Menu

Aliran Batang Guo Kuranji Kikis Tebing Sungai, Satu Rumah Terancam Ambruk

  Dibaca : 490 kali
Aliran Batang Guo Kuranji Kikis Tebing Sungai, Satu Rumah Terancam Ambruk
WASWAS— Janar (55) melihat Batang Guo Kuranji yang aliran airnya sudah semakin dekat dengan rumahnya di Kelurahan Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji. Janar dan keluarganya diliputi rasa was-was dan khawatir, terutama saat hujan tiba.

GUNUNG SARIK, METRO – Satu rumah yang berada di RT 01 RW 03 Kelurahan Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, terancam ambruk. Hal ini disebabkan, rumah yang ditempati Janar (55) dan lima orang keluarganya itu hanya tinggal berjarak 1 meter saja dari aliran Batang Guo Kuranji.

Kondisi ini membuat Janar dan keluarganya selalu was-was, terutama saat hujan dan air sungai bervolume besar. ”Dengan kondisi rumah yang sudah terlalu dekat dengan aliran sungai ini, kami sangat khawatir sekali. Apalagi kalau malam hari saat kami istirahat ada hujan, kami tambah khawatir lagi. Sebab, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Janar, Minggu (25/11).

Janar menambahkan, dulu saat rumah itu dibangun, jaraknya dengan aliran sungai 5 meter. Namun lama-kelamaan, tanah-tanah di belakang rumahnya mulai terkikis hingga menyisakan 1 meter saja. Tanah yang 1 meter itu pun tidak lagi setinggi lantai rumahnya, sebab sudah mulai berjatuhan ke sungai.

Terkikisnya tanah di belakang rumahnya itu ungkap Janar, paling parah dialaminya beberapa waktu lalu. Aliran sungai yang besar dan deras, sehingga meluapkan airnya ke jalan dan menyebabkan banjir.

Oleh karena itulah, agar tidak memperparah pengikisan itu, ia melakukan penanaman pohon di lahan yang tersisa. Kemudian, ia juga memasang balok-balok beton. ”Saya menanam pohon pinang dan mangga di belakang rumah. Ini dimaksudkan agar tanah tetap kuat dan bisa menahan air,” ungkap Janar yang berprofesi sebagai tukang ini.

Namun begitu terang Janar, upaya yang dilakukannya ini, masih membuatnya merasa khawatir dan was-was. Ia berharap adanya bantuan pemerintah untuk penahan yang lebih kuat dan permanen seperti dipasang batu beronjong atau pondasi.

Janar mengaku sudah melaporkan kondisi yang dialaminya tersebut ke kelurahan serta memasukkan proposal ke Pemko untuk bantuan batu beronjong ini pada 2018. “Namun kami belum ada terima kabar selanjutnya,” tukasnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Padang, Fatriarman Noer mengatakan, dalam aturannya, warga dilarang melakukan pembangunan di garis sempadan sungai. Hal ini untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. ”Selebar 25 meter dari aliran sungai, tidak boleh dibangun. Namun warga masih saja melakukan pembangunan di sempadan sungai,” tegasnya.

Terkait persoalan yang ada di Kelurahan Gunung Sarik ini, Fatriarman meminta warga untuk mengajukan surat yang diketahui lurah atau camat dan ditujukan ke Dinas PUPR Kota Padang. Selanjutnya terang Fatriarman, pihaknya akan turun ke lapangan untuk melakukan survei guna menentukan langkah yang akan diambil selanjutnya.

Garis sempadan sungai sendiri merupakan garis batas luar pengamanan sungai yang membatasi adanya pendirian bangunan di tepi sungai dan ditetapkan sebagai perlindungan sungai. Jaraknya bisa berbeda di tiap sungai, tergantung kedalaman sungai, keberadaan tanggul, posisi sungai, serta pengaruh air laut. (uki)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional