Menu

Gempa 7,8 SR Mentawai Baru Permulaan, Waspada 8,8 SR

  Dibaca : 348 kali
Gempa 7,8 SR Mentawai Baru Permulaan, Waspada 8,8 SR
ILUSTRASI

gempa

PADANG, METRO–Gempa dan tsunami yang terjadi di Mentawai pada Senin 25 Oktober 2010 silam sudah memakan lebih dari 450 korban jiwa. Ternyata, gempa itu sama sekali tidak berkaitan dengan gempa besar yang telah lama diprediksi oleh para peneliti. Begitu juga dengan gempa 7,8 SR yang terjadi pada Rabu (2/3) lalu, juga tidak saling berkaitan.

Menurut pakar dari Earth Observatory of Singapore yang telah lama meneliti Kabupaten Kepulauan Mentawai bersama LIPI, Prof. Kerry Edward Sieh, dari data gempa besar di Mentawai pada 1797 dan 1833, ternyata hampir seluruh megathrust (sesar naik) antara Pulau Pagai Selatan sampai Pulau Batu belum pernah patah sejak tahun 1797 atau bahkan seratus tahun sebelumnya.

“Ini menyebabkan slip (pergeseran) sejauh delapan hingga 12 meter bisa terjadi pada bagian megathrust itu,” kata Sieh via email dan media sosial, kemarin.

Data Global Positioning System (GPS), mengimplikasikan bahwa terjadinya patahan di megathrust itu terjadi sisi samudera megathrust, di bagian bawah dan di bagian sisi dalam kepulauan itu (yang menghadap ke bagian Sumbar). Bila gempa ini terjadi dalam satu waktu, maka ukuran gempa bisa mencapai magnitude 8,8 SR.

“Sebagai gambaran, gempa 1797 juga diikuti oleh tsunami yang diperkirakan mencapai hingga setidaknya lima meter di Muaro Padang,” tulisnya.
Jika dikaji, kerusakan yang bakal ditimbulkan akibat gempa tersebut bila pergeseran megathrust hanya terjadi terjadi di bagian barat Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara dan Sipora, maka diperkirakan bakal menimbulkan tsunami serius yang bisa melibas pantai barat kepulauan itu.

“Sementara, bila pergeseran hanya terjadi di bagian bawah kepulauan itu, maka terjadi kenaikan permukaan pada kepulauan itu setinggi satu atau dua atau tiga meter, seperti yang terjadi pada gempa Nias Maret 2005 dan gempa di Pagai Selatan pada 2007,” tulisnya lagi.

Dalam kasus ini, akan sedikit air laut yang digerakkan, namun akan tetap memicu tsunami yang signifikan seperti pada gempa Nias 2005 dan gempa sepanjang Pantai Utara Bengkulu pada 2007. Bila pergeseran atau slip terjadi di timur Siberut, Sipora dan Pagai Utara, maka air di bagian utara kepulauan itu akan terganggu dan Pantai Barat Sumatra akan terkena tsunami.

“Untuk itu, perlu disiapkan upaya mitigasi yang bervariasi di tiap-tiap daerah, mengingat tsunami yang terjadi baru-baru ini cukup besar,” ucapnya dalam email tersebut.

Bangunan-bangunan di sekitar potensi gempa, menurutnya, musti dibuat lebih tahan gempa dan desa-desa juga harus didesain agar lebih tahan terhadap terjangan tsunami. “Persiapan yang memikirkan jangka yang lebih panjang akan lebih efektif dalam mempertahankan hidup banyak orang serta ketahanan ekonomi masyarakat, ketimbang hanya sekadar sebuah peringatan yanng dikeluarkan beberapa menit sebelum tsunami,” katanya.

Mitigasi gempa dan tsunami harus dilakukan secara menyeluruh, antara lain menyiapkan pertahanan fisik alami meliputi terumbu karang, bukit-bukit pasir, hutan mengrove dan hutan pantai, maupun pertahanan fisik buatan seperti pemecah ombak, tembok laut, pintu air tanggul, shelter, rumah panggung, atau rumah evakuasi tahan bencana.

“Sementara, pertahanan non-fisik meliputi pembuatan peta rawan bencana, sistem peringatan dini, relokasi, pengaturan tata ruang, zonasi, tata guna lahan, serta penyadaran dan penyuluhan masyarakat,” tutupnya.

Tidak Ada Shelter, Warga Pilih Bukit

Saat dihubungi wartawan, Jumat (4/3), Zulharman, warga Siberut di Kepulauan Mentawai mengaku, sempat mengungsi ke dataran tinggi ketika terjadi gempa. Sejumlah warga memang merasakan trauma karena sebelumnya juga pernah terjadi gempa besar. Masyarakat hanya memanfaatkan perbukitan untuk mengungsi, sebab tidak ada shelter.

“Gempa terasa lebih dari dari lima menit, saat ini sebagian warga masih ada yang mengungsi ke dataran lebih tinggi,” ujarnya.

Begitu juga dengan Marjina, warga di Sikakap mengatakan, gempa terasa kuat, namun peringatan tsunami sempat membuat warga desa panik dan mereka menuju ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Gempa juga membuat warga ke luar rumah untuk mencari perlindungan.

“Kami merasakan getaran yang cukup kuat dan langsung berlari ke bukit. Tak ada tempat untuk menyelamatkan diri bagi kami di sini selain di perbukitan,” paparnya.

951 Jiwa Terancam Tsunami

Terpisah, Plt Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Zulfiatno mengatakan, masyarakat Sumbar yang terancam tsunami berjumlah 951 ribu jiwa, dan tersebar pada tujuh kabupaten dan kota di pesisir pantai. Untuk mengakomodasi masyarakat pesisir, dibutuhkan 211 shelter. Sementara, yang ada saat ini baru 37 shelter.

Selain evakuasi vertikal melalui shelter, masyarakat juga bisa menyelamatkan diri melalui evakuasi horizontal memanfaatkan jalur evakuasi. “Namun, dari 76 ruas jalur yang dibutuhkan, belum sampai setengahnya yang telah tersedia,” katanya.

Wali Kota Padang Mahyeldi Dt Marajo mengatakan, untuk penanggulangan bencana, Pemko merencanakan membangun tambahan shelter dan jalur evakuasi. “Untuk jalur evakuasi, kami menyiapkan Detail Engineering Design (DED) untuk 17 ruas jalan,” sebut Mahyeldi. (age)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional