Menu

40 Peserta Ikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi, Manajemen Homestay harus Modern

  Dibaca : 134 kali
40 Peserta Ikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi, Manajemen Homestay harus Modern
PELATIHAN— Kadisparpora Bukittinggi Supadria memasangkan ID Card tanda peserta pelatihan peningkatan manajemen homestay se-Kota Bukittinggi.

BUKITTINGGI, METRO
Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kota Bukittinggi melaksanakan kegiatan pelatihan peningkatan kompetensi pengelola homestay DAK Non Fisik pelayanan kepariwisataan 2020, di Hotel Santika Bukittinggi 3-5 November. Pelatihan diikuti sekitar 40 orang peserta dari pengelola Homestay se-Kota Bukittinggi.

Kadisparpora Bukittinggi, Supadria mengatakan, homestay merupakan salah satu usaha akomodasi yang berbasis pemberdayaan masyarakat di sekitar destinasi wisata. Homestay memanfaatkan rumah tempat tinggal yang disewakan bagi tamu. Istimewanya adalah tamu data berinteraksi dengan pemilik Homestay serta beraktivitas sesuai apa yang dilakukan tuan rumah.

Homestay memang semakin menjamur. Ini tentunya mendukung sarana prasarana Bukittinggi sebagai Kota Pariwisata. Melalui pelatihan ini, manajemen homestay harus dikelola lebih modern. Jika homestay berkembang dapat mengantisipasi keluhan pengunjung.

“Kita berharap homestay jangan lagi dikelola secara konvensional. Homestay juga harus mampu menambah daya tarik. Homestay memiliki kelebihan dengan adanya interaksi pengelola dan pengunjung. Walaupun tradisional, manajemen homestay harus lebih modern. Jadi, Homestay juga lebih familiar,” ujar Supadria didampingi Sekretaris Disparpora, Nenta Oktavia dan Kabid Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Suzi Yanti.

Supadria menambahkan, akulturasi budaya dan transformasi ilmu juga terjadi di Homestay. Homestay juga lebih fleksibel. Kedepan, pemasaran atau promosi Homestay harus berbasis IT atau digital.

“Karena itu, perlunya peningkatan kompetensi pengelola Homestay di Bukittinggi ini. Homestay harus lebih modern dan berbasis digital. Artinya, pengelola bisa memaksimalkan konsep manajemen digital. Untuk itu, kualitas manajemen dan pelayanannya perlu peningkatan. Kota Bukittinggi merupakan tujuan wisata. Kita harapkan masyarakat atau pelaku wisata bisa membaca peluang ini. Sektor pariwisata perlu dikeroyok secara bersama. Pembenahan dan peningkatan sangat dibutuhkan terutama manajemen, kelembagaan dan SDM,” ungkap Supadria.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Homestay Kota Bukittinggi, Muhammad Subari menjelaskan, sebelum pandemi Covid-19, tingkat hunian Homestay meningkat. Jumlah Homestay di Bukittinggi bertambah disebabkan keterbatasan kamar hotel dan citarasa wisatawan yang mulai bergeser dari cara menginap di hotel ke Homestay.

“Kamar di Homestay maksimum enam kamar. Jumlah Homestay di Bukittinggi yang telah terdaftar di Asosiasi Homestay Bukittinggi sebanyak 54 unit. Saat ini, aturan baru tentang bagamana Homestay, jumlah kamar dan sebagainya belum ada,” ujar Subari.

Menurutnya, peningkatan kompetensi pengelola Homestay ke depan adalah mereka dapat mengedepankan Sapta Pesona dan melengkapi amenitas (kelengkapan Homestay) sesuai standarisasi. Pengelola Homestay harus bersinergi dengan pelaku pariwisata untuk pengembangan produk Homestay dan promosi.

“Khusus selama masa pandemi, tingkat hunian berkurang. Keluhan dari pengelola rata-rata sama. Homestay juga sudah melaksanakan Protap Covid-19. Kendala utama dari Homestay saat ini adalah jumlah tamu atau hunian,” ujar Subari.

Ditambahakan Subari, maka untuk saran Disparpora, bisa dilaksanakan ke depan. Bahkan, promosi melalui media sosial sudah dilakukan. Sekarang, sedang menggunakan media offline berhubungan dengan travel agent dan pelaku pariwisata lain. Konsep digital sudah dilakukan. Pengurus juga telah melaksanakan pelatihan-pelatihan dan lebih memfokuskan kepada pengembangan. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional