Menu

Andre Rosiade dan Kemanusiaan

  Dibaca : 814 kali
Andre Rosiade dan Kemanusiaan
Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menyerahkan masker kepada Direktur Medik dan Keperawatan dr Rose Dinda Martini sebagai alat pelindung diri (APD) bagi paramedis yang bertugas.

PEKAN lalu saya dihubungi Anggota DPR RI asal Sumbar Andre Rosiade. Hari masih pagi, agak mendung, dan hujan sebentar lagi bisa saja turun. Dia cuma berpesan, tepatnya minta tolong untuk menyerahkan bantuan kepada warga di Lubukbuaya, Kototangah, Padang. Mungkin dia berpikir, karena kantor saya di Lubukbuaya, jadi dekat.

Okelah, saya coba cari alamatnya, dan memberikan dana yang dikirimkan Andre via saya. Saat mengantarkan bantuan itulah saya begitu haru dengan kondisi rumah yang sebenarnya tak layak. Ternyata, rumah itu bukan pula punya pemiliknya, atas nama kakaknya. Katanya juga mau dijual. Kalau terjual, tak tahu lagi dimana janda beranak lima itu tinggal. Ibu itu juga menderita kanker payudara.

Akhirnya, setelah saya pergi, ada lagi masuk pesan di whatsapp dari orang yang sama. Tanggung berendam, saya juga turut sampai mengantarkan bantuan serupa di Lubukbegalung dan Lubukkilangan. Mereka yang menerima bantuan benar-benar tak punya beras. Mereka terancam kelaparan. Berdosalah tetangganya, kalau mereka lapar di tengah pandemi covid-19 ini.

Hari itu, saya terus terpikir apa yang terjadi begitu berbahaya. Pandemi ini benar-benar telah menyerang begitu akutnya, sampai-sampai semua roda perekonomian tak bergerak. Sementara, bantuan yang dijanjikan pemerintah pusat, Rp600 ribu per kepala keluarga per bulan, entah dimana. Sampai akhir pekan lalu di Sumbar saja, baru tiga daerah yang membagikannya;  Agam,  Sawahlunto dan Padangpanjang.

Benarlah, sebelum pemerintah sampai membantu warganya, orang-orang seperti Andre Rosiade sangat dibutuhkan. Terlepas dari pro dan kontra, apa yang dilakukannya itu adalah pencitraan atau bukan. Setiap penerima bantuan dari Andre itu begitu berterima kasih, bahkan berulang-ulang. Kalau direkam jadi video, testimoni itu mengalir begitu dalam, dan bisa saja membuat kita meneteskan air mata. Saya hampir.

Tak perlu menjadi siapa-siapa untuk berbuat seperti Andre. Cukuplah menjadi manusia yang diciptakan sejak semula, maka tak akan ada yang tahan mendengar orang tidak makan dua hari, tak ada bekal untuk berpuasa, sampai tak ada lagi yang mau diolah di dapur. Sementara pekerjaan sudah tak lagi bisa diharapkan – saat pandemi meluluhlantakkan semua pitmas (pitih masuak). Rasa kemanusiaan lah yang bertindak.

Bahkan, artis top selevel Luna Maya sendiri telah mengaku zero income atau nol pendapatan. Konon lah lagi sopir travel, tukang parkir, sampai penyewa tanaman untuk baralek yang uang hariannya pas untuk makan sehari-hari. Tak ada bekal apalagi tabungan saat krisis hebat ini menyerang. Katanya lebih ngeri dari krisis moneter 1998 lalu.

Sepanjang wabah corona ini, Andre memang tampil di depan. Amanah sebagai anggota DPR RI benar-benar dijalankannya. Di awal-awah “tren corona” muncul, Andre sudah langsung terjun ke Sumbar untuk memberikan bantuan ribuan masker untuk RSUP M Djamil dan Semen Padang Hospital (SPH). Hari itu, sudah banyak orang dengan suspect SARS-CoV-2 yang dirawat di rumah sakit rujukan itu.

Andre berpikir, memberikan masker kepada paramedis adalah langkah awal, agar mereka bisa bekerja dengan baik. Karena hari itu di Jakarta, sudah ada dokter dan perawat yang sampai meninggal karena corona virus. Tak main-main, ribuan masker itu diterima dengan baik oleh direksi kedua rumah sakit. Mereka juga meminta Andre mencarikan alat pelindung diri (APD) yang langka hari itu.

Benar saja, Andre terus memberikan bantuan untuk paramedis berupa APD yang dibagikan hampir di seluruh rumah sakit di Sumbar. Tidak dengan dana pemerintah, mayoritas bantuan itu berasal dari kantong pribadinya. Karena, kalau menunggu pemerintah, akan sangat lama mengalirkan bantuan. Ratusan APD dari Andre telah diterima paramedis di Padang dan Kabupaten/Kota lain.

Andre tak bergerak sendiri, sebagai ketua DPD Gerindra Sumbar, dia memaksimalkan semua kader baik di dewan atau tidak untuk menyalurkan. Ini juga menjadi stimulus bagi para politisi Gerindra untuk berbuat yang sama. Jadilah, semua Fraksi-Gerindra di Sumbar saling berlomba memberikan bantuan serupa. Bahkan seperti bersepakat mengalihkan dana pokok pikiran (pokir) mereka untuk penanganan covid-19.

Selain membantu paramedis, Andre dan tim juga terus bergerak membagikan ribuan sembako pada tahap awal, jelang Ramadhan 1441 datang. Kota Padang menjadi sasaran utama, karena merupakan ibu kota dengan tingkat kerawanan pangan, karena mayoritas bukan petani. Sembako itu menyebar ke semua pelosok daerah, dan diterima yang layak. Karena, tim juga mengumpulkan KK, agar bantuan tepat sasaran.

Di sela pembagian sembako, Andre menggelontorkan ribuan botol hand sanitizer atau cairan pembersih tangan yang masih sangat langka hari itu. Tim juga melakukan sosialisasi tentang pentingnya kebersihan tangan melawan virus jahat yang kabarnya datang dari Wuhan Cina itu. Di jalan-jalan, sampai ke tempat-tempat keramaian, hand sanitizer dibagikan. Kalau ditanya harga, saat itu untuk sebotol kecil saja sampai Rp50 ribuan.

Tak cukup sampai di sana, di tengah kelangkaan masker – apalagi saat negara mewajibkan memakai masker untuk semua orang, Andre kembali hadir. Puluhan ribu masker dibagikan Andre di 19 Kabupaten/Kota yang ada di Sumbar. Para ketua DPC Gerindra setempat menjadi ujung tombak membagi-bagikannya. Padahal, harga masker sedang menggantung di langit dan tak turun-turun. Belum lagi para penimbun dan spekulan masker sedang bersenang-senang dengan keuntungan yang berlipat.

Apa lagi? Setelah ribuan sembakonya terbagi habis, Andre lanjut membagikan 20 ton beras untuk Kota Padang, Dharmasraya, Sijunjung, Sawahlunto dan Kota Pariaman. Beras, adalah simbol ketahanan pangan yang dianggap mampu membuat warga bertahan, setidaknya sampai bantuan yang bertingkat-tingkat itu datang. Banyak yang mengaku selamat dengan beras bantuan itu. Pembagian ini dilakukan awal Ramadhan. Alhamdulillah. Andre lagi, Andre lagi.

Untuk melengkapinya, Andre mengirimkan lagi puluhan wastafel portabel atau tempat pencuci tangan untuk rumah sakit dan tempat-tempat umum lainnya. Sejumlah disinfektan chamber atau bilik steril juga dikirimkan ke Kabupaten/Kota di Sumbar. Meski tak digunakan untuk manusia, alat itu efektif digunakan mensterilkan barang-barang yang masuk ke rumah sakit atau tempat tertentu.

Informasinya, pekan ini dan pekan depan, Andre menggelontorkan APD senilai Rp500 juta ke Sumbar. Terdiri dari APD set (masker, baju cover all, kacamata google, hair set, sarung tangan), APBD disposable, masker medik, sepatu medik, hand sanitizer, pompa disinfektan, sampai cairan disinfektan. Timnya mengaku sedang memastikan barang-barang ini diterima oleh yang membutuhkan.

Pertengahan Ramadhan, Andre dan tim juga datang lagi dengan pembagian sembako sebanyak 10 ribu paket. Tentunya ini akan menjadi paket penyempurna warga Sumbar, andai bantuan jaringan pengaman sosial (JPS) sudah cair. Paling tidak bisa menjadi penghibur bagi mereka yang tak mendapatkannya. Kabarnya, Andre juga akan menutup Ramadhan dengan membagi-bagikan ribuan bajo koko untuk garin atau marbot masjid/mushalla se-Sumbar.

Apa sudah selesai, belum. Andre masih akan gelisah, apalagi sekarang WA dan media sosialnya dipenuhi orang yang minta bantuan. Atau pak RT yang minta warganya dibantu. Kemarin, dia juga meminta saya memberikan bantuan untuk dua keluarga miskin yang tinggal di rumah kayu di Balai Gadang, Kototangah, Padang. Tak ada beras yang akan mereka makan.

Kerja sebagai tukang bangunan tak lagi menjanjikan. Bahkan, di rumah itu, ada anak berkebutuhan khusus yang tak mendapatkan perawatan semestinya. Andre mengirimkan sembako dan uang tunai untuk mereka menjalani Ramadhan. Andre bukan calon Gubernur 2020, dia mungkin saja hanya tak tahan melihat orang lain menderita. Sudah, itu saja. (*)

Editor:
Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional