Close

10 Penyandang Disabilitas Dilatih Kewirausahaan di Kota Solok

PELATIHAN— Para peserta pelatihan bagi penyandang disabilitas sedang mengikuti kegiatan kewirausahaan yang digelar Pemko Solok melalui Dinas Sosial.

SOLOK, METRO–Pemerintah Kota Solok berikan pelatihan kewira­usahaan kepada warga  berkebutuhan khusus. Sebanyak 10 orang disabilitas mengikuti kegiatan tersebut. Kepala Dinas Sosial Kota Solok, Zulfadli mengatakan, orang dengan ber­kebutuhan khusus juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Diantaranya berhak untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan yang ada pada mereka.

“Penyandang cacat diharapkan mampu me­ngem­bangkan dan meningkatkan kemampuan fi­sik, mental dan sosialnya sehingga diharapkan yang bersangkutan mampu bekerja sesuai dengan tingkat kemampuan, pendidikan dan keterampilan yang dimiliki serta sesuai dengan minat dan pengalamannya, sehingga mencapai kemandirian ditengah kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Secara umum katanya,  permasalahan bagi mereka dengan berkebutuhan khusus harus mampu mem­berikan dorongan dirinya untuk mau berkem­bang. Selain itu mereka juga butuh sarana dan pr­asarana yang tersedia untuk penyandang cacat da­lam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya lanjut Zulfadli, setiap orang dengan jenis kecacatanya yang berbeda memerlukan perlakuan dan penanga­nan yang berbeda pula. Me­nurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang penyandang cacat pada pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa jenis-jenis kecacatan terdiri dari 3 yaitu kecacatan fisik, kecacatan mental dan kecacatan fisik dan mental.

Bahkan dalam pasal 6 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 menjelaskan bahwa setiap difabel berhak memperoleh pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis dan jenjang pendidikan. Bahkan mereka berhak memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan kemampuan dan pendidikannya.

“Memperoleh Aksesibilitas sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemandirian difabel pun berhak mereka dapatkannya. Selain itu mereka juga memiliki hak yang sama untuk menumbuh kembangkan bakat, kemampuan, kehidupan sosialnya bagi anak baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Sehingga berdasarkan Undang-Undang diatas, jelas bahwa para penyandang disabilitas memiliki ruang yang sama dalam segala aspek kehidupan bernegara. Termasuk dalam hal memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak,” jelasnya.

Untuk mencapai kesetaraan tersebut, maka perlu adanya kegiatan yang mengarah kepada pemberdayaan masyarakat penyandang disabilitas. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan potensi dan kreatifitas yang dimiliki oleh para penyandang disabilitas, khususnya potensi dan kreatifitas yang memiliki nilai ekonomi.

Lebihjauh dikatakan, kegiatan pemberdayaan tersebut sebagai salah satu langkah untuk memberikan peran kepada para penyandang disabilitas sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.  “Pemberdayaan bagi penyandang disabilitas menjadi salah satu hal yang penting untuk pemenuhan hak dan memberi kemampuan sehingga potensi dan kemampuan yang mereka miliki dapat tergali secara maksimal,” sebutnya.

Saat ini, ekonomi kreatif merupakan salah satu sektor yang keberadaannya sangat diharapkan dan dapat menjadi kekuatan baru dalam perkembangan pere­konomian nasional. Melalui badan ekonomi kreatif, pemerintah terus berusaha memberi perhatian lebih terhadap sektor ini yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi dan peluang ekonomi di Indonesia.

Dengan adanya per­kembangan yang terjadi pada sektor ekonomi kreatif ter­sebut, pemerintah da­pat me­manfaatkan hal ter­sebut se­bagai upaya pemberda­yaan kepada ma­sya­rakat penyandang disabilitas.  “Ma­syarakat penyandang disabilitas dapat memperoleh berbagai pelatihan yang berguna untuk meningkatkan skill dan potensi yang mereka miliki untuk bekerja dalam sektor eko­nomi kreatif,” paparnya. (megi/vko)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top