Menu

Angka Kematian masih Tinggi, Sehari 1.266 Jiwa Meninggal Positif Covid-19

  Dibaca : 174 kali
Angka Kematian masih Tinggi, Sehari 1.266 Jiwa Meninggal Positif Covid-19
Ilustrasi pemakaman jenazah pasien Covid-19

JAKARTA, METRO–Setelah tes spesimen Covid-19 sempat naik dalam beberapa hari, pada Minggu (25/7) tes kembali anjlok di bawah 200 ribu spesimen. Alhasil, kasus Covid-19 turun. Kasus harian yakni 38.679 kasus. Kini total sudah 2.166.505 orang terinfeksi Covid-19.

Penurunan terlihat dari pemeriksaan spesimen. Sebelumnya penurunan tes juga sempat terjadi pada Rabu (21/7) 153.330 spesimen. Lalu 179.275 spesimen pada Selasa (20/7), 160.686 spesimen pada Senin (19/7), 192.918 spesimen pada Minggu (18/7). Alhasil tak heran jika kasus harian ikut turun.

Tes yang rendah justru tak sejalan dengan angka kematian. Rendahnya kasus justru tak berbanding lurus dengan angka kematian yang masih tinggi di atas seribu jiwa.

Angka kematian hari ini 1.266 jiwa sehari. Menjadi rekor tertinggi selama pandemi seiring dengan angka ketersediaan tempat tidur (BOR) di RS yang semakin penuh.

Jawa Timur mencatatkan kematian paling tinggi sebanyak 318 jiwa sehari. Jawa Tengah 264 jiwa sehari. DKI Jakarta 157 jiwa. Jawa Barat 123 jiwa.

Kasus Covid-19 terbanyak harian disumbang DKI Jakarta 5.393 kasus. Jawa Barat 5.302 kasus. Jawa Tengah 5.265 kasus. Jawa Timur 4.763 kasus. Jogjakarta 2.145 kasus. Kasus aktif bertambah 227 kasus sehari. Jumlah pasien aktif kini sebanyak 573.908 orang.

Hanya 124.139 orang yang diperiksa dengan metode TCM, PCR, dan antigen. Angka positivity rate mencapai 31,16 persen.

Pasien sembuh harian bertambah 37.640 orang. Paling banyak kasus sembuh terjadi di DKI Jakarta sebanyak 14.361 orang. Dan total angka kesembuhan saat ini sebanyak 2.509.318 orang.

Sudah 510 kabupaten kota terdampak Covid-19. Tak ada provinsi di bawah 10 kasus. Dan tak ada satupun provinsi dengan nol kasus.

Kasus Covid-19 Bisa 120 Ribu Per Hari

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan tingginya angka kematian diperparah dengan tak tertampungnya pasien di pelayanan kesehatan, termasuk IGD dan juga ICU. Selain itu, kata dia, tingginya angka kematian menjadi indikator keparahan pandemi.

“Angka kematian itu adalah indikator keparahan pandemi. Dan kematian inilah yang saya sampaikan berkali-kali, ketika kasus harian terlihat menurun, harusnya hati-hati dalam membaca angka kasus harian. Membaca kasus harian harus disikapi hati-hati, tes kita rendah sehingga membuat klaim terhadap kasus harian menurun,” tuturnya, Minggu (25/7).

“Bahkan indikator lainnya jadi kurang valid dan akurat. Angka kematian tinggi seribu ini kan sudah beberapa waktu lalu ya. Angka kematian naik karena angka infeksi tak terkendali,” tambahnya.

Maka Dicky menegaskan, jika kasus harian terlihat turun namun di satu sisi angka kematian tinggi, itu menjadi suatu data yang tak masuk akal. Artinya, kondisi di lapangan kasus Covid-19 bisa lebih tinggi dan lebih parah hanya saja tak terjaring oleh tes karena testing yang rendah.

“Jika dihitung asumsi paling rendah saja dengan R0 (angka reproduction number hanya 1,1, maka dengan kematian lebih dari seribu jiwa kenyataannya di lapangan bisa 120 ribu kasus infeksi. Namun mereka tak terjaring oleh tes, karena tesnya ren­dah,” tegasnya.

“Artinya ketika ada kasus seribu kematian dan itu mulai terjadi 3 minggu lalu, sejak itu pula di Indonesia per harinya sudah ada 120 ribu kasus. Padahal saat itu yang tercatat hanya 10 ribu karena testing kita masih rendah. Kesimpulannya, ketika kasus hariannya rendah di bawah 50 ribu tapi di sisi lain kasus kematiannya tinggi, itu enggak masuk akal. Testing itu menemukan kasus, dan sebuah prestasi,” tutur­nya.(jpg)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional