Menu

Anggaran Bansos yang Dikucurkan Jokowi Berkurang

  Dibaca : 62 kali
Anggaran Bansos yang Dikucurkan Jokowi Berkurang
HM Hidayat Nur Wahid

JAKARTA, METRO
Wakil Ketua MPR Dr. HM Hidayat Nur Wahid MA, mengapresiasi program bantuan sosial (bansos) tunai yang diluncurkan oleh Presiden Jokowi, yang sudah diusulkan oleh banyak pihak. Namun, ia menyayangkan pengurangan total anggaran perlindungan sosial dari Rp 128,9 triliun pada 2020, menjadi Rp 110 triliun di 2021. Secara khusus, bansos tunai dari Rp 39 triliun pada 2020, dan menjadi Rp 12 triliun di 2021, atau berkurang Rp 27 triliun.

Hidayat menegaskan seharusnya pemerintah menambahkan anggaran bansos bukan malah memotongnya. Menurutnya, hal itu selain mengembalikan kepercayaan rakyat akibat korupsi dana program bansos yang melibatkan Menteri Sosial Juliari Batubara, juga untuk meringankan beban akibat Covid-19.

Pasalnya, pandemi Covid-19, mengakibatkan lonjakan jumlah pengangguran dan meningkatnya angka kemiskinan yang masih akan terbawa hingga 2021.

Karena itu, HNW meminta Mensos Tri Rismaharini dan Kemensos sebagai pelaksana anggaran untuk memprioritaskan perjuangan peningkatan anggaran perlindungan sosial dan bansos tunai khususnya, minimal sama dengan 2020. Selain itu Mensos Risma juga harus memastikan validitas data penerima bansos, dan menjaga agar benar-benar tidak terjadi pemotongan bantuan di lapangan.

“Pada dasarnya saya apresiasi peluncuran bansos tunai yang menggantikan bansos sembako, tapi setelah saya cek, kenapa anggarannya berkurang besar sekali hingga Rp 27 triliun?” kata Hidayat dalam siaran persnya, Selasa (5/1).

Artinya, lanjut Hidayat, akan banyak penerima bansos 2020 yang belum bangkit ekonominya akibat Covid-19, malah makin banyak lagi yang tidak mendapatkan bantuan tunai dari pemerintah.

Anggota Komisi VIII DPR Fraksi PKS itu menjelaskan bansos tunai tahun 2021 yang diluncurkan Presiden Jokowi merupakan kelanjutan dari bansos tunai non-Jabodetabek dan bansos sembako Jabodetabek, sebagai bagian dari program perlindungan sosial.

Pada 2020, kata dia, bansos tunai non-Jabodetabek mendapatkan alokasi anggaran Rp 32,5 triliun dan bansos sembako Jabodetabek dialokasikan Rp 6,5 triliun, sehingga total Rp 39 triliun.

Namun, pada 2021 sebagai keberlanjutan kedua bansos tersebut, anggarannya dikurangi hingga tinggal Rp 12 triliun, artinya terdapat pemotongan Rp 27 triliun. Padahal, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2020 setidaknya 5,1 juta orang kehilangan pekerjaan, 24 juta orang mengalami pengurangan jam kerja, dan jumlah penduduk miskin meningkat hingga 27 juta jiwa.

“Ini belum memasukkan jumlah penduduk sangat rentan miskin yang telah diselamatkan oleh bansos sebanyak 3,4 juta jiwa menurut klaim menkeu, atau 8,5 juta menurut perhitungan Bank Dunia,” jelasnya. Karena itu, sosok yang karib disapa HNW itu meminta Mensos Tri Rismaharini fokus memprioritaskan pengembalian anggaran bansos minimal sama dengan 2020.

Dia menambahkan Kemensos juga harus mempersiapkan mekanisme pelaporan yang mudah diakses oleh Publik. Supaya anggaran bansos tunai itu benar-benar membantu rakyat terdampak Covid-19. “Dan, agar korupsi dana bansos tidak terulang lagi,” pungkasnya. (jpnn)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional