Close

5 Bulan Kasus Kelam Dermaga Danau Tandikek, Siapa yang Bertanggungjawab masih Misteri

DERMAGA— Lokasi Dermaga Danau Tandikek Camping Ground Kandih sebelum ambruk, yang memakan korban lima nyawa.

SAWAHLUNTO, METRO–Setelah lima bulan Dermaga Danau Tandikek Camping Ground Kandih memakan lima orang  korban pengunjung, sampai saat ini belum ada titik te­rangnya mengenai siapa yang bertanggung jawab dalam peristiwa tragis ini. Dermaga tersebut ambruk, Rabu (26/5/2021), yang lokasinya berada di Desa Kolok Nan Tuo Kota Sawahlunto.

Dan mirisnya satu bulan kemudian sisanya dermaga tersebut ambruk lagi, tanpa ada yang me­naikinya hal tersebut jelas terlihat pada rekaman CCTV yang terpasang disekitar lokasi. Ikon wisata dermaga dibangun ada 3 titik dan digunakan untuk berswafoto atau selfie,  merupakan pembangu­nan kawasan wisata Da­nau Tandikek. Di mana  ma­suk dalam program pengembangan Kawasan Wisata Camping Ground dengan Dana Alokasi Khu­sus (DAK) Pariwisata ta­hun 2019. Pagu dana yang dianggarkan Rp1,901 miliar, proyek tersebut dimenangkan CV. Fiola Jaya Abadi dengan penawaran Rp1, 881 miliar rentang masa pengerjaan 15 Juli -11 November 2019.

Kapolres Sawahlunto AKBP Ricardo Condrat Yusuf SIK SH MH ketika dihubungi via telepon seluler Minggu (17/10) me­ngatakan, terkait kasus tersebut belum masuk tahap 2,  belum dihentikan dan proses penyelidikan masih berjalan. ” Sampai saat ini belum ada penetapan tersangka, arah penyelidikan lebih lanjut (pengelola atau kontruksi) langsung saja tanya ke Kasat Reskrim,” imbuh kapolres.

Sementara, Kasat Res­krim Polres Sawahlunto yang dihubungi media untuk konfirmasi lebih lanjut tidak mengangkat telepon seluler.  Tanggapan juga muncul dari berbagai to­koh masyarakat Kota Sa­wahlunto terkait kasus tenggelamnya 5 orang pengunjung swafoto di Dermaga Danau Tandikek Camping Ground Kandih.

Pengacara Muda Andrio An yang juga dikenal sebagai praktisi hukum mengungkapkan penda­patnya, terkait kasus ini harus menyentuh esensial permasalahan. “Arti­nya yang paling menentukan kekokohan bangunan adalah pengerjaan konstruksinya, baru 1 tahun pasca bangunan dikerjakan sudah ambruk dan menyebabkan 8 orang tenggelam dan 5 (lima) orang meninggal,” ujar Andrio An saat dihubungi media melalui telepon seluler, Minggu (17/10).

Ketua LKAAM Kota Sawahlunto Datuak Dah­ler menilai kasus ini pro­ses penyelidikan masih berlanjut, meski pihak Polres Sawahlunto sedang berupaya dengan pemerintah kota melakukan percepatan vaksinasi untuk mencapai kondisi Herd Immunity. Di sini ada kehati-hatian dalam bertindak seperti menarik A­buak dalam tapuang rambut terambil tepung tidak berserak.

“Pepatah ini berkaitan dengan dampak terhadap pariwisata Kota Sawahlunto kedepannya. Namun, meskipun begitu saya ti­dak setuju bila tidak ada keprofesionalan dalam penanganan kasus ini, apalagi didiamkan atau sampai berhenti,” ujar Dt Dahler via telepon selu­ler, Minggu (17/10).

Anggota DPRD Sa­wah­lunto Dasrial Ery dari partai PDIP menambahkan, pihaknya akan menanyakan kelanjutan kasus teng­gelamnya 5 jiwa warga Sawahlunto pada Rapat Paripurna Ranperda AP­BD tahun 2020.” Kita akan bahas lagi  kelanjutan kasus ini dengan OPD terkait yaitu Dinas Pariwisata sebagai pengelola dari Cam­ping Ground Kandih, juga dengan pihak Pemko Sa­wahlunto,” ujar Dasrial.

Dengan kucuran DAK miliaran rupiah untuk pem­bangunan kawasan wisata camping ground Kandih, namun dengan umur setahun  sudah menelan korban sampai 5 (lima) orang, merupakan suatu yang miris. (pin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top