Menu

ABK Asal Padang Disandera Perompak Filipina

  Dibaca : 468 kali
ABK Asal Padang Disandera Perompak Filipina
Akira Nishiro
Kedua orang tua, memperlihatkan foto anaknya yang di sandera oleh perompak ke sejumlah awak media dirumahnya. Ranggi

Orang tua dari Wendi Rakhania (29), menunjukkan foto putra sulungnya yang ikut menjadi sandera oleh kelompok militan di Perairan Filipina.

PADANG, METRO–Sepuluh warga negara Indonesia (WNI) disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Perairan Filipina. Satu dari WNI tersebut adalah, anak buah kapal (ABK) asal Kota Padang, yakni Wendi Rakhania (29), warga RT 01/01 Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji.

Hingga Selasa (29/3) kemarin, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Manila membenarkan kabar adanya pembajakan kapal Indonesia di Filipina. Tak hanya kapal yang dibajak, tapi awak kapal juga disandera. Penjelasan ini menjawab kabar yang beredar tentang pembajakan kapal Indonesia di Filipina.

Awalnya, mereka membajak kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang membawa 7.000 ton batubara. Saat itu kapal dalam perjalanan dari Sungai Puting di Kalimantan Selatan menuju Batangas kawasan Fililina Selatan.

Kabar terakhir menyebutkan, kapal Brahma 12 telah dilepaskan. Saat ini sudah berada di tangan otoritas Filipina. Sementara kapal Anand 12 dan 10 orang awaknya masih berada di tangan pembajak. Namun, belum diketahui persis keberadaannya korban sekarang.

Untuk membebaskan 10 awak kapal itu, Abu Sayyaf meminta uang tebusan kepada pemerintah Indonesia. Tuntutannya tidak tanggung-tanggung, minta 50 juta peso atau sekitar Rp 14,3 miliar.

Dalam insiden tersebut, salah seorang korban adalah pemuda asal Kota Padang. Menurut penuturan sang ayah, Aidil (55), kepada wartawan Selasa (29/3), Wendi sudah pergi dari rumah untuk bekerja di atas kapal sejak tujuh bulan silam. Sejak saat itu pula, Wendi membantu membiayai hidup keluarga di rumah.

Terakhir, Aidil kontak dengan anak pertamanya itu pada 23 Maret lalu. Setelah itu, handphone sang anak tidak lagi bisa dihubungi. “Kami pasti cemas pak, apalagi dari berita yang kami lihat di internet, kapal tempat anak saya bekerja itu dibajak oleh perompak,” ucapnya.

Ditambahkan Aidil, pihak keluarga sendiri mendapatkan informasi tersebut dari perusahaan tempat sang anak bekerja. Di telepon, pihak perusahaan menuturkan kalau kapal yang ditumpangi oleh Wendi sedang dalam masalah. Selain itu, pihak perusahaan memastikan kondisi Wendi baik-baik saja saat itu.

“Kami agak sedikit lega karena perusahaannya bilang seperti itu. Tapi, kami tidak yakin karena dari berita yang beredar, perompak itu minta tebusan. Kalau sudah urusan seperti itu, saya khawatir dengan keselamatan anak saya,” jelasnya.

Sejauh ini, keluarga masih menunggu perkembangan kondisi Wendi dari perusahaannya. Keluarga sendiri masih diselimuti perasaan was-was dan takut akan terjadi apa-apa dengan Wendi. “Kami semua di Padang berharap dia aman saja di sana,” pungkas Aidil.

Info sementara dari KBRI Manila menyebutkan, memang ada kapal yang berbendera Indonesia dibajak dan krunya disandera di kawasan perairan dekat Filipina. “Iya, ada fakta kapal berbendera Indonesia dibajak dan krunya disandera” kata Sekretaris Pertama Fungsi Sosial-Budaya KBRI Manila Basriana melalui pesan pendek kepada wartawan, Senin (28/3).

Namun, Basriana belum dapat memastikan apakah pembajakan kapal berbendera Indonesia itu melibatkan kelompok milisi bersenjata Abu Sayyaf.

“Saat dibajak, kedua kapal dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina Selatan,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, lewat pernyataan tertulisnya, Selasa (29/03).

Sementara Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Kolonel Laut Edi Sucipto, mengungkapkan pembajakan terjadi di perairan Tawi-tawi, di Filipina Selatan. Menurut Edi, sebelumnya tidak pernah ada kejadian (pembajakan) kapal Indonesia di kawasan tersebut.

Mengenai kapan kapal itu dibajak, pemerintah mengaku tidak mengetahui persis. Yang jelas, kapal memulai pelayaran pada 15 Maret dan baru diketahui dibajak beberapa hari lalu. “Pihak pemilik kapal baru mengetahui terjadi pembajakan pada 26 Maret, pada saat menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf,” tutur Arrmanatha.

Abu Sayyaf adalah kelompok separatis yang terdiri dari milisi Islam garis keras yang berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan dan Mindanao.

Menlu: Satu Kapal masih Ditahan

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi angkat bicara terkait pembajakan 2 kapal berbendera Indonesia di perairan Filipina. Dia mengatakan, salah satu apal masih ditahan.

Kapal yang masih ditahan dipastikan adalah Anand 12. Posisi kapal tersebut pun masih samar. Retno menambahkan, saat ini Kemenlu terus berkoordinasi dengan pemerintah Filipina terkait pembebasan Kapal Anand 12. Sebab di dalam kapal tersebut terdapat 10 WNI.

Sementara itu, salah seorang anak buah kapal asal Indonesia yang disandera milisi Abu Sayyaf diketahui bernama Alvian Alvis Petty. Pria ini tinggal di Jalan Swasembada Barat 17, nomor 25, RT 03 / RW 03, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sang istri, Yola (29) mengaku mendapat kabar langsung dari suaminya yang disandera pada Minggu (27/3) pukul 10.00. “Dia bilang kapalnya lagi dibajak. Katanya dibajaknya di perbatasan Malaysia sama Filipina,” ujar Yola kepada wartawan di Jakarta, Selasa (29/3).

Menurutnya, Alvian bercerita bahwa para perompak minta uang tebusan. Namun, tak disebutkan jumlah duit yang diminta perompak.
Meski demikian, sebagai seorang istri tentu Yola syok mendengar kabar itu. “Dia minta untuk tidak panik. Tapi, saya kaget, takut (perasaan) campur aduk,” kata dia. (age/jpnn)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional