Menu

2018, 500 Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak  Ditemukan di Sumbar

  Dibaca : 200 kali
2018, 500 Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak  Ditemukan di Sumbar
Ilustrasi Kekerasan

RASUNA SAID, METRO – Hasil pendataan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sumbar, sepanjang 2018 tercatat 500 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumbar. Kasus yang paling mendominasi dari 500 kasus tersebut adalah kekerasan seksual, termasuk sodomi.

Hal itu diungkapkan Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sumbar, Evari Hamdiana baru-baru ini. Terkait sodomi tersebut, kata Evari, menjadi kasus yang paling jadi sorotan. Pasalnya, korban sodomi berpotensi besar menjadi pelaku.

Bayangkan, sebut Evari, anak laki-laki yang menjadi korban sodomi dalam waktu satu minggu sudah jadi pelaku. Sementara, satu orang pelaku sodomi, korbannya bisa lebih dari 100 orang dan paling sedikit 15 orang.

Evari mengatakan, kasus-kasus kekerasan seksual pada anak serta LGBT, sekarang tak lagi monopoli Kota Padang, tapi juga telah menyebar ke kabupaten/kota lainnya di Sumbar. Hal itu harus menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah kota/kabupaten.

Untuk itu, Evari meminta kepada masyarakat tidak lagi menjadikan kasus-kasus kekerasan seksual ataupun LGBT menjadi kasus yang tabu untuk dilaporkan. Apalagi saat ini tak lagi era menutup-nutupi. Karena pihaknya membuat program preventif berdasarkan kasus yang ada.

“Dari Pemprov Sumbar, gawenya adalah melakukan koordinasi, advokasi, sinkronisasi, dan pelatihan. Tahun 2019 ini, kita akan lanjutkan koordinasi dengan lembaga terkait,” kata Evari.

Di sisi, lanjut Evari, tak sedikit orang tua yang gaptek atau gagap teknologi. Sementara, perkembangan teknologi terus mengepung kehidupan anak. Anak-anak bisa dengan mudah belajar dan menguasai teknologi. Padahal, banyak bahaya mengancam anak di balik itu jika penggunaan teknologi, terutama gadget, tak didampingi orang tua.

“Kadang orang tua dengan bangga mengatakan ia jauh kalah dari sang anak dalam hal menggunakan handphone android. Sementara si anak, hanya pegang satu hari saja sudah bisa menguasai fitur-fitur di dalamnya. Kepintaran anak menggunakan gadget adalah kepintaran secara insting. Setiap anak bisa melakukannya,” sambung Evari.

Terakhir, lanjut Evari, karena orang tua banyak yang gaptek, maka perlu lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di penguatan karakter anak seperti RAS untuk mencegah hal-hal seperti itu. Karena, yang lebih penting adalah pencegahan daripada penanganan kasus.

”Jika karakter anak sudah kuat, maka lebih mudah untuk menangkis hal-hal negatif di lingkungannya,” pungkas Evari. (mil)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional