Menu

87 Karya Ditampilkan di Taman Budaya, Seni Rupa dan Seni Kria Bertema Perspektif

  Dibaca : 528 kali
87 Karya Ditampilkan di Taman Budaya, Seni Rupa dan Seni Kria Bertema Perspektif
PAMERAN— Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengunjungi pameran di Taman Budaya. (ist)

PADANG, METRO – Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengunjungi pameran di Taman Budaya (Tambud) Sumatera Barat, Rabu (24/7). Pameran tersebut merupakan gabungan dua perguruan tinggi seni di Sumbar, yakni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang (UNP).

Pameran itu menampilkan karya seni rupa dan seni kriya dengan tema ‘Perspektif’. Pameran ini juga menampilkan sebanyak 87 buah karya.

“Saya sangat senang adanya pameran ini, semuanya luar biasa dan menarik, sehingga kita larut ke dalam lukisannya,” ungkap Nasrul Abit.

Katanya, lukisan ini adalah salah satu wujud ekonomi kreatif.

“Sebagai seniman tentunya, sebagai ajang berekspresi melalui karya seni, kami berharap jangan pernah berhenti berkarya,” harap Wakil Gubernur itu.

Nasrul Abit sangat bangga dengan karya seni dari UNP dan ISI Padang Pajang. Dia ingin pemerintah daerah bisa motivasi dan peduli terhadap para seniman Sumbar dengan mewujudkan ‘galeri seni’.

“Tentunya kita ingin karya seni diakui oleh banyak orang, namun jangan sampai orang-orang seni tersebut ke luar semuanya dari Sumbar,” ingat Wagub.

Dari pembicaraan tersebut Wagub berkeinginan, agar dalam pembangunan yang ada di Taman Budaya harus ada ‘galeri seni’ agar bisa menampung aspirasi semua seniman.

“Ke depan kita bisa bekerja sama dengan Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumatera Barat, agar setiap wisatawan yang berkunjung ke Sumbar bisa mampir ke sini untuk melihat karya seni yang luar biasa dari seniman Sumbar,” kata Nasrul Abit.

Dia berharap bagi para seniman di Sumbar bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah, bagaimana kalau karya seni yang terbaik itu bisa dibeli oleh kantor-kantor pemerintah dan swasta, hotel atau tempat yang banyak pengunjung lainnya.

Termasuk di daerah kabupaten dan kota, tempat-tempat objek wisata yang ramai pengunjungnya juga dimanfaatkan, sehingga pada waktu-waktu tertentu, para seniman bisa datang untuk melukis para pengunjung.

Dia mengajak para seniman bisa memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk menciptakan karya seni yang mengedepankan keragaman dan kekakayaan budaya Minang. Dengan demikian memperluas estetika harmonisasi dinamika seni rupa, dengan syarat kualitas lukisannya harus baik.

Wagub memberikan masukan soal karya-karya seniman asal Sumbar yang sejak era pra kemerdekaan, sesudah kemerdekaan bahkan hingga senantiasa melahirkan karya-karya terbaik di tanah Air.

Ardim (60), seniman lukis dan patung Sumbar yang telah cukup lama eksis berkarya seni rupa itu kepada Wagub menyampaikan, mengingat banyaknya karya-karya terbaik yang pernah lahir dan dihasilkan seniman asal Sumatera Barat dimulai sejak era Wakidi (prakemerdekaan, red), Zaini, Oeman Effendi, Nashar, Syamsul Bahar, HB. Dt. Tumbijo, Nasjah Jamin dan sesudahnya bahkan hingga kini yang mulai sulit ditelusuri keberadaannnya.

“Kita kawatirkan dapat menghilangkan eksistensi dan keberadaan sejarah panjang seni rupa Sumatera Barat,” katanya.

Sudah saatnya Sumbar selain memiliki galeri-galeri seni rupa strategis juga memiliki museum seni rupa refresentatif guna menghimpun karya-karya terbaik sebagai wahana media pembelajaram bernilai edukasi sejarah bagi generasi muda, media budaya seni rupa yang kaya dengan nilai-nilai sekaligus media wisata bagi turis lokal dan mancanegara.

“Kurang lengkap rasanya, baik turis lokal bahkan mancanegara jika tidak mengunjungi museum seni rupa yang kaya dengan nilai sejarah dan budaya,” ujar Ardim.

Sementara pengamat seni rupa dan kurator, Muharyadi menyampaikan, usulan perlunya di Sumbar dibangun museum seni rupa refresentatif telah digulirkan tokoh-tokoh seniman seni rupa sejak era kepemimpinan Gubernur Hasan Basri Durin, Zainal Bakar bahkan hingga Gamawan Fauzi lalu, namun belum menemukan solusi terbaik untuk itu.

Muharyadi juga menjelaskan banyak kalangan menilai galeri seni rupa yang kini sudah ada di Sumbar sama fungsinya dengan museun seni rupa refresentatif.

“Anggapan seperti ini sangat keliru, karena fungsi galeri lebih bersifat situasional jika ada iven-iven pameran sesaat seperti di Taman Budaya ini,” ujarnya memberi contoh.

Sementara museum seni rupa refresentatif menampilkan karya-karya bernilai sejarah panjang seni rupa Sumatera Barat sejak lahirnya budaya seni rupa masa lalu hingga ke karya-karya masterpiece generasi muda sekarang, baik karya terbaik seniman yang ada di Sumatera Barat maupun karya seniman asal Sumbar yang berada di luar Sumbar. (sumbar.travel)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional