Menu

Ada Tari Telanjang di Kota Padang

  Dibaca : 5370 kali
Ada Tari Telanjang di Kota Padang
Ketua DPC PPP Kota Solok Herdiyulis, perwakilan Audy Joinaldy yang menyerahkan bantuan APD untuk Tagana Kota Solok.
Penari streaptess di Pengadilan Negeri padang -- web

Dengan memakai kerudung, Putri, terdakwa kasus striptis keluar dari ruang tahanan sementara Pengadilan Negeri Padang. Selasa (29/09/2015), Putri yang tertangkap di Tee Box, menjalani sidang perdana.

PADANG, METRO–Putri (22), gadis manis yang dituduh melakukan tarian striptis (telanjang-red) di Room Karaoke Tee Box akhirnya diseret ke ruang sidang Pengadilan Negeri Padang, Selasa (29/9). Tidak hanya sang penari yang diseret ke meja hijau, para lelaki yang jadi penikmat dan menjanjikan bayaran juga ikut jadi terdakwa, namun sidangnya terpisah.

Sidang perdana yang beragendakan pembacaan dakwaan, sengaja digelar tertutup. Selain pembacaan dakwaan, karyawan Tee Box dan pimpinan Tee Box juga memberikan keterangan sebagai saksi, terkait aktivitas tarian striptis di tempatnya. Sayangnya, sidang tak bisa diakses publik karena berlangsung tertutup. Tak ada yang boleh masuk ke ruang sidang, kecuali terdakwa, hakim, JPU, panitera serta saksi.

Dalam dakwaannya JPU disebutkan, Putri digerebek sedang melakukan tarian striptis di Room Karaoke Tee Box nomor 213 pada akhir Mei lalu. ”Ketika digerebek, terdakwa sedang menari striptis,” terang JPU dari Kejari Padang Afliandi.

Awalnya, Putri dan rekannya, Dian Ade Shella sedang karaoke di tempat hiburan. Sedang asyik karaoke, kemudian datang Doni Osman dan Rico Defmalianto meminta untuk ditemani karaoke di Tee Box. Keduanya lalu pergi ke sana, dengan perjanjian memberikan fee Rp150 per jam. Di ruang karaoke, juga ada Heri, Zico, dan Ruli.

Di Room Karaoke Tee Bbox, mereka bernyanyi bersama. Lalu, Heri merayu terdakwa supaya mau menari atau berjoget dengan membuka pakaian di hadapan para saksi yang ada di room tersebut, dengan janji memberikan uang sebesar Rp500 ribu sebagai bayarannya. Mendengar apa yang disampaikan Heri, akhirnya terdakwa menyetujui untuk melakukan tarian tanpa pakaian di hadapan para saksi.

Saksi yang berjumlah 5 orang ini meyetujui dan patungan untuk membayar penari tersebut. Setelah uang terkumpul terdakwa kemudian perlahan-lahan sesuai iringan musik terdakwa membuka satu persatu pakaian yang dikenakannya yang tinggal hanya celana dalam dan bra. Selanjutnya terdakwa naik ke box sound system sambil menari dengan gerekan erotis yang menggambarkan eksploitasi seksual yang diikuti oleh saksi.

Tak lama melakukan tarian tersebut, datanglah beberapa karyawan Tee Box mendobrak pintu room 213. Kemudian karyawan tersebut langsung menyuruh terdakwa mengenakan pakaiannya. Setelah itu langsung diserahkan ke Polresta Padang untuk pemeriksaan lebih lanjut. ”Perbuatan terdakwa diatur dan diancam dengan Pasal 34 UU RI nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi,” kata jaksa dalam dakwaannya.

Usai pembacaan dakwaan dan pemeriksaan saksi, majelis hakim yang diketuai hakim Dina Hayati mengundur sidang satu minggu dengan agenda pemeriksaan saksi.

Kasus tarian bugil ini secara nyata mencoreng nama Kota Padang yang dikenal sebagai kota religius. Pemko mestinya bersikap lebih agresif untuk melakukan pencegahan agar peristiwa ini tak terjadi lagi, termasuk memberikan sanksi kepada pengelola tempat hiburan malam yang lokasinya dijadikan tempat praktik perbuatan mesum. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional