Menu

16 Tahun Tinggal di Gubuk Reot, Sudah Terbiasa dengan Kehadiran Binatang Melata dan Berbisa

  Dibaca : 282 kali
16 Tahun Tinggal di Gubuk Reot, Sudah Terbiasa dengan Kehadiran Binatang Melata dan Berbisa
Zaidil bersama keluarganya tinggal dalam gubuk yang tidak layak huni selama 16 tahun. Bisa tinggal di rumah yang layak, menjadi harapan mereka yang belum tercapai sampai saat ini.

ROZI PDG. PARIAMAN
Jauh-jauh kaki menapak, lebih ke dalam pada nagari itu, keasrian mulai memudar, aroma udara berganti, bau tinja sayup – sayup sampai membelai pangkal hidung.

Bau kotoran hewan itu berasal dari salah satu kandang yang berdiri di depan rumah yang tidak seperti rumah. Tepatnya, itu tampak seperti gubuk yang compang camping.

Saat POSMETRO PADANG berkunjung, bangunan itu terdiri dari tambalan pecahan batang pinang tak beraturan. Empat sisi rumah tak sama kayunya. Bangunan itu dihuni oleh Zaidil dan Janibar. “Sudah 16 tahun saya tinggal di sini,” ungkap Zaidil saat didampingi Janibar, Selasa (4/8).

Mereka persilakan masuk ke dalam kediaman itu yang kurang lebih berukuran 8 kali 5 meter itu. “Silahkan lihat, ini tempat kami,” katanya.

Memasuki gubuk itu, jangan menyentuh pintu, jika disentuh pintu itu bisa copot. Memandang ke dalam dari pintu reyot itu, sinar mentari jatuh pada lubang-lubang atap rumah. “Iya benar, itu sudah lama bocor, kalau hujan air masuk ke dalam,” kata Zaidil.

Sinar matahari siang itu tepat menyigi lantai rumahnya. Namun pada tengah hari “berdengkang” itu, dalam rumahnya terasa hawa dingin. “Maklum, tanah yang menjadi lantai rumah masih lembab, semalam hujan deras. Tak pernah cepat keringnya meskipun pada banyak sisi telah kami bentang tikar dari terpal,” jelas Zaidil lagi.

Ia menuturkan kondisi gubuk mereka, di dalam gubuk itu sudah 16 tahun menjadi tempat pembaringan. “Saya dan istri tidur di sini,” ungkapnya sembari menunjukkan lokasi.

Tempat tidur pasangan suami istri itu tanah yang beralasan terpal. Ada kasurnya yang tak lagi empuk disentuh, kecil ukurannya. Kamar itu, merupakan bagian sudut ruangan yang dibatasi dinding terpal sekitar 1,5 meter.

“Tiga orang anak saya yang perempuan tidur di sana. Itu kami jadikan seperti kamar, anak gadis saya tidur di sana dan adik-adiknya,” ungkap Zaidil.

Saat menarik kain pembatas pada ruangan tempat anak-anak Zaidil tidur, tak terpikir bagaimana mereka berbaring. Ruangan itu kurang lebih sepanjang satu setengah meter dan lebar tak sampai satu meter. “Mereka bergantian tidur di sana. Sering bertiga di dalamnya,” sebut Zaidil.

Sudahlah kecil, ada pula rak untuk meletakan buku pelajaran di tempat tidur anaknya. Rak buku itu sengaja di letak di sana lantaran ruangan juga dipakai untuk belajar.

Yang lebih berfungsi, rak tersebut juga berguna untuk menutupi lubang dinding gubuk. Itu rak multi fungsi. “Iya, kalau tidak ditutup pakai rak, masuk air. Pernah juga ular dan kodok dan kelabang masuk. Kalau bagian lain ditutup pakai kain dan bekas karung,” jelas Zaidil.

Begitu iba nada kalimat Zaidil ketika menceritakan ruangan tempat anak perempuannya, lantaran dia paham betul kondisi lantai tempat anaknya berbaring. Jika tikar yang dijadikan alas tidur itu diangkat, pasir dan tanah yang tampak. “Begini kondisi kami, tak apa, bersyukur masih ada bagian yang tak bocor. Kalau kamar mandi tak ada, kami hanya memanfaatkan aliran sungai atau air di mushala,” ungkap Zaidil.

Berselang waktu saling bercakap dengan Zaidil dan Janibar pandangan menoleh pada sudut – sudut bagian atas rumahnya. Mengejutkan, belasan sarang Tawon Ramping juga ada di bangunan itu.

Zaidil juga menuturkan, mereka (8 orang) sudah terbiasa dengan kehadiran binatang melata dan berbisa di gubuk itu. “Yang paling sering ketemu Kalajengking, banyak tempat ini masuk,” imbuhnya sembari tersenyum.

Senyuman Zaidil itu jelas bukan pertanda canda. Perlahan senyumannya berubah kerut di kening, matanya mulai berbinar. “Kadang saya tak tahan dengan ini semua. Saya juga tau kalau anak dan istri pun begitu,” kata Zaidil dengan nada sedikit berbisik.

Jelas itu pertanda Zaidil ingin terlihat tegar di depan anak dan istrinya. Dia sangat berharap kehadiran pemerintah untuk mengubah nasibnya. “Paling tidak, kami sangat bersyukur jika dapat bantuan rumah, tak usah yang bagus, rumah yang tak bocor saja, cukup itu,” harapannya.

Harapan Zaidil itu sudah penuh, sembari itu dia tak lagi banyak bercerita. Dianya ingin bekerja lagi, mencari rumput untuk ternak orang lain. Sementara itu Janibar juga sadar masih banyak kelapa yang belum dikupas.

Begitulah kehidupan Zaidil dan Janibar beserta 6 orang anaknya, di Nagari Pilubang. Tak ada yang ‘bagus’ harta atau benda yang mereka miliki. Gubuk berlantai tanah itu tak pernah rapi, dingin dan lembab sudah menjadi pakaian mereka. Kendatipun demikian, di gubuk itu ada satu benda yang rapi dan bersih tergantung yaitu Sajadah untuk sembahyang.

Kata Zaidil, kepada Allah SWT dia mengadu segala keluh kesah. Dilimpahkannya segala doa di atas sajadah itu. “Dengan begitu saya tegar kembali,” sebutnya sambil menguraikan air mata. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional