Menu

Andre Rosiade Kawal Moratorium Pendirian Pabrik Semen baru di Kutai Timur

  Dibaca : 68 kali
Andre Rosiade Kawal Moratorium Pendirian Pabrik Semen baru di Kutai Timur
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade menyampaikan kegelisahan masyarakat mengenai keberadaan pabrik semen baru di Kutai Timur, Kalimantan Timur.

ADINEGORO, METRO–Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade menyampaikan kegelisahan ma­syarakat mengenai keberadaan pabrik semen baru di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Padahal menurutnya su­dah ada moratorium pembangunan pabrik semen. Andre tak ingin ada lagi pa­brik-pabrik semen baru dibuka di Indonesia.

”Informasi yang saya terima dari Serikat Pekerja Pabrik Semen Indonesia, ribuan buruh te­rancam terkena PHK ka­rena Pak Menteri mem­beri­kan izin pembangunan pabrik semen baru di Kali­mantan Timur. Padahal di Pulau Kalimantan itu sudah ada dua pabrik semen. Pertama, pabrik Indo­ce­ment dan kedua, pabrik semen China,” kata Andre dalam keterangan tertulis, kemarin.

Dalam rapat kerja Ko­misi VI DPR RI dengan Men­teri Investasi Bahlil Bahlil Lahadalia itu, Andre Rosiade pun menagih janji yang sempat disampaikan Bahlil saat rapat kerja de­ngan Komisi VI tahun lalu, bahwa tidak ada lagi izin pembangunan pabrik semen baru di Indonesia.

”Padahal kita tahu dari tahun lalu saat rapat de­ngan Menteri BUMN, Men­teri Perindustrian dan ba­pak masih menjadi Kepala BKPM, sudah menjanjikan kepada kita semua di ruang rapat ini, tidak ada lagi izin pembangunan pabrik semen baru,” tan­dasnya.

Ketua DPD Partai Ge­rin­dra Sumatra Barat itu me­ngatakan keberadaan pa­brik semen baru akan langsung membuat pro­duksi semen dalam negeri surplus. Kondisi tersebut dinilainya dapat mengan­cam keberadaan peru­sa­haan semen lama di Indonesia.

”Supaya Pak Menteri tahu, utility pabrik semen saat ini hanya 68%, oversupply per tahun itu su­dah 42 juta ton. Per­ta­nyaan saya, pabrik semen baru itu diper­gu­nakan untuk membunuh industri semen yang lama atau apa Pak Menteri?” terangnya.

”Apakah kita bangun pabrik semen dari Tiongkok di Kalimantan, lalu kita bunuh pabrik-pabrik semen yang lain? Padahal kita sudah oversupply 42 juta ton dan utility kita hanya 68%,” lanjutnya.

Sementara itu, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menjelaskan pemerintah telah mengetahui kondisi oversupply semen yang terjadi di berbagai wilayah, kecuali Papua. Oleh karena itu, izin hanya diberikan pada pabrik semen baru di Papua.

”Sementara untuk Kali­man­tan, itu termasuk da­lam kategori investasi mang­krak senilai Rp 708 tri­liun yang berorientasi untuk ekspor sekitar 90%. Jadi produknya 90% di­ekspor dan 10% untuk lo­kal,” ujar Bahlil.

Terkait ekspor semen, dia memastikan negara memiliki instrumen untuk mengontrolnya. Sehingga para pelaku industri semen tidak perlu khawatir.

”Negara punya instru­men untuk mengontrol itu. Tinggal sekarang sebe­rapa besar pejabat negara mengontrol itu punya nu­rani atau tidak. Kalau untuk saya, tidak usah diragukan. Ada pernyataan di atas akta notaris, saya katakan kalau ‘you’ punya barang tidak untuk ekspor, maka akan kita cabut izinnya. Saya tidak ingin investasi yang masuk itu merusak industri di dalam negeri,” tegas Bahlil. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional