Menu

Ada Bule Mabuk sambil Telanjang

  Dibaca : 1866 kali
Ada Bule Mabuk sambil Telanjang
LPM beserta pemerintahan kelurahan rawang mengadakan syukuran bersama suksesnya acara manunggal BBGRM tahun 2021 dengan makan bajambah bersama.

Stop pornografi - posmetro web

BATANG ARAU, METRO–Sosok religius yang melekat pada wali kota belum berimplikasi terhadap kereligiusan Kota Padang. Buktinya, hingga kini maksiat masih merajalela di ranah bingkuang ini.

Meski banyak warga yang mengeluh karena terganggu dengan keberadaan kafe dan karaoke yang disinyalir sebagai pengundang maksiat. Namun, tempat-tempat masih bebas beroperasi. Warga Batang Arau, Mice (35), kepada POSMETRO, Kamis (20/8), menyebut jika ia sudah lama mengeluhkan keberadaan kafe di sekitar rumahnya.

Selain mengeluarkan bunyi musik keras, pada malam hari, kata dia, kafe tersebut sering didatangi bule-bule dan menenggak minuman keras. Jika sudah mabuk, bule-bule tersebut bahkan sering berbuat tidak seenaknya, tanpa memperdulikan lingkungan.

”Sering bule-bule itu keluar dari sana dalam keadaan mabuk. Kalau sudah mabuk, mereka bahkan tidak tahu malu. Buka pakaian sampai telanjang. Sambil berdiri di dekat jembatan gantung,” ujar Mice.

Kondisi ini, kata dia, sudah berlangsung lama. Warga juga sudah pernah menyampaikan keresahan itu kepada kelurahan dan Sat Pol PP. Namun, sampai sekarang tempat hiburan malam tersebut masih beroperasi.

Pengakuan yang sama juga dilontarkan warga lain, Doni (32). Menurutnya, tidak hanya di Batang Arau ada kafe pengundang maksiat. Tapi juga di beberapa titik lain, yakni Jalan Cokroaminoto, Pulau Karam, Jalan Niaga, Nipah. Ada belasan titik kafe dan karaoke yang beroperasi setiap hari dan mengundang maksiat.

”Dan kebanyakan kafe-kafe serta karaoke itu entah memiliki izin atau tidak. Pemko baru sebatas membebaskan maksiat dari tenda ceper taplau. Tapi maksiat yang lebih ganas di kafe-kafe di kawasan Pondok ini tak berani disentuh,” ujarnya.

Ia mensinyalir, masih banyaknya kafe-kafe berbau maksiat beroperasi disebabkan karena campur tangan oknum petugas. ”Kalau tak ada yang membekingi, mana mampu mereka bertahan. Ketika petugas razia, mereka tidak buka. Tentu sudah bocor razianya,” terang Doni, berharap agar Pemko bisa bertindak tegas terhadap praktik-praktik maksiat di Kota Padang. Sehingga kota wisata yang religius bisa terwujud.

Kepala Sat Pol PP Padang Firdaus Ilyas mengakui, telah pernah menegur dan memanggil pemilik kafe di Batang Arau, namun tidak diacuhkan. Akan tetapi, sampai sekarang kafe tersebut masih tetap beroperasi.

”Kita segera tertibkan mereka. Dulu sebenarnya mereka sudah pernah ditegur dan dipanggil,” ujarnya.

Terkait dengan masih banyaknya kafe dan karaoke tidak berizin di Kota Padang, Firdaus mengaku tak bisa berbuat banyak. Menurutnya, sepanjang tidak ada permintaan dari SKPD terkait untuk menertibkan, Sat Pol PP tidak bisa menertibkan.

”Pol PP ini hanya eksekutor. Kalau ada permintaan penertiban dari SKPD terkait seperti BPMP2T, petugas pastilah menyikat semua kafe yang tak berizin itu. Tapi sepanjang tidak ada permintaan, kita mau berbuat apa,” ujar Firdaus.

Berbeda hal dengan penertiban sejumlah bangunan liar di Kota Padang. Dalam posisi itu, Sat Pol PP bisa langsung menertibkan, meskipun tanpa permintaan dari Dinas TRTB. (tin)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional