Menu

Andre Rosiade Minta Menteri BUMN Fokus Penyelamatan Garuda

  Dibaca : 243 kali
Andre Rosiade Minta Menteri BUMN Fokus Penyelamatan Garuda
Andre Rosiade— Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade dan Menteri BUMN Erick Thohir

ADINEGORO, METRO–Rendahnya tingkat penerbangan akibat pandemi Covid-19 membuat PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) kesulitan untuk bertahan. Apalagi ditambah dengan utang Garuda yang kini mencapai Rp70 triliun dan diperkirakan bertambah Rp1 triliun tiap bulannya. Selain itu, kesulitan Garuda Indonesia tercermin dari penawaran pensiun dini yang ditawarkan kepada karyawan.

Menanggapi masalah tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI yang mem­bidangi masalah BUMN Andre Rosiade menilai banyak permasalahan di tubuh Garuda Indonesia yang perlu segera dibe­nahi. Dia berharap peran aktif dan focus ­pemerin­tah­­ terutama Menteri BUMN Erick Thohir untuk segera melakukan penyelamatan bagi maskapai kebanggaan nasional Indonesia ini.

“Kondisi industri pener­bangan saat ini memang terpuruk akibat pandemi. Tetapi saya berharap Indonesia tetap memiliki mas­kapai penerbangan nasio­nal atau national flag carrier yaitu Garuda Indonesia,” kata Andre dalam keterangan tertulis, ­ke­marin

Ketua DPD Partai Ge­rin­dra Sumbar itu juga men­jelaskan pada rapat se­be­lumnya sudah dise­pakati antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN Erick Thohir bahwa pemerintah telah menye­tujui akan memberikan dana talangan atau pinja­man kepada PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) se­be­sar Rp8,5 triliun. Namun yang dicairkan oleh Men­teri Keuangan Sri Mulyani hanya Rp1 triliun.

“Tahun lalu kita sudah memberikan solusi bersa­ma, bahwa tahun lalu itu Komisi VI DPR RI dan Ke­men­terian BUMN me­nye­tu­jui pinjaman Rp8,5 triliun ke Garuda Indonesia. Tapi faktanya, yang cair itu hanya Rp1 triliun dari Men­teri Keuangan yang akhir­nya menyebabkan perma­salahan Garuda Indonesia ini menjadi berdarah-da­rah,” tuturnya.

Oleh karena itu, Andre menilai pemerintah Indonesia tidak sepenuhnya mendukung penyelama­tan mas­kapai Garuda Indonesia. Sebab, lanjutnya, Sri Mulyani tidak menjalankan keputusan rapat antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN.

“Jadi kita harus cari solusi yang terbaik. Kalau pemerintah mau mendu­kung sepenuhnya ya du­kung, jangan di depan mau dukung tapi di belakang setengah hati. Menteri BUMN pasangan badan tapi Menteri Keuangannya tidak mau mendukung,” ung­kapnya.

Dengan demikian, An­dre mendesak Erick Thohir untuk mengingatkan Sri Mulyani pada saat rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo terkait tidak dilaksanakannya kepu­tu­san rapat antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN dalam opsi penye­la­matan Garuda Indonesia da­lam memberikan dana talangan sebesar Rp 8,5 triliun.

“Nah ini menjadi PR ­(pe­kerjaan rumah, red)­ ­baru buat kita semua. Jadi Menteri Keuangan ini ha­rus segera diingatkan, ka­lau sudah ada kesepa­ka­tan antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN ya harusnya dilak­sa­na­kan,” tukasnya.

“Jadi ini penting untuk menjadi catatan Pak Men­teri agar segera dibawa ke ratas (rapat terbatas) de­ngan Presiden Jokowi bah­wa jangan sampai kesepa­ka­tan antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN tidak bisa berjalan karena Menteri Ke­ua­ngan,­­” tambah Andre.

Sebelum melakukan ra­pat, Andre bersama Erick Thohir juga menemui Seri­kat Pekerja Garuda Indonesia yang menyampaikan aspirasinya ke Komisi VI DPR RI untuk penye­la­matan national flag carrier Garuda Indonesia yang kini terancam kebera­daan­nya akibat kondisi ke­ua­ngan yang terus merugi. Me­reka berharap perusa­haan maskapai nasional itu tetap dipertahankan dan tidak direstrukturisasi dan diganti menjadi peru­sa­haan maskapai nasional yang baru.

Di samping itu, Andre juga memaparkan dugaan praktek korupsi yang terja­di di tubuh Garuda Indonesia pada masa manajemen sebelumnya baru terasa di era pandemi Covid-19 ini. Itulah yang membebani manajemen Garuda Indonesia saat ini akibat utang masa lalu.

“Kita tahu bahwa mana­jemen Garuda Indonesia saat ini terbebani utang masa lalu, bahkan diduga kita mendengar bahwa pesawat Garuda itu bisa break event point 100% kalau bisa terisi 40% di sayap kanan dan sayap kiri itu terisi karena dugaan korupsi dan dugaan mark up yang luar biasa,” papar Andre.

Ia menjelaskan, praktik dugaan korupsi dan mark up dana perusahaan tidak ter­endus pada era sebe­lumnya yang membuat perusahaan terus merugi karena pada saat itu pe­ner­bangan masih normal dan masih bisa gali lubang tutup lubang untuk menu­tupi keuangan perusa­ha­an.­­ ”Nah ini terbongkar pada saat kita menghadapi pandemi saat ini karena sudah tidak ada lagi pema­sukan di Garuda,” im­buh­nya.

Meski demikian, Andre tetap mengapresiasi ma­na­jemen Garuda Indonesia yang kini dipimpin oleh Irfan Setiaputra sebagai Direktur Utama. Sebab, saat ini bisnis kargo Garuda Indonesia bisa tembus di angka 30% dan kadang mencapai 50% yang sela­ma ini hanya mencapai 10% saja pendapatannya.

“Terus terang saya me­ng­apresiasi mana­jemen baru, meskipun penum­pang tidak ada mereka bisa melakukan terobosan dan sekarang kargo sudah tem­bus di angka 30% hing­ga 50%. Dulu pendapatan Garuda dari kargo itu ha­nya 10% dan sekarang su­dah hampir setengahnya,” tandas Andre. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional