Close

21 Anggota NII di Nagari Sungai Lansek Cabut Baiat, Ngaku Ikuti Kegiatan Keagamaan lalu Namanya Dicatut

CABUT BAIAT— Prosesi pencabutan baiat dan pengucapan sumpah setia kepada NKRI bagi warga yang tercatat sebagai anggota NII di Nagari Sungai Lansek, Kabupaten Sijunjung.

SIJUNJUNG, METRO–Masyarakat diimbau agar lebih waspada dengan aliran sesat dan paham radikalisme yang berkedok dengan kegiatan keagamaan. Pasalnya, di Kabupaten Sijunjung, puluhan war­ganya  baru menyadari ternyata sudah terdaftar sebagai anggota kelompok teroris Negara Islam Indonesia (NII).

Padahal, warga yang tercatut namanya mengaku tidak mengetahui kalau kegiatan keagamaan yang pernah mereka ikuti beberapa tahun silam me­rupakan aliran radikalisme. Mereka mengaku hanya pernah ikut pengajian dan wirid keagamaan seperti kegiatan keagamaan biasanya. Namun, tak pernah mengetahui kalau na­ma mereka ternyata dica­tut telah tergabung ke da­lam paham radikalisme ataupun aliran NII.

Setelah menyadari su­dah terjebak dalam aliran terlarang tersebut, satu per satu anggota NII di Sijunjung melakukan pencabutan baiat dan mengucapkan sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terakhir, di Nagari Sungai Lansek, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, sebanyak 21 orang telah me­lakukan pencabutan baiat di Aula Kantor Wali Nagari Sungai Lansek.

Kapolres Sijunjung AKBP Muhammad Ikhwan Lazuardi menjelaskan, di Kabupaten Sijunjung sekitar 48 orang yang tercatat sebagai anggota NII, ter­sebar di sejumlah nagari dan kecamatan yang ada di Kabupaten Sijunjung. Di antaranya di Nagari Sungai Lansek sebanyak 28 orang dan Tanjung Gadang 20 orang.

“Khusus untuk Kecamatan Tanjung Gadang telah mengikuti pencabutan baiaat secara serentak di Kabupaten Tanahdatar, pada Jumat (29/4) kema­rin. Kemudian kita juga meng­gelar di Nagari Sungai Lan­sek yang diikuti 21 orang,” ungkap Kapolres Sijunjung.

Menurut AKBP Ikhwan Lazuardi, pencabutan baiat di Sungai Lansek itu juga dihadiri Bupati  Sijunjung Benny Dwifa Yuswir, Dandim 0310/SS, Forkopimcam serta disaksikan juga oleh tokoh masyarakat setem­pat. Menurutnya, Kapolda Sumbar Irjen Pol Teddy Minahasa mengultimatum agar seluruh masyarakat yang terduga terpapar paham radikalisme dan aliran NII untuk segera mencabut baiat sebelum tanggal 20 Mei 2022,” ujarnya.

“Masyarakat Sijunjung tidak pernah anti Pancasila, apa lagi akan memecah NKRI, tidak ada itu. Jika ada yang masih membuat ma­syarakat Sijunjung sesat, saya sudah koordinasi sa­ma Kodim, pemerintah daerah, dan Polda Sumbar akan mengambil tindakan tegas dan memproses secara hukum,” tegasnya.

“Kewajiban bagi kita sebagai anak bangsa menjaga keutuhan NKRI. Jangan menodai perjuangan para pahlawan terdahulu dengan merencanakan ke­giatan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945,” tambahnya.

Pihaknya juga mengimbau agar masyarakat selalu waspada dan berhati-hati dengan upaya-upaya yang bisa merusak keutuhan negara, salah satunya melalui paham radikal dan aliran sesat yang dibung­kus dengan kegiatan keagamaan.

Sementara itu, Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yus­wir meminta peran aktif jajaran pemerintah secara berjenjang hingga tingkat nagari, agar lebih waspada dengan penyebaran paham radikalisme di Sijunjung.

“Pada prinsipnya Pemda Kabupaten Sijunjung mendukung kegiatan keagamaan yang ada di tengah masyarakat. Tentunya ke­giatan yang tidak bertentangan dengan ideologi pancasila dan kegiatan yang bisa merusak keutuhan bangsa dan negara ini,” sebut Bupati Benny Dwifa.

“Kita hadir bersama di sini dalam rangka kebersamaan membangun bangsa dan negara ini lebih baik kedepannya. Berbuat baik dan saling berbagi kepada sesama menjadi upaya untuk mempersatukan, bukan untuk memecah belah dan merusak keutuhan NK­RI,” ujarnya.

Warga Tak Tahu Namanya Dicatut sebagai Anggota

Terkait apa yang melatarbelakangi puluhan warga Sijunjung terdaftar sebagai anggota NII, AKBP Ikhwan Lazuardi menuturkan, masyarakat yang tergabung dalam aliran tersebut umumnya tidak me­nge­tahui kalau nama mereka dicatut sebagai anggota.

“Kami pun meyakini para warga yang cabut baiat ini tidak tahu akan ter­seret pada masalah ini, malah ternyata nama me­reka  ada tercatat. Namun demikian kembali disterilisasi, dan membacakan sumpah setia pada NKRI. Upaya ini sebagai tindakan agar masyarakat bisa paham dan lebih waspada terhadap aliran dan paham radikalisme,” tambahnya.

Pengakuan salah seorang warga yang namanya tercatat berinisial DD (42) mengaku terkejut karena dirinya disebut tergabung dalam aliran yang memiliki paham radikalisme.

“Kami semua kaget, padahal semenjak ikut NII kegiatan hanya shalat dan mengaji di masjid dan mu­shola, tidak tahu bahwa aliran itu sesat. Kita juga tidak tahu kalau ternyata nama-nama kami malah dicatat sebagai anggota yang tergabung,” ucapnya.

Dirinya berharap, bila dikemudian hari ada pihak-pihak yang mencatut nama masyarakat, agar aparat hukum dapat menangkap dan memproses sesuai hukum yang berlaku. “Ka­mi berharap agar penegak hukum memberikan tinda­kan tegas jika hal seperti ini kembali terulang,” harap­nya. (ndo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top