Close

60 Persen Nelayan di Kota Padang Miskin, Pendidikan Rendah dan Hidup Boros

KETERANGAN PERS Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Pangan Kota Padang Guswardi, memberikan keterangan pers terkait kondisi nelayan di Kota Padang yang masih hidup di tengah kemiskinian, Selasa (14/9) di Media Center Balaikota, Aiapacah.

AIA PACAH, METRO–Dinas Kelautan, Perikanan, Pangan Kota Padang mencatat, sebanyak 60 persen dari semua masyarakat nelayan di  Kota Padang hidup dalam keadaan miskin. Mereka tersebar di sepanjang pantai Kota Padang, mulai dari Bungus Teluk Kabung hingga Kototangah.

Meski pemerintah telah banyak menggelontorkan bantuan setiap tahunnya. Namun hal itu tidak mengena dan tidak terlalu ebawa perubahan yang berarti pada perbaikan ekonomi mereka.

Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Pangan Kota Padang, Guswardi  mengidentifikasi, permasalahan mendasar warga miskin itu pola pikir mereka. Pihaknya sudah melakukan kajian, rata-rata nelayan itu berpendidikan rendah.

“Ketika sudah pulang melaut, mereka duduk di lapau, berjudi dan menghabiskan uang mereka. Setelah habis, baru melaut lagi,” kata Guswardi, Selasa (14/9) di Media Center Balaikota.

Tak hanya itu, para nelayan yang kebanyakan menjadi nelayan musiman itu tidak betah berhari-hari melaut. Paling lama, mereka hanya bertahan di lautan selama 3 hari. Setelah itu, mereka lari ke darat.

Pola ini berbeda dengan nelayan di daerah lain seperti Sibolga yang bisa bertahan hingga berbulan-bulan di tengah laut. “Jadi kita telah melakukan kajian, pola pikir ini yang menjadi masalah krusial. Ini menjadi masalah kita bersama, bukan Dinas Kelautan, Perikanan dan Pangan saja,” tandas Guswardi.

Sebagai kepala dinas, Guswardi secara pribadi sudah berupaya melakukan berbagai langkah-langkah simultan. Mengumpulkan masyarakat nelayan itu dan berdialog dengan mereka serta memberikan masukan kepada mereka agar tidak boros, membiasakan menabung. Namun ada yang menerapkan ada yang tidak.

“Yang mendengarkan ada juga, tapi yang tetap dengan kebiasaan mereka sangat banyak,” tukasnya.

Tak hanya itu, para nelayan miskin itu juga banyak yang tidak tergabung ke dalam kelompok nelayan ber­badan hukum. Akibatnya mereka tidak bisa men­dapatkan bantuan. Saat ini jumlah kelompok ne­layan yang ada hanya sekitar 150 kelompok saja. Satu kelompok rata-rata diisi 20 orang.

“Kalau kita lihat jumlahnya yang tergabung ke dalam kelompok sangat kecil jika dibandingkan dengan nelayan sesungguhnya. Kita sudah berusaha memfasilitasi agar mereka bisa membuat kelompok. Tapi itu tadi, masalah pola pikir itu yang menghalangi mereka untuk hidup sukses.

Mereka sehari melaut, tiga hari duduk di lapau. Alasannya, kalawik bisa kapan sajo, lauk taruih ado. Pola ini yang mau kita ubah,” tandasnya. (tin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top