasil buah, yaitu jengkol, alpukat, kemiri, petai, matoa dan pinang.

“Dalam empat lima tahun kedepan, ketika telah berproduksi menghasilkan buah, maka tanaman ini akan menyangga ekonomi masyarakat sekitar hutan. Akan meningkat pendapatan petani hutan. Jangan lupa, tanaman yang sudah ditanam, harus dipelihara dengan sepenuh hati” terangnya.

Tujuan RHL kali ini, lanjut Yozarwardi untuk memberikan manfaat ekonomi, sosial dan ekologi dengan penambahan tutupan hutan.

Dirinya mengucapkan terima kasih kepada BPDAS HL Indragiri Rokan, yang sudah dukung kegiatan RHL di Sumatera Barat. Begitu juga dengan Tenaga Ahli Menteri LHK Bidang Komunikasi Digital dan Media Sosial Dr. Afni Zulkifli beserta Ibu, yang telah memotivasi Dishut Sumbar untuk terus bekerja dan berkarya bagi bangsa serta berbagi pengalaman tentang pentingnya komunikasi digital di media sosial sebagai sarana komunikasi pemerintah dengan publik. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional