Close

27 Bahasa Daerah Kaltim dan Kaltara Terancam Punah

BUKA ACARA—Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kaltim Anang Santosa saat membuka acara Sarasehan Sastra “Meneroka Sastra Berbahasa Daerah di Kalimantan Timur.

JAKARTA, METRO–Sebanyak 16 bahasa daerah di Kalimantan Ti­mur dan 11 bahasa daerah di Kalimantan Utara terancam punah. Hal ini karena penuturnya makin sedikit. “Kehilangan suatu bahasa berarti kehilangan budaya masyarakat penuturnya,” kata Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kaltim Anang Santosa dalam paparannya memperingati Bulan Bahasa dan Sastra 2021, Senin (25/10).

Berbagai upaya pelestarian bahasa daerah ter­sebut terus dilakukan. Sa­lah satunya dengan mendokumentasikannya dalam bentuk buku yang berisi kekayaan budaya dan tradisi suku di daerah.

Anang mengungkapkan terdapat banyak buku yang menuliskan budaya dan tradisi Kaltim dan Kaltara dalam bahasa Indonesia. Sebaliknya, sedikit karya yang menggunakan bahasa daerah di dua pro­vinsi tersebut. Hal itu juga dikuatkan berdasarkan da­ta dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kaltim yang mengungkapkan bahwa koleksi buku bacaan berbahasa daerah sangatlah sedikit.

Hal tersebut terjadi ka­rena tidak banyak penulis menghasilkan buku berbahasa daerah, terutama bagi anak-anak.

“Ironisnya hampir tidak ada karya sastra yang me­nuliskan kekayaan budaya dan tradisi kearifan lokal di Kaltim dan Kaltara dalam ba­hasa daerah,” kata Anang.

Dijelaskannya, mas­yarakat Kaltim dan Kaltara berlimpah kekayaan budaya dan tradisi yang bisa di­jadikan sumber pe­nuli­san ­sastra.

Sa­lah ­satu ­penanda dan penopang hidupnya bahasa daerah adalah adanya sastra berbahasa daerah, baik itu yang dilisankan maupun yang dituliskan.

Sementara tradisi pe­nu­lisan sastra berbahasa daerah di Kaltim dan Kaltara bisa dikatakan tidak ada. “Oleh karena itu, kami berkepentingan untuk ber­kon­tribusi menumbuhkan tradisi penulisan sastra berbahasa daerah di dua provinsi ini,” ujarnya.

Salah satu upaya yang dilakukan Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dengan mengadakan Sarasehan Sastra “Meneroka Sastra Berbahasa Daerah di Kalimantan Timur” akhir tahun lalu. Kegiatan itu untuk membuka cakrawala informasi tentang sastra Banjar, sastra etnik, dan persoalan sastra pada su­ku-suku yang hidup dan berkembang di Kaltim. Peserta kegiatan yang terdiri atas 35 orang penulis dimotivasi untuk lebih menggali, mengembangkan, dan meningkatkan tradisi pe­nulisan sastra berbahasa daerah di kedua provinsi itu.

Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan 32 penulis berbahasa daerah di Kaltim dalam kegiatan Sarasehan Penguatan Literasi Bahan Bacaan Berbahasa Daerah pada 5 sampai 6 April 2021. “Kami berniat menerbitkan buku bahan bacaan berbahasa daerah sebagai hasil dari kegiatan tersebut. Kemudian disebarluaskan sehingga bisa dibaca oleh masyarakat Kaltim dan Kaltara serta provinsi lainnya. Total ada 31 cerita rakyat,” pungkas Anang. (esy/jpnn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top