Menu

10 Tahun Guru Ngaji Sodomi 30 Murid

  Dibaca : 1428 kali
10 Tahun Guru Ngaji Sodomi 30 Murid
Cawagub Sumbar Audy Joinaldy blusukan di Kawasan Pasar Ibuh, Kecamatan Payakumbuh Barat , Kota Payakumbuh. 
Kekerasan Seksual Anak5

ilustrasi

LIMAPULUH KOTA, METRO–Ratusan orang dari Jorong Piladang, Nagari Koto Tangah Batu Hampa, Kecamatan Akabiluru, Limapuluh Kota, Senin (21/12) pagi, mendatangi kantor wali nagari. Warga menuntut agar guru mengaji, diduga pelaku sodomi terhadap puluhan anak murid MDA Masjid Al-Furqan, ditangkap.

Aksi damai itu dilakukan oleh ratusan warga karena pemerintahan nagari dianggap tidak peduli dengan perilaku guru berinisial MI (29), asal Jorong Piladang. Padahal, orang tua korban sudah melapor kejadian dugaan sodomi ke Polsek Akabiluru.

Bahkan hingga kini sudah ada sebanyak 10 orang tua warga yang melapor. Namun, masih banyak korban dugaan sodomi yang dilakoni guru ngaji itu yang tidak mau melapor kepada polisi. Hebatnya perilaku pelaku sudah berjalan selama 10 tahun.

Perilaku menyimpang pelaku terhadap anak murid MDA itu, sebenarnya sudah tercium sejak lama, dengan melihat gelagat MI kepada anak-anak MDA. Diming-iming uang Rp7.000 serta makanan, anak-anak korban dugaan sodomi dibujuk masuk dalam kamar MI.

Setelah sampai dalam kamar, pintu dikunci kemudian lampu dimatikan dan TV dihidupkan dengan memutar film porno. Saat itulah pelaku beraksi.
”Anak saya menceritakan apa yang dialaminya,” jelas salah seorang ibu muda yang anaknya jadi korban perlakuan buruk pelaku, pada September 2015 lalu.

Dia meminta agar polisi cepat mengusut kasus dugaan sodomi yang dilakukan MI. Mengingat, sudah hampir 30 orang warga yang menjadi korban perilaku buruknya. Namun, selama ini terkesan dibiarkan saja, karena dianggap aib bagi nagari. Tetapi, karena anak-anak yang menjadi korban, sudah mulai ketakutan ketika melihat gurunya sendiri. Bahkan ada yang tidak mau mengaji lagi, saat itu warga marah.

Warga Tuntut Pelaku Dikebiri

Sementara, tokoh perempuan asal Piladang, Nining, meminta agar pelaku dihukum berat jika perlu dikebiri. Mengingat, akibat perilaku negatif dan sodomi yang dilakukan pelaku telah membuat korbannya mengalami gangguan mental. Di samping itu, menjadi aib bagi masyarakat nagari.

“Saya meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Jika perlu, pelaku dikebiri saja. Karena korbannya sudah banyak sekali, bahkan sudah ada yang memiliki anak. Dan prilakunya sudah berlansung selama 10 tahun, coba bayangkan sudah berapa generasi yang terkena sodomi,” jelas Nining yang ikut melakukan aksi damai di kantor wali nagari, di simpang Batu Hampa.

Ben, salah seorang pemuda Jorong Piladang, juga meminta agar kepolisian dan nagari bertindak cepat menangkap pelaku. Karena hingga kini pelaku entah dimana, dan terkesan dibiarkan.

“Kita ingin hukum ditegakkan, yang salah dijatuhi sanksi sesuai dengan kesalahannya. Kemudian kita juga meminta pemerintah nagari untuk bersikap tegas, karena ini aib bagi nagari,” sebutnya menyayangkan perilaku dari pelaku.

Tokoh muda masyarakat Nagari Koto Tangah Batu Hampa, Andri Ganus, menyebut akibat perilaku pelaku, korban sodomi yang merupakan anak-anak SD, dan SMP hingga SMA sudah jatuh mentalnya. “Kami minta agar pelaku secepatnya ditangkap. Anak-anak yang menjadi korban mentalnya anjlok. Mereka akan menjadi ketakutan saat melihat gurunya itu,” pintanya.

Menanggapi tuntutan ratusan masyarakat, Ketua Bamus Nagari Koto Tangah Batu Hampa M. Dt. Mangguga, menyampaikan jika MI sudah diberhentikan sebagai guru mengaji, garin, dan guru TK. Serta tidak dibolehkan lagi beraktivitas di Nagari Koto Tangah Batu Hampa.

“Kita bukan tidak melakukan apa-apa, tetapi kita sudah memberhentikan seluruh kegiatan yang dipegangnnya selama ini. Baik dari guru mengaji, TK, dan lainnya. Namun, untuk persoalan hukum, diserahkan kepada polisi,” jelas Dt Mangguga.

Sementara Kapolsek Akabiluru Iptu Amirwan, meminta warga untuk tenang. Polisi sudah menerima laporan sejak 5 hari lalu. Namun, hingga kini penyidik terus mendalami dan mengumpulkan barang bukti, mengingat kasus sodomi merupalan lekspesialis.

“Aparat sudah memintai keterangan dari pelapor dan korban beberapa waktu lalu, dan belum mau mengaku. Tapi dengan pengakuan dua korban tadi, dan iming-iming uang Rp7.000 ini sudah membuktikan, dan kita memang dalam menetapkan seseorang tersangka harus cukup alat bukti dan tidak bisa hanya pengakuan dari korban saja,” ulas kapolsek. (us)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional