Close

2 Bocah jadi ”Pak Ogah” di Tunggul Hitam, Uang Disetor ke Sopir Angkot

MENJADI PAK OGAH— Dua anak-anak di bawah umur terjaring razia rutin Satpol PP, di U-Trun Tunggul Hitam, Minggu (12/6) saat menjadi pak ogah mengatur arus balik kendaraan.

TAN MALAKA, METRO–Dua anak-anak di bawah umur nekat menjadi pak Ogah. Kedua bocah laki-laki tersebut terjaring petugas Satpol PP di kawasan u-trun Tunggul Hitam, Minggu (12/6) pagi.

Kedua bocah tersebut me­la­kukan aktivitas pengaturan arus balik arah di u-trun jalan. Tentu aktifitas tersebut dapat membahayakan pengguna jalan dan juga kesela­ma­tan mereka sendiri.

“Terkadang aktifitas mereka tersebut sering menimbulkan kemacetan sehingga telah meresahkan penguna jalan ra­ya.­ Apalagi keduanya masih anak-anak usia sekolah, seharusnya tidak boleh menjadi pak ogah, dengan alasan membantu orang berputar kendaraan,” ungkap Kepala Satpol PP Kota Padang, Mursalim, kemarin.

Saat ditanya petugas kedua bocah tersebut me­ngaku sebagai pak ogah, dan memberikan setoran kepada oknum pemuda setempat setiap hari.

“Kedua anak itu mengakui saat diproses bahwa kegiatan mereka tersebut membayar ke oknum pemuda yang berprofesi sebagai sopir angkot,” terang Mursalim.

Terkait hal ini Satpol PP Padang tentu akan melakukan menindaklanjuti karena di sinyalir kegiatan tersebut ada oknum yang memanfaatkan bocah-bo­cah tersebut.

“Sesuai aturan, kedua anak tersebut dikirim ke Dinas Sosial untuk dilakukan pembinaan. Selanjutnya, petugas melakukan pengawasan dan proses lebih lanjut. Kita melakukan kerja sama bersma pihak terkait karena ada indikasi pungli serta memanfaatkan anak-anak dalam men­dapatkan uang secara instan,” terang Mursalim.

Untuk diketahui, Saat ini, keberadaan pak ogah di persimpangan jalan utama di Kota Padang makin banyak dijumpai. Keberadaan pak ogah cukup sulit untuk ditertibkan. Pasalnya, telah berulang kali ditertibkan, namun me­reka tetap kem­bali ke jalan. Alih-alih membantu kelancaran arus lalu lintas, ter­kadang kebera­daan pak p­gah malah mem­buat arus la­lu lintas menjadi kian macet.

Tak jarang, pak ogah juga bergaya layaknya preman memalak pengendara demi mendapatkan uang.Hal ini bisa terlihat di ruas Jalan Khatib Sulaiman, Hamka hingga Adinegoro, Kecamatan Kototangah. Mereka berdiri memberikan jasa kepada pengendara yang ingin berputar di persimpangan jalan.

Namun kehadiran me­reka mulai menimbulkan pro-kontra. Ada yang se­nang dan merasa terbantu dengan keberadaan me­reka di persimpangan. Namun ada yang merasa terganggu akibat kehadiran mereka. Jika pemilik kendaraan tak memberi uang, maka pak ogah langsung mengumpat dengan kata-kata kasar kepada si empunya kendaraan.

Bahkan ada yang mengatakan kehadiran mereka sudah mengganggu ketertiban umum. Ya, pak ogah kini seperti “mengkudeta” Polantas yang seharusnya bertugas mengatur lalu lintas di jalan raya. (ade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top