Menu

16 Warga Padang Hilang Misterius

  Dibaca : 1240 kali
16 Warga Padang Hilang Misterius
LPM beserta pemerintahan kelurahan rawang mengadakan syukuran bersama suksesnya acara manunggal BBGRM tahun 2021 dengan makan bajambah bersama.
Orang Hilang

ilustrasi

PADANG, METRO–Mengejutkan. Sebanyak 16 orang dilaporkan hilang di Kota Padang sejak bulan Desember 2015. Tidak ada informasi keberadaan belasan orang tersebut. Namun, ada dugaan mereka pindah ke Sulawesi dan Kalimantan.

”Menurut informasi yang didapat, belasan warga yang hilang itu sejak Desember 2015 lalu. Namun,  belum diketahui apakah hilangnya warga tersebut terkait jaringan radikal yang tengah diperbincangkan saat ini, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar),” ungkap Kapolresta Padang, Kombes Pol Wisnu Andayana,  Jumat (15/1) pagi.

Diungkap Wisnu, dari 16 orang itu, sebanyak 13 orang merupakan warga yang tinggal di Kecamatan Kuranji, dan satu keluarga (3 orang) di Kecamatan Kototangah. Tidak hanya orang dewasa, warga yang hilang itu ada juga dari kalangan remaja, dan balita.  Mereka menghilang, sengaja dihilangkan atau malah bersembunyi ini yang belum jelas.

“Indikasi yang hilang masih belum bisa kita pastikan. Apakah mereka terlibat gerakan paham radikal masih belum dapat dibuktikan,” sambung Wisnu.
Selain itu, Wisnu juga mengimbau kepada Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Padang supaya menyerahkan daftar aliran-aliran kepercayaan yang terdaftar pada Kesbangpol secara lengkap dan benar.

“Agar tidak terjadi simpang siur, sebaiknya data-data aliran kepercayaan yang menjadi pengawasan mereka bertujuan untuk memudahkan kepolisian mendalami apakah ada indikasi terlibat kearah gerakan radikal dan juga jangan sampai kecolongan dengan aliran tersebut,” ulas Wisnu.

Sudah Dibubarkan

Sebelumnya, Kapolsek Padang Barat, Kompol Sumintak menyebutkan bahwa organisasi sosial Gafatar pernah ada di Kota Padang. “Pertengahan tahun lalu sekitar bulan Juli, kami dan Kesbangpol Padang telah membubarkan organisasi itu,” kata Kepala Polsek Padang Barat, Kompol Sumintak di Padang.

Disampaikannya, pembubaran organisasi itu bermula dari laporan masyarakat yang resah dengan organisasi itu kemudian pihaknya melakukan negosiasi dengan Gafatar dan akhirnya membubarkannya.

“Gafatar yang dibubarkan itu bertempat di sebuah rumah sewa di Kawasan Flamboyan,  Raden Saleh, Kecamatan Padang Barat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Padang Eri Sendjaya, untuk pengawasan aliran kepercayaan dibawah koordinasi Kejari Padang. “Untuk koordinasi pengawasan ormas dan aliran kepercayaan secara menyeluruh melalui kegiatan Forkopimda, yang salah satu anggotanya adalah Polresta,” ujarnya.

Sementara Kepala Kesbangpol Sumbar Ivan Khairul Ananda menyebut, Gafatar memiliki Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gafatar Sumbar yang berkedudukan di Kota Padang yang beralamat di Jalan Sulawesi Nomor 9, Ulakkarang, Kota Padang.

Tidak hanya itu, Gafatar juga memiliki Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di 9 kabupaten/kota. Diantaranya di Kota Padang, Kota Pariaman, Kota Solok, Kabupaten Padangpariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, Pasaman Barat dan Kepulauan Mentawai.

Ivan menjelaskan, Gafatar pernah tercatat di Kesbangpol pada 2010 lalu. Namun, sejak saat itu, tidak pernah lagi melakukan perpanjangan izin organisasi. Saat pendaftaran, DPD Gafatar Sumbar dipimpin oleh Eko Riswanto (ketua DPD), Mardimin (pembina daerah) dan Fachrul Rozi (sekretaris daerah).

“Awal mendaftar, Gafatar ini tidak membawa aliran agama tertentu. Tapi saat itu hanya berupa ormas yang sering melakukan kegiatan sosial. Sehingga pendaftarannya diterima,” terang Ivan.

Dalam perjalanannya kata Ivan, ternyata Gafatar ini membawa aliran agama tertentu. Meski di Sumbar belum ditemukan ada keluhan dari masyarakat. “Saat ini kami belum bisa melakukan apa-apa karena masih mengumpulkan bukti,” ujarnya.

Meski demikian, kata Ivan, masyarakat terutama kalangan intelektual harus lebih selektif dalam menerima ajakan dan tawaran tertentu. Hal itu untuk menghindari dari ajakan sesat untuk bergabung dengan aliran tertentu. “Jangan asal menerima ajakan dari orang yang baru dikenal, seperti ajakan yang berlandaskan sosial dan kemasyarakatan. Harus lebih selektif,” terangnya. (r/da)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional