Menu

Ahli Tinjau Penyebab Tercemarnya Danau Diatas, Massa Air Dasar Naik, Hewan Lambat Mati

  Dibaca : 116 kali
Ahli Tinjau Penyebab Tercemarnya Danau Diatas, Massa Air Dasar Naik, Hewan Lambat Mati
AMBIL SAMPEL— Akademisi dan tim ahli melakukan pengambilan sampel saat meninjau Danau Diateh, Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumbar, Senin (13/5). (milna miana/posmetro )

PADANG, METRO – Setelah melakukan penelitian sekitar satu bulan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar bersama akademisi dan tim ahli akhirnya dapat memecahkan misteri pencemaran air di Danau Diatas, Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.

Teka-teki itu terjawab ketika peninjauan lapangan tim ahli yang dimotori DLH Sumbar berdasarkan pengamatan dan pengambilan beberapa sampel mulai dari permukaan dangkal dan kedalaman pada danau.

Dalam peninjauan itu dapat disimpulkan sementara, telah terjadi peristiwa naiknya massa air dasar danau ke permukaan (upwelling). Kenaikan bisa disebabkan perbedaan suhu air dan gempa. Akibatnya air keruh dan binatang dasar danau mati.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta (UBH), Hafrijal Syandri yang mewakili akademisi dari tim ahli mengatakan, dari pantauan dan pengambilan beberapa sampel di beberapa titik, ditemukan banyak jenis hewan dasar danau dengan pergerakan lambat mati seperti Siput (gastropoda) dan Lipabia.

Hafrijal menjelaskan, kenaikan dasar danau disertai belerang menyebabkan Hidrogen Sulfida (H2S) tinggi dan beracun sehingga juga menyebabkan kematian pada hewan dan perubahan warna air. Kematian hewan menimbulkan bau amis yang tecium di sekitar danau.

“Penyebabnya bisa dari gempa, dan tanpa gempa pun bisa. Kami akan fokus mendalami penyebab ini,” terang Hafrijal dalam keterangan tertulis, Senin (13/5).

Menurut Hafrijal, riwayat gempa sebelum pencemaran juga akan menjadi bahan kajian, ditambah jalur gempa Danau Singkarak, Diatas dan Dibawah dan Danau Kerinci. “Dugaan dari gempa juga bisa sebab sebelumnya ada riwayat gempa sebelum tercemar,” ulas Hafrijal.

Sementara Ahli Biologi Universitas Andalas (Unand), Jabang Nurdin menambahkan, dari sampel yang diambil, hampir 80 persen hewan bentos (dasar air) mati seperti siput, dan hewan gerak lambat lainnya ikut mati. Sedangkan, ikan karena geraknya cepat bisa selamat dari proses upwelling ini.

“Tim juga akan meneliti apakah ada dari pengaruh organisme seperti bakteria yang menyebabkan pencemaran danau,” kata Jabang Nurdin.

Kesimpulan tim ahli diperkuat oleh Gusnawati (57) warga pinggir danau yang mengaku mendengar warga lain melihat fenomena air menggelembung dari tengah danau sebelum tercemar. “Ada warga yang melihat air menguap dan menggelembung seperti lumut berwarna kuning,” ujar Gusnawati.

Sejak saat itu air danau menguning dan berbau, ujar Gusnawati, warga khawatir dan tidak memanfaatkan danau seperti biasanya untuk minum, mandi dan mencuci. Namun saat ini sudah mendingan bersih dari dua bulan sebelumnya.

Kepala DLH Sumbar, Siti Aisyah menyebutkan, penelitian guna memastikan dan menemukan penyebab pencemaran danau. Pasalnya pencemaran menimbulkan keresahan ditengah masyarakat sekeliling danau.

“Dua minggu ke depan akan ada hasil dari tim ahli, tadi sudah kita ambil beberapa sampel di permukaan dan kedalaman termasuk di Itake PDAM,” katanya. (mil)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional