Close

1.000 Warga Binaan di Bawah Ancaman Tsunami

Survei— Tim BMKG Padang Panjang melakukan survei ke Lapas Kelas IIA Padang, kemarin. BMKG pun merekomendasikan Lapas yang berada di bibir Pantai Padang itu direlokasi ke tempat aman tsunami.

MUARO, METRO
Setelah beberapa waktu yang lalu Lapas Kelas IIA Padang berhasil memperoleh rekomendasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang terkait rencana relokasi lapas, Senin (5/4) Lapas Kelas IIA Padang kembali kantongi rekomendasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Kota Padangpanjang.

Hal tersebut setelah dilakukan survei oleh Kepala BMKG Kota Padangpanjang Irwan bersama Kasi Koordinasi BMKG Padang Panjang Hamdi dan Kepala Tata Usaha BMKG Padangpanjang Syamsir ke Lapas Kelas IIA Padang.

Kedatangan Tim BMKG Padang Panjang disambut baik oleh Kepala Lapas Kelas IIA Padang Era Wiharto, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Lapas Kelas IIA Padang Novri Abbas, Kepala Urusan Umum Lapas Kelas IIA Padang Ardin Sianturi, Kasubsi Pelaporan Rhandy Altasa dan Operator Barang Milik Negara Egi Pratama Putra, Senin (5/3) siang.

Dalam kunjungannya, BMKG Padangpanjang yang dipimpin langsung oleh Kepala BMKG Padangpanjang, Irwan, melakukan assessment dengan menelaah posisi Lapas Kelas IIA Padang.

“Seperti kita ketahui, Lapas Kelas IIA Padang ini yang hanya berjarak 20 meter dari bibir pantai dan kontur tanahnya lebih rendah dari ketinggian air laut sebagai data dukung dalam memberikan rekomendasi relokasi lapas. Seluruh tim didampingi melakukan survei bangunan di lingkungan Lapas Kelas IIA Padang,” ujar Irwan.

Irwan menyatakan bahwa manajemen risiko dalam penanggulangan bencana alam adalah meminimalisir korban jiwa. Dalam kajian BMKG, tsunami dari arah pusat gempa memiliki kecepatan 30-60km/jam dengan prediksi ketinggian lebih kurang 12m ke arah Pantai Padang.

“BMKG mengetahui posisi gempa dan potensi tsunami lebih kurang 3 menit setelah terjadi gempa dan untuk memberikan peringatan darurat tercepat butuh waktu lebih kurang 5 menit. Sedangkan menurut kajian, waktu yang ditempuh tsunami mencapai bibir pantai adalah sekitar 20-30 menit. Jadi waktu untuk evakuasi sekitar 12-22 menit menuju zona aman,” jelas Irwan.

Irwan juga menambahkan, Lapas Padang berada di zona merah dan jika dilihat dari survei, Lapas Padang harus direlokasi. “Meskipun jika direvitalisasi harus disesuaikan bentuk dan model bangunannya yang ramah gempa dan tsunami,” tutur Irwan.

Kasubag TU, Novri Abbas mengatakan, Lapas Kelas IIA Padang tidak memiliki shelter untuk mengamankan warga binaan jika bencana tsunami terjadi.

“Kami berharap adanya rekomendasi relokasi Lapas Padang dari BMKG mengingat profil Lapas Padang yang merupakan bangunan tua yang telah direnovasi ulang. Selain itu, kami tidak memilik shelter untuk mengamankan warga binaan dari potensi bencana alam tsunami,” tutur Novri.

Menanggapi hal ini, Kepala Lapas Kelas IIA Padang Era Wiharto sangat berharap relokasi Lapas Kelas IIA Padang dapat segera terealisasi melalui rekomendasi dari BMKG.

“Kami memang sangat berharap adanya rekomendasi untuk relokasi Lapas Padang dari BMKG sebagai data dukung kami dalam pengajuan relokasi lapas. Karena secara teknis dalam waktu 12-22 menit walaupun kami melakukan usaha paling  maksimal masih mustahil untuk memindahkan warga binaan yang jumlahnya hampir 1000 orang ketempat yang aman apalagi posisi Lapas Padang sekarang berada benar-benar di bibir pantai,” ungkap Kalapas Era Wiharto. (rom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top