Menu

Andre Rosiade: Hasil Survei Poltracking Lucu Mirip Srimulat

  Dibaca : 139 kali
Andre Rosiade: Hasil Survei Poltracking Lucu Mirip Srimulat
Andre Rosiade

ADINEGORO, METRO
Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar Andre Rosiade menganggapi hasil survei Pilgub Sumbar ala Poltracking sebagai lucu-lucuan. Bahkan, anggota DPR RI ini menyebut hasil yang menyatakan Mulyadi-Ali Mukhni itu unggul mutlak dari pesaingnya sampai 49,5 persen sama halnya dengan menonton grup lawak Srimulat yang sangat lucu. Bedanya, Srimulat murni lucu, kalau ini dibuat-buat.

“Bagi kami, hasil survei yang direlis Poltracking ini tidak usah dianggap serius. Ini diduga hanyalah strategi dari membangun opini, kalau seakan-akan Mulyadi menang Pilgub Sumbar. Tentunya, ini akan sangat memengaruhi reputasi Poltracking di masa depan, andai angka yang didapat di bawah 49,5 persen dan Mulyadi kalah,” kata anggota dewan Pembina Partai Gerindra ini, Kamis (5/11).

Bahkan, Andre menyebutkan, akan menyiarkan kelucuan ini secara masif andai hasil di Pilgub 9 Desember 2020 nanti meleset jauh. Apalagi survei yang direlis terakhir, hanya berjarak sekitar sebulan dari masa pencoblosan. “Tentu hasil yang direlis setidak-tidaknya mendekati hasil asli nanti. Ingatlah, ini adalah pertaruhan bagi Poltracking, meleset, maka risiko ditanggung sendiri dan akan kami umumkan,” kata anggota Komisi VI DPR RI ini.

Hasil yang diumumkan ini, sebut Andre, ada dugaan, lembaga survei ini merangkap konsultan dan juga canvassing. Karena diduga kental dengan cara-cara memengaruhi opini publik jelang Pilgub Sumbar. Hal ini sangat disayangkan dan banyak pihak yang meragukan, bahkan sejumlah peneliti di Sumbar dan nasional.

“Kami juga telah melihat sejumlah hasil survei dari beberapa lembaga yang tidak dipublikasikan. Hasilnya hampir sama semua, Mulyadi tidak sampai 49,5 persen, masih di bawah 30 persen saja. Bahkan, angkanya masih berpacu-pacu atau bersaing ketat dengan Nasrul Abit. Ini kami duga, lembaga surveinya abal-abal dan tidak masuk akal,” kata Andre Rosiade.

Andre meminta kader-kader Gerindra dan simpatisan Nasrul Abit-Indra Catri (NA-IC) tidak terpengaruh dengan survei lucu-lucuan yang membuat seakan-akan Mulyadi sudah menang. Tentunya, ini diduga bagian dari kampanye dari calon yang dibeking lembaga survei untuk memenangkan opini publik.

“Kami juga baca sejumlah opini yang menolak mengakui survei ini karena angkanya dibuat sangat fantastis. Apalagi dibandingkan dengan hasil Pilgub Sumbar 2005 yang dimenangkan Gamawan Fauzi dengan hanya 41 persen. Apalah hebatnya calon yang diagung-agungkan oleh lembaga ini dibandingkan Gamawan yang begitu disukai dan dicintai warga Sumbar saat itu,” kata Andre yang juga ketua harian DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM) ini.

Peneliti ABC Riset & Consulting (Arah Baru Center), Erizal, meragukan hasil survei Poltracking pada Pilkada Sumbar 2020. Hasil yang ia ragukan ialah elektabilitas Mulyadi-Ali Mukhni.

“Saya percaya urutan elektabilitas hasil survei itu: pertama Mulyadi-Ali Mukhni, kedua Nasrul Abit-Indra Catri, ketiga Mahyeldi-Audy, keempat Fakhrizal-Genius Umar. Tapi, saya tidak percaya angkanya setinggi itu,” ujar Erizal saat dihubungi di Padang, Selasa (3/11).

Berdasarkan hasil survei Poltracking yang diumumkan pada Selasa (3/11) di Grand Inna Hotel Padang, elektabilitas Mulyadi-Ali Mukhni 49,5 persen, Nasrul Abit-Indra Catri 21,3 persen, Mahyeldi-Audy 17,1 persen, dan Fakhrizal-Genius Umar 6,2 persen. Lembaga tersebut menggelar survei pada 19—23 Oktober 2020. Metodenya stratified multistage random sampling. Jumlah sampelnya 1.200 responden. Margin of error survei ini kurang lebih 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Erizal memiliki beberapa alasan untuk meragukan hasil survei itu. Pertama, berdasarkan hasil survei Poltracking itu, 3,7 persen masyarakat Sumbar yang belum punya pilihan. Menurutnya, angka itu terlalu kecil karena masih banyak masyarakat yang belum menentukan pilihan. Meski tidak bisa memastikan jumlah angkanya, ia menilai bahwa angka masyarakat yang belum menentukan pilihan lebih dari 3,7 persen.

Alasan kedua Erizal ialah mustahil elektabilitas Mulyadi-Ali Mukhni 49,5 persen. Ia membandingkan angka elektabilitas itu dengan angka kemenangan Gamawan Fauzi pada Pilkada Sumbar 2005.

Alasan ketiga Erizal ialah tingkat popularitas Nasrul Abit yang terlalu jauh dengan elektabilitasnya. Berdasarkan hasil survei Poltracking, popularitas Nasrul Abit 85,5 persen, Mulyadi 82,5 persen, Mahyeldi 81,3 persen, dan Fakhrizal 53,4 persen. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional