OLAHRAGA

Siraman Qalbu Khutbah Jumat, Wakapolres Pessel Ajak Dakwah Keluarga

×

Siraman Qalbu Khutbah Jumat, Wakapolres Pessel Ajak Dakwah Keluarga

Sebarkan artikel ini
SAMPAIKAN—Kompol H. Syafrizen, S.H., Datuk Rang Batuah atau yang dikenal sebagai Ustaz Zen Hoki (UZH) sekaligus Wakapolres Pessel sampiakhna khutbah Jumat (25/9).

PAINAN, METRO— Kompol H. Syafrizen, S.H., Datuk Rang Batuah atau yang dikenal sebagai Ustaz Zen Hoki (UZH) se­kaligus Wakapolres Pessel mengajak umat Islam untuk menjadikan dakwah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, mendakwahkan agama bukan semata-ma­ta tugas ustaz, ulama maupun mubalig, tetapi menjadi tanggung jawab setiap Muslim sesuai kemampuan dan ilmu yang dimi­likinya.

Pesan tersebut disampaikan Kompol H. Syafrizen saat menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Nurul Ulum B3, Barung-Ba­rung Balantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Mengangkat tema “Mendakwahkan Agama adalah Kewajiban”, Syafrizen mengawali khutbah dengan mengajak ja­maah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan me­ninggalkan segala larangan-Nya.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 125:  “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu de­ngan hikmah dan pengajaran yang baik…” Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa dakwah bukan hanya tugas ustaz, ulama atau mubalig. Setiap Muslim memiliki kewajiban untuk mengajak kepada kebaikan sesuai kemampuan dan ilmunya.

Ia mengingatkan, bekal terbaik manusia untuk meng­hadap Allah SWT bukanlah harta, pangkat ataupun jabatan, melainkan iman dan ketakwaan. Da­lam khutbahnya, Syafrizen mengutip firman Allah S­WT dalam Surah An-Nahl ayat 125 yang memerintahkan umat untuk menyeru manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik.

Menurutnya, ayat ter­sebut memberikan pesan bahwa dakwah harus dilakukan dengan cara yang bijaksana, santun dan mem­pertimbangkan kondisi orang yang menerima pesan dakwah. Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang berbunyi, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” Hadis tersebut, menurutnya, men­jadi pengingat bagi umat Islam agar tidak ragu menyampaikan kebaikan sepanjang memiliki pengetahuan yang benar dan menyampaikannya secara tepat.

Baca Juga  Pemerintah Kirim 118 Tangki Air ke Aceh Tamiang dan Pulihkan jaringan Komunikasi

Dakwah Tidak Hanya di Mimbar

Syafrizen menjelaskan, dakwah memiliki ruang yang sangat luas dalam kehidupan masyarakat. Dakwah tidak selalu harus dilakukan dengan berdiri di atas mimbar dan menyampaikan ceramah di hadapan banyak orang. Menurutnya, setiap orang memiliki lingkungan masing-masing yang dapat menjadi tempat untuk menyampaikan nilai-nilai agama. Orang tua, misalnya, da­pat berdakwah kepada anak-anaknya melalui pendidikan dan keteladanan. Seo­rang suami dapat mengajak keluarganya menjalankan kehidupan sesuai ajaran agama. Guru dapat menanamkan nilai kea­gamaan kepada peserta didik, sementara seorang pemimpin dapat berdakwah melalui sikap dan keteladanan dalam menjalankan amanah. Demikian pu­la dengan aparat kepolisian. Menurut Syafrizen, polisi juga dapat berdakwah melalui pelayanan yang baik, kejujuran, perlin­du­ngan terhadap ma­syarakat serta sikap yang humanis. “Dakwah tidak selalu harus berdiri di atas mimbar. Dakwah dapat dilakukan melalui ucapan yang baik dan perilaku yang santun,” pesannya kepada jamaah.

Ia menambahkan, me­ngajak orang lain melaksanakan salat, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, menjaga silaturahmi serta menjauhi berbagai perbuatan yang merusak kehidupan sosial juga me­rupakan bagian dari upaya mengajak kepada kebaikan. Termasuk mengingatkan generasi muda agar menjauhi narkoba, perjudian, maksiat dan berbagai perilaku yang dapat merusak masa depan. Dalam kesempatan itu, Syafrizen juga mengingatkan agar dakwah tidak dilakukan dengan cara-cara yang justru menimbulkan perpecahan.

Baca Juga  Atletik Sumbang Medali ke-17

Menurutnya, mengajak kepada kebaikan harus dilakukan dengan hikmah, bukan penghinaan. Dakwah harus mengedepankan keteladanan, bukan kesombongan, serta kasih sayang, bukan kebencian. Ia menilai, cara menyampaikan pesan agama menjadi bagian penting agar dakwah dapat diterima dengan baik oleh ma­sya­rakat.

Karena itu, umat Islam diminta tidak merasa bahwa urusan dakwah hanya menjadi tanggung jawab para ustaz atau ulama. “Jangan kita berpikir, itu urusan ustaz. Selama kita mengetahui suatu kebaikan dan mampu menyampaikannya dengan cara yang benar, maka ajaklah kepada kebaikan,” ujarnya.

Namun, ia menekankan pentingnya memastikan pengetahuan agama yang disampaikan benar serta disampaikan dengan cara yang tidak menimbulkan kesalahpahaman. Syafrizen mengajak jamaah me­mulai dakwah dari lingku­ngan paling dekat, bahkan dari diri sendiri.

Langkah tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas salat, mem­perbanyak membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, memperkuat hubungan keluarga dan mendidik anak-anak dengan nilai-nilai agama. Selain itu, umat juga diajak memperkuat silaturahmi serta membangun kebersama­an di tengah masyarakat. Menurutnya, seseorang tidak akan mampu mengajak orang lain kepada kebaikan secara maksimal jika dirinya sendiri tidak berusaha mengamalkan kebaikan tersebut. (ped)